Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 11. Jatuh Pingsan.


__ADS_3

Zanna menangis tersedu-sedu di dalam lift untuk mengeluarkan rasa sesak yang sejak tadi memenuhi dadanya. Dia tidak ingin menangis seperti ini dihadapan orang lain, terutama suami dan juga wanita itu.


"Kenapa, kenapa, Calvin? Hiks, apa salahku sampai kau melakukan semua ini, huhuhu." Tangisan Zanna terdengar sangat menyayat hati. Entah dengan cara apa dia bisa menggambarkan bagaimana hancur dan kecewanya dia pada sang suami. Suami yang sangat dia cintai, ternyata tega menghancurkan hidup istrinya sendiri.


Ting.


Tiba-tiba pintu lift itu terbuka membuat Zanna beranjak bangun dan keluar dari sana dengan tertatih-tatih. Beberapa orang yang ada di tempat itu memandangnya dengan bingung, tetapi dia merasa tidak peduli dan terus melangkahkan kaki menuju mobilnya berada saat ini.


Rere dan Lasmi yang masih berada di taman tentu melihat keberadaan Zanna, begitu juga dengan Calvin yang berlari dari dalam apartemen.


"Sayang, aku mohon maafkan aku." Calvin kembali menarik tangan Zanna yang akan masuk ke dalam mobil membuat wanita itu terdiam. "Maafkan aku, aku mohon maafkan aku, Sayang. Tolong jangan tinggalkan aku." Dia terus memohon sampai tidak sadar kalau Rere dan Lasmi juga ada di tempat itu.


"Lepaskan aku, aku mau pulang!" Zanna mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu, tetapi tenaganya benar-benar terkuras habis sampai akhirnya dia jatuh pingsan.


"Ya Tuhan, Zanna!" Calvin memekik kaget dan langsung menahan tubuh Zanna dengan kedua tangannya.


Rere dan Lasmi yang melihat semua itu langsung mendekati mereka, membuat Calvin terkejut melihat kedua orang itu.


"Apa yang kau lakukan di sini, Re? Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk pergi," ucap Calvin dengan tajam.


"Bu-bukan itu yang terpenting sekarang, Mas. Kita harus segera membawa mbak Zanna ke rumah sakit."


Calvin menghembuskan napas kasar lalu mengangkat tubuh Zanna dan membawanya masuk ke dalam mobil, sementara Rere dan ibunya juga ikut bersama dengan mereka.


Calvin sudah tidak ada waktu untuk bertanya kenapa wanita itu naik ke mobil ini juga, dia segera melajukan mobil Zanna meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Calvin terus melirik ke arah Zanna dengan khawatir. Tidak biasanya istrinya itu sampai pingsan seperti ini, bahkan saat mendaki sebuah gunung sekali pun membuat perasaannya diselimuti ketakutan.


"Aku mohon jangan sampai terjadi sesuatu dengan istriku, Tuhan. Aku mohon."


Rere langsung melihat ke arah Calvin saat mendengar gumaman laki-laki itu. Mendadak dadanya menjadi sesak seperti dihantam besi panas saat melihat betapa khawatirnya laki-laki itu pada Zanna. "Kau bilang sudah tidak mencintainya, Mas. Tapi kenapa kau sangat mengkhawatirkannya?" Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang akan terjatuh.


Beberapa saat kemudian, sampailah mereka ke sebuah rumah sakit terdekat. Calvin segera keluar dari mobil dan bergegas menggendong Zanna, dia lalu masuk ke dalam rumah sakit itu dan berteriak memanggil Dokter.


Seorang Dokter dan beberapa perawat segera membaringkan tubuh Zanna ke atas banker, mereka lalu membawanya  ke dalam ruang UGD untuk melakukan pemeriksaan.


Calvin dan yang lainnya menunggu di depan ruangan itu, dia merasa benar-benar bersalah karena telah membuat Zanna sampai seperti ini.


"Mas!"


Calvin langsung memalingkan wajahnya ke arah samping saat mendengar panggilan Rere. "Aku mohon jangan bicara padaku, sekarang. Dan akan lebih baik jika kau pergi saja, Re."


Calvin mengusap wajahnya dengan kasar. Sepertinya dia harus memutuskan hubungannya dengan Rere saat ini juga." Maafkan aku, Re. Sepertinya aku tidak bisa menikahimu."


"A-apa?" Rere menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah tumpah. "Aku mohon jangan katakan itu, Mas. Aku mohon." Dia langsung menggenggam kedua tangan Calvin dengan erat.


Calvin terdiam saat melihat raut wajah Rere. Wajah itulah yang beberapa bulan terakhir selalu menemaninya, bahkan menghiburnya saat dia merasa lelah dengan pekerjaan.


"Maafkan aku, Re. Aku tidak bisa kehilangan Zanna," ucapnya dengan lemah membuat Rere mulai terisak.


"Mas bisa menikahiku tanpa harus kehilangan mbak Zanna, 'kan? Aku, aku tidak bisa hidup tanpa Mas."

__ADS_1


Lasmi mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Dia lalu menarik paksa tangan Rere membuat genggaman wanita itu terlepas.


"Lepaskan aku, Bu. Aku tidak bisa menerima semua ini, aku tidak bisa kehilangan mas Calvin,"


"Cukup, Rere!"


Suara teriakan Lasmi menggema ditempat itu membuat beberapa orang yang ada di sana langsung memperhatian mereka.


"Sadarlah, sadarlah, Rere." Lasmi mengguncang tubuh anaknya dengan kuat membuat Calvin menatap ke arah mereka. "Hentikan kegilaanmu ini, Rere. Ibu mohon!"


Rere menghempaskan tangan sang ibu dengan kasar. "Sekali saja, Bu. Sekali saja tolong bantu aku." Dia menangkupkan kedua tangan di depan dada membuat Lasmi terdiam.


"Sejak kecil, aku selalu kerja keras banting tulang untuk membahagiaan ibu dan juga ayah. Aku bahkan bekerja keras untuk menyekolahkan adik-adikku, aku tidak pernah sedikit pun mengeluh karena semua itu. Aku melupakan semua keinginanku dan hanya fokus pada kalian saja. Tapi sekarang, apa tidak bisa aku memikirkan keinginanku sendiri, hah?"


Lasmi terdiam saat mendengar apa yang Rere ucapkan, karena apa yang wanita itu katakan adalah benar. Namun, semua yang terjadi ini tidak ada sangkut pautnya dengan semua itu.


"Cuma sekali, cuma sekali aku menginginkan sesuatu dalam hidupku, Bu. Yaitu mas Calvin, dan aku tidak ingin yang lain," ucap Rere dengan tajam membuat Calvin dan lasmi menatap diam.


"Kalau memang ibu menyayangiku, seharusnya ibu mendukung apa yang aku inginkan."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2