
Setelah nasib si*al yang menimpa Calvin dan juga Rere, saat ini mereka sedang berusaha untuk mencari pekerjaan. Mereka menghubungi orang-orang yang dulu mereka kenal dan bertanya apakah ada lowongan kerja yang harus mereka isi, tetapi semua jawabannya tidak ada.
"Kita harus mencari rumah sewa, Mas. Uang kita tidak cukup jika harus menginap di hotel terus," ucap Rere yang sedang duduk di atas ranjang. Sudah puluhan lowongan pekerjaan yang dia masukkan di berbagai perusahaan.
"Kau benar. Uang kita sudah sangat sedikit, apalagi digunakan untuk pesta semalam." Calvin mengusap wajahnya dengan kasar. "Lebih baik hari ini juga kita keluar."
Rere menganggukkan kepalanya dan segera membereskan semua barang-barang mereka, lalu dia teringat akan satu hal. "Atau kita kembali saja ke sana, Mas. Kan kamu punya apartemen."
Calvin menghela napas kasar saat mendengarnya. "Apartemen itu bukan milikku, aku hanya menyewa saja. Dan bulan depan sudah habis masa sewanya."
"Apa? Bukannya dulu kau mengatakan kalau apartemen itu milikmu?" Rere memekik kaget. Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa berbohong padanya?
"Apa kau pikir sekarang itu penting, hah?" bentak Calvin membuat Rere benar-benar tidak habis pikir ternyata selama ini laki-laki itu membohonginya.
Tidak mau lagi berdebat, Rere segera membereskan barang-barang mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah selesai, dia langsung keluar dari kamar itu tanpa memperdulikan suaminya.
"Cih. Sedikit-sedikit marah, memangnya sekarang apartemen itu penting?" Calvin mencebikkan bibirnya lalu mengikuti Rere untuk keluar dari kamar tersebut.
Kemudian mereka pergi dari tempat itu untuk mencari rumah sewa yang akan di tinggali, dan harus mencari yang tidak mahal karena saat ini keuangan mereka sangat gawat darurat.
Setelah mengunjungi beberapa tempat, akhirnya mereka mendapatkan rumah yang sesuai dengan keuangan mereka. Namun, Rere terlihat ogah sekali untuk masuk.
"Kau tunggu apa lagi? Ayo, masuk!" ajak Calvin yang sudah membuka pintu rumah itu.
"Kenapa rumahnya buruk seperti ini?" Rere bergidik ngeri saat melihat penampakan rumah yang sudah tua dan tidak terurusan, maklum saja karena sudah lama tidak ditempati.
"Cuma rumah ini yang bisa kita sewa, itu pun cuma 2 bulan. Kau pikir, kita punya banyak uang?"
Rere berdecak kesal mendengar apa yang Calvin ucapkan, lalu mau tidak mau dia terpaksa masuk ke dalam rumah yang cet nya pun sudah tidak berwarna lagi.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Ella sedang melakukan yoga bersama dengan Rosa di pinggir kolam renang. Olahraga yoga sangat bagus sekali untuk ibu hamil, bahkan Rosa memanggil tenaga profesional untuk membimbing mereka.
"Baiklah. Sekarang tarik napas dalam, lalu hembuskan secara perlahan. Fokuskan pikiran kita pada satu titik, dan terus lakukan secara berulang sampai mendapatkan ketenangan," ucap instruktur yoga tersebut.
__ADS_1
Ella dan Rosa mengikuti apa yang wanita itu ucapkan. Hembusan angin yang menerpa tubuh mereka semakin membuat suasana kian tenang dan juga damai.
Ella memfokuskan pikirannya sesuai dengan arahan yang diberikan, dan benerapa saat kemudian muncullah bayangan-bayangan seseorang yang ada dalam pikirannya.
"Cepat lari, Ella. Selamatkan dirimu,"
"Mama, Papa!"
"Larilah, Ella!"
Duar.
"Hah!" Ella tersentak kaget sampai tubuhnya mundur beberapa senti ke belakang membuat Rosa dan wanita yang ada bersamanya terlonjak kaget.
"Ada apa, Ella? Apa kau baik-baik saja?"
Napas Ella tersengal-sengal dengan wajah pucat. Dadanya bergemuruh karena ingatan yang beberapa saat lalu melintas dalam pikirannya, hingga membuat kepalanya kian pusing.
"Ella, apa yang terjadi?"
"Baik bagaimana, Ella? Wajahmu pucat sekali. Ayo, kita masuk saja. Bibi akan panggil Dokter untuk memeriksamu."
Ella menahan tangan Rosa yang sudah akan menarik tubuhnya. "Aku benar-benar tidak apa-apa, Bibi. Hanya saja ada potongan ingatan yang melintas dalam kepalaku, dan aku pikir itu adalah suatu ingatan di masa lalu."
"Benarkah?" Rosa tersenyum senang saat mendengarnya, dan dijawab dengan anggukan kepala Ella.
"Syukurlah, Ella. Bibi senang karena sedikit demi sedikit ingatanmu kembali. Tapi bibi mohon jangan dipaksa, ya. Itu semua bisa mempengaruhi kesehatanmu."
Ella menganggukkan kepalanya dengan senyum manis. "Aku mengerti, Bibi. Aku tidak akan membahayakan janin yang ada dalam kandunganku."
Akhirnya mereka menghentikan olahraga itu dan beranjak masuk ke dalam rumah. Ella segera masuk ke dalam kamarnya dan duduk di depan lemari kaca.
"Sebenarnya ingatan apa itu? Apa itu kejadian saat kami diserang?" Ella memikirkan ingatan yang melintas dalam pikirannya tadi. Lalu tiba-tiba terdengar bunyi ponsel membuatnya langsung mengambil benda pipih itu.
__ADS_1
"Halo, siapa ya?" Ternyata ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Ini aku, Ella. Apa yang sedang kau lakukan?"
Ella mengernyitkan keningnya saat mendengar apa yang laki-laki itu ucapkan, dia sama sekali tidak bisa mengenali suara siapa itu.
"Maaf, siapa ya?" Ella kembali bertanya.
"Aku Venzo, Ella. Apa kau tidak mengenali suaraku?"
"Maaf. Saya kan tidak pernah mendengar suara Anda dari telepon, Tuan. Itu sebabnya saya tidak tau," ucap Ella.
"Baiklah, itu bukan masalah besar. Tapi, bisakah hari ini kita bertemu? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
Ella diam sejenak untuk memikirkan ajakan laki-laki itu. "Apa aku terima aja ya, ajakan Venzo? Ada sesuatu juga yang harus aku bicarakan dengannya."
"Baiklah. Apa Anda akan datang ke sini?"
"Tentu saja. Satu jam lagi aku sampai, bersiaplah."
Panggilan itu lalu terputus setelah Ella mengiyakan apa yang Venzo inginkan, setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap pergi dengan laki-laki itu.
Pada saat yang sama, seorang lelaki tampak sedang duduk di sebuah pelabuhan. Terlihat beberapa orang sedang mengangkut sebuah kotak hitam yang diletakkan di hadapan lelaki tersebut, dan ada 3 kotak yang sudah terkumpul.
"Apa semuanya sudah lengkap?" tanya lelaki tersebut.
"Sudah, Tuan. Kita berhasil mendapatkan 2 jantung, dan juga 4 tubuh yang masih segar,"
"Baguslah. Aku sudah tidak sabar untuk membedahnya."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.