Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 38. Kekhawatiran Keluarga.


__ADS_3

Calvin mencengkram ponselnya dengan kuat, dia lalu melirik ke arah pintu di mana Rere baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Dari mana saja kamu?" tanya Calvin dengan nada membentak membuat Rete tersentak kaget.


"Aku baru saja ambil pakaian di rumah, Mas. Sekalian beli makanan untuk kita." Rere menunjukkan barang-barang yang ada di tangannya. Kemudian dia meletakkannya di atas meja.


"Ya sudah, siapkan semuanya. Aku sudah sangat lapar."


Rere menganggukkan kepalanya kemudian menyiapkan makanan dan minuman untuk Calvin, lalu memberikan makanan pada laki-laki itu.


"Kapan kamu pulang dari rumah sakit, Mas? Aku sudah tidak tahan lagi berada di sini," ucap Rere sambil mengaduk-ngaduk makanan yang ada dipiringnya. Dia sama sekali tidak selera untuk makan.


"Yang sakit itu aku, kenapa jadi kau yang tidak betah?" tanya Calvin dengan tajam sambil menikmati makanan yang ada di di hadapannya.


Rere lalu menceritakan apa yang telah dia dengar dari orang-orang tadi. "Mereka mengejekku, Mas." Dia merasa kesal.


"Orang-orang nanti juga akan berhenti sendiri, Rere. Kau tenang saja."


Rere hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia lalu ikut menikmati makanan yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Pada saat yang, Zanna sedang berada di dalam kamar. Dia memperhatikan ruangan yang sangat luas dan megah itu, bahkan luas kamar itu hampir sama dengan luas rumahnya dulu.


Zanna berjalan menyusuri dinding sambil memperhatikan foto-foto yang tergantung di sana, dia tersenyum simpul saat melihat foto masa kecilnya.


"Ternyata mereka benar-benar keluargaku," gumamnya saat melihat foto-foto waktu dia masih bayi sampai menjadi gadis remaja yang kemungkinan itu foto terakhir sebelum dia menghilang.


Kemudian dia berjalan ke arah ranjang dan mendudukkan tubuhnya di sana, matanya lalu tidak sengaja melihat ke arah foto yang ada di atas meja membuat keningnya mengernyit.


Dengan cepat dia mengambil foto itu lalu memperhatikannya dengan seksama. "Siapa laki-laki ini? Apa dia salah satu saudaraku?" Terlihat dia sedang berpelukan dengan seorang lelaki di foto itu.


Tidak mau ambil pusing, Zanna kembali meletakkan foto itu dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Pada saat yang sama, Kakek Zaron dan keluarganya yang lain sedang berkumpul di ruang kerjanya kecuali Zavier, bahkan Naomi juga dipanggil ke dalam ruangan itu.


"Baik, Tuan besar." Naomi yang sudah menyuruh anak buahnya untuk mencaritahu tentang kehidupan Zanna langsung menceritakan semuanya. Mulai dari pekerjaan, teman, bahkan para mahasiswa yang pernah berhubungan dengan Zanna.


"Menurut penyelidikan saya, tidak ada yang mencurigakan, Tuan besar. Mereka semua hanya orang-orang biasa yang berhubungan karena pekerjaan juga lingkungan tempat tinggal, juga teman-teman sekolah yang dulu bersama dengan nona."


Mereka menganggukkan kepala dengan helaan napas lega. "Baguslah jika seperti itu, berarti tidak ada orang-orang berbahaya yang akan mengganggu Ella."

__ADS_1


"Kau benar, Zaydan. Tapi papa mau kau tetap pergi ke sana, dan bersihkan semua bekas peninggalan Ella. Papa tidak mau ada satu orang saja yang tahu masa lalunya di sana, dan papa juga mau kau mengurus laki-laki yang sudah menyakitinya itu," perintah kakek Zaron kemudian.


Zaydan menganggukkan kepalanya. "Lalu, bagaimana dengan Venzo, Pa? Naomi bilang laki-laki itu sudah tahu kalau Ella sudah kembali. Papa tau sendiri bagaimana dia, sejak dulu dia terobsesi pada Ella."


"Papa tahu. Tapi, saat ini Ella sedang mengandung. Papa tidak mau terjadi sesuatu dengan kandungannya, apalagi kalau sampai lak-laki itu tahu mengenai hal ini." Kakek Zaron merasa khawatir dengan keberadaan laki-laki bernama Venzo.


"Papa tidak perlu khawatir. Aku dan Noami pasti akan selalu berada di samping Ella dan melindunginya dari laki-laki itu, walau sebenarnya aku suka melihat wajah tampannya," seru Rosa membuat Zaydan menatapnya dengan tajam.


"Ya, dia memang tampan. Tapi sifatnya itu benar-benar diluar nalar, dan Ella pasti akan gila jika bersamanya." Kakek Zaron menghela napas frustasi.


"Tapi dia benar-benar mencintai Ella, Pa. Mungkin saja sekarang dia sudah berubah,"


"Berhenti membahasnya, Rosa." Zaydan semakin menajamkan pandangannya membuat Rosa langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


"Sudahlah, berhenti membahas tentang laki-laki itu. Lagi pula sudah lebih dari 10 tahun mereka berpisah, pasti Venzo sudah melupakan Ella."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2