Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 42. Pertunangan di Masa Kecil.


__ADS_3

Calvin dan Rere terlonjak kaget saat mendengar apa yang Zaydan katakan, sementara laki-laki itu sudah kembali ke kursinya.


"Di-dia pamannya Zanna? Apa, apa wanita itu sudah kembali pada keluarganya?" Calvin mulai merasa panik dan juga cemas.


"Sekarang keluarlah, aku sudah tidak ingin bicara apapun lagi dengan kalian," usir Zaydan sambil menunjuk ke arah pintu.


"Tu-tunggu sebentar, Tuan. Ada yang ingin saya-"


"Keluar!" bentak Zaydan membuat semua orang terlonjak kaget. Dia lalu melirik ke arah CEO dan juga sekretarisnya seolah menyuruh mereka untuk menyeret Calvin dan juga Rere keluar dari ruangan itu.


"Keluar kalian!"


"Tunggu sebentar, Tuan. Ada yang ingin saya bicarakan pada Tuan Zaydan," pinta Calvin, dia harus memperjelas siapa laki-laki itu yang sesungguhnya.


"Diam, Kau! Jangan terus menguji kesabaranku." Mereka lalu memaksa Calvin dan juga Rere sampai keluar dari ruangan itu.


Brak.


Calvin dan Rere mematung di tempat mereka dengan apa yang terjadi, sementara para karyawan lain yang ada di tempat itu kembali memperhatikan mereka.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Mas? Apakah kita harus mengemis dijalanan?" tanya Rere dengan terisak, dia tidak menyangka akan dipecat atau di turunkan pekerjaannya seperti ini.


Calvin sendiri masih terdiam dengan pikiran berfokus pada apa yang Zaydan katakan tadi. "Aku harus segera kembali untuk memeriksa Zanna, apakah dia benar-benar sudah pergi atau belum?" Dia harus segera kembali ke kota asalnya untuk melihat Zanna.


"Mas!" Rere menggoyangkan lengan Calvin membuat laki-laki itu tersentak kaget.


"Apa yang kau lakukan?" Calvin langsung menepis tangan Rere yang ada di lengannya, dia kesal karena wanita itu membuatnya terkejut.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita harus bekerja membersihkan perusahaan ini, hah?" Rere kembali bertanya membuat kepala Calvin langsung berdenyut sakit.


"Sudahlah, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik dari ini," ucap Calvin sambil mengajak Rere untuk kembali pulang, dia harus segera bersiap untuk menemui Zanna.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Zanna sudah selesai menemani Venzo makan. Mereka lalu duduk di pinggir pantai tepat di bawah pohon kelapa yang rindang.


"Jadi, em ... sebenarnya Anda ini siapa?" tanya Zanna membuka obrolan setelah beberapa saat terdiam di tempat itu.

__ADS_1


Zavier yang masih berada di sana memantau dari tempat lain yang berada tidak jauh dari mereka, sambil menunggu kedatangan kakek Zaron.


"Aku-" Venzo menjeda ucapannya karena bingung haruskah memberitahu wanita itu atau tidak, tetapi dia tidak mau lagi kehilangan Zanna jika tidak mengatakannya.


"Aku?" Zanna menatap laki-laki itu dengan tajam dan penuh tanda tanya.


"Aku adalah tunanganmu,"


"Apa?" Zanna memikik kaget membuat Venzo ikut terlonjak kaget, begitu juga dengan Zavier yang tampak sangat penasaran kenapa kakaknya bisa sampai terkejut seperti itu. "Apa kau bercanda?" Dia benar-benar tidak percaya.


Venzo menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku bercanda? Seminggu sebelum kau menghilang, kita sudah bertunangan." Dia menatap Zanna dengan senyum tipis.


"Tunggu, sebelum aku menghilang katanya? Bukankah aku masih berumur 12 tahun waktu itu?" Zanna merasa ada yang tidak benar di sini.


"Ba-bagaimana itu bisa terjadi? Bukankah saya masih kecil, untuk bertunangan dengan seseorang?"


Venzo tersenyum mendengar pertanyaan Zanna membuat wanita itu semakin bingung. "Tentu saja kita maish berumur belasan tahun. Kau 12 tahun, dan aku 15 tahun. Tapi, kita memang benar-benar sudah bertunangan. Tanya saja pada kakekmu."


Zanna terdiam mendengar ucapan Venzo. Jika apa yang laki-laki itu katakan benar, kenapa mereka harus bertunangan dalam usia yang masih sangat muda? "Bukankah ini melanggar hak asasi manusia? Kenapa mereka membiarkannya terjadi?"


Lamunan Zanna terpaksa berhenti saat mendengar apa yang Venzo ucapkan. "Maaf karena aku benar-benar tidak ingat, dan aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini." Dia mencoba untuk tersenyum manis.


"Baiklah. Aku tidak terlalu peduli apakah kau mengingatku atau tidak, yang penting kau sudah berada di sini sekarang. Dan kau sudah berada di sisiku."


Zanna hanya tersenyum saja untuk menanggapi ucapan Venzo. Untung saja laki-laki itu sangat tampan, itu sebabnya dia masih bisa menahan diri.


"Tunggu, kalau benar dia adalah tunanganku di masa lalu. Apa sekarang juga masih berlaku? Lalu, bagaimana dengan anakku?" Dia mengusap perutnya yang mulai terasa membuncit.


"Be-begini, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan pertunangan kita dulu,"


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang tidak kau sukai? Apa aku tidak tampan lagi? Apa-"


"Bu-bukan." Zanna mengibas-ngibaskan tangannya dengan panik. "Anda sangatlah tampan, bahkan saya tidak pernah melihat lelaki setampan Anda dimuka bumi ini."


"Benarkah?"

__ADS_1


Zanna langsung menganggukkan kepalanya karena apa yang dia katakan adalah kenyataan.


"Lalu, kenapa kau tidak mau? Apa kau ingin langsung menikah denganku? Aku akan segera menyiapkannya."


Zanna ingin sekali menyumpal mulut Venzo yang sejak tadi terus saja bicara, dan tidak membiarkannya untuk menjawab apa yang laki-laki itu tanyakan.


"Dengar, saya tidak ingin melanjutkan pertunangan bukan karena semua itu, tapi karena-"


"Ella!"


Zanna tidak bisa melanjutkan ucapanya saat mendengar suara panggilan seseorang, sontak dia langsung melihat ke arah belakang. Begitu juga dengan Venzo yang langsung memasang wajah dinginnya.


"Kakek?" Zanna beranjak bangun saat melihat keberadaan kakek Zaron, sementara Venzo masih duduk dikursinya. "Apa yang Kakek lakukan di sini?"


Kakek Zaron melirik ke arah Venzo sekilas, lalu kembali melihat ke arah Zanna. "Kakek hanya sedang lewat, lalu kakek menelpon Zavier dan menanyakan di mana keberadaan kalian. Itu sebabnya kakek datang ke sini."


Zanna mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Venzo tersenyum sinis karena tahu jika laki-laki tua itu sedang berbohong.


"Saya tidak menyangka jika Anda juga ada di sini, Tuan Venzo," sapa kakek Zaron membuat Venzo beranjak dari tempat duduknya.


"Tentu saja aku harus ada di sini, bukankah aku harus menemui calon istriku?"


Glek.


Kakek Zaron menelan salivenya dengan kasar, sementara Zanna menatap laki-laki itu dengan tidak percaya.


"Apa dia sudah memberitahu Ella tentang pertunangan mereka?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2