Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 67. Menyelamatkan Adik Naomi.


__ADS_3

Setelah semua urusan selesai, Ella dan yang lainnya langsung kembali ke bandara dan pulang ke negara asal mereka. Tidak ada lagi urusan yang harus mereka lakukan di sana, itu sebabnya mereka memutuskan untuk langsung kembali.


Pada saat yang sama, Leo dan anak buahnya sedang memperhatikan apa anak buah Zaydan lakukan. Matanya menatap ke satu orang yang ada di sudut ruangan, dan memastikan bahwa itulah adik dari Naomi.


"Bagaimana?" tanya Leo saat salah satu anak buahnya kembali mendekat.


"Saat ini ada sekitar 15 orang yang berjaga, Tuan. Sementara laki-laki itu hanya ditugaskan di bagian depan. Mungkin kami bisa memancing mereka untuk beralih ke belakang."


Leo menganggukkan kepalanya. Target mereka saat ini adalah menculik salah satu anak buah Zaydan, lebih tepatnya adik Naomi dan bukannya menyerang mereka. Itu sebabnya Leo harus memastikan jika target mereka masuk jebakan, jika tidak habislah mereka semua.


"Baiklan. Pancing mereka ke arah samping, usahakan jauh dari pos penjagaan laki-laki itu. Aku sendiri yang akan bicara dengannya."


Keempat anak buah Leo mengangguk paham, mereka lalu pergi untuk melaksanakan apa yang sudah diperintah pada mereka.


Leo memang sengaja hanya membawa 4 anak buahnya. Jika terlalu banyak, maka mereka pasti akan susah untuk melarikan diri. Sudah pasti Zaydan akan mengejar mereka semua jika terjadi keributan.


"Tapi, di mana Zaydan? Kenapa dia tidak ada di sini?"


Sudah hampir satu jam mereka berada di tempat itu, tetapi Zaydan sama sekali tidak terlihat. Mungkin sore ini adalah keberuntungan mereka karena tidak perlu berhadapan dengan laki-laki itu.


Tiba-tiba, terdengar suara ledakan yang terdengar di samping sebuah rumah yang ditempati oleh anak buah Zaydan, tentu saja itu adalah hasil dari pekerjaan anak buah Leo.


Beberapa orang yang ada di tempat itu segera berlari untuk melihat apa yang terjadi, sementara Leo berlari ke arah seorang laki-laki yang terlihat sedang menolehkan kepalanya.


"Diam atau kau ku bunuh." Leo menodongkan pistol tepat ke dada seorang lelaki yang langsung berdiri kaku.

__ADS_1


Sementara yang lainnya masih sibuk memancing keributan, Leo segera membawa laki-laki itu masuk ke dalam mobil. Dia lalu membunyikan tembakan untuk memberi kode pada semua anak buahnya untuk mundur.


Laki-laki yang saat ini ada di dalam mobil bersama Leo terlihat mengulas senyum tipis. "Kenapa Tuan membawa saya?"


Leo yang sedang menyetir mobil melirik sekilas ke arah spion, lalu kembali melihat ke arah depan. "Kau tidak perlu tahu."


Laki-laki bernama Nolan itu kembali tersenyum membuat Leo menatap heran. "Anda akan menyesal jika membawa saya."


"Kenapa? Apa tuanmu sudah tahu jika kami ingin menculikmu?" Leo ikut tersenyum sinis.


"Tentu saja. Dia tahu semua hal yang ada di dunia ini."


"Benarkah? Berarti dia tahu juga, jika saat ini kakakmu ada bersama kami?"


Nolan terdiam. Mulut yang sejak tadi tersenyum sinis kini tampak dingin dan penuh kebencian membuat Leo semakin tersenyum lebar.


"Diam! Kau tidak tahu apapun, jadi jaga bicaramu sebelum aku hilang kendali." Nolan menatap Leo dengan tajam, dan ya dia tahu siapa laki-laki itu sebelumnya.


Ternyata Zaydan sudah curiga jika Venzo lah yang merusak semua rencananya, juga sampai berhubungan dengan polisi. Dia juga memikirkan langkah apa yang akan Venzo ambil jika memang laki-laki itulah yang sudah menganggunya, tentu semua itu berhubungan dengan Ella dan Ella saat ini sudah bertemu dengan Naomi.


Bisa saja Noami bergabung dengan mereka untuk mengkhianati Zaydan, itu sebabnya dia memasang jebakan dan sengaja menjadikan Nolan sebagai umpan.


"Sadarlah, Nolan. Laki-laki yang kau percayai itu telah mencuci otakmu," ucap Leo. Dia tahu jika Nolan selalu mengikuti ucapan Zaydan, bahkan laki-laki itu membenci Naomi karena termakan perkatan Zaydan.


Nolan diam dan melihat ke arah samping. Dia tidak mau mendengar apapun tentang sang tuan, dia juga tidak mau mendengar tentang kakaknya.

__ADS_1


"Setidaknya percaya pada dirimu sendiri dari pada orang lain." Leo kembali melirik ke arah laki-laki itu.


"Si*al. Jika dia tidak mau bekerja sama, maka aku akan meledakkan kepala bod*ohnya itu." Leo menjadi kesal sendiri.


Leo membawa mobilnya ke sebuah hutan yang ada di sekitar tempat itu, dia harus memberi menyadarkan Nolan terlebih dahulu sebelum kembali pada Venzo.


Setelah sampai di tempat tujuan, Leo segera menarik tubuh Nolan untuk keluar dari mobil dengan kasar.


"Buka matamu dan lihat lah ini!" Leo melemparkan beberapa berkas yang sudah dia siapkan tepat ke hadapan Nolan. "Selama ini kau menganggap Zaydan sebagai dewa, tapi laki-laki itu bahkan tidak pantas dianggap sebagai manusia. Bukan orang lain yang membunuh ayahmu, tapi Zaydan."


Deg.


Nolan menegang saat mendengar apa yang Leo ucapkan. Dengan cepat dia mengambil sebuah pistol yang ada disakunya dan menodongkannya tepat ke arah Leo. "Jaga ucapanmu, mulutmu tidak pantas untuk menghina tuanku."


"Aku salut dengan kesetiaanmu, Nolan. Tapi kau harus tau siapa orang yang kau layani. Silahkan saja jika kau mau menembakku, tapi lihatlah dulu apa yang aku berikan. Apa kau tidak tau, jika aku mempertaruhkan nyawa untuk mendapat informasi itu?"


Nolan kembali diam, dia melihat ke arah bawah di mana kertas-kertas pemberian laki-laki itu berada. Dengan perlahan dia mengambil kertas-kertas itu, lalu membacanya.


Sesaat kemudian Nolan mengoyak kertas-kertas itu. "Kau pikir aku akan percaya? Hah, matilah kau ditanganku."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2