
Semua orang terlonjak kaget dengan apa yang terjadi. Begitu juga dengan Naomi yang terpaksa menembak Zaydan saat laki-laki itu ingin menembak Venzo.
"Papa!" teriak Zavier saat melihat papanya tergeletak di atas tanah.
Venzo lalu memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Zavier, membuat laki-laki itu langsung berlari ke arah Zaydan.
"Papa, bangunlah."
Zavier menepuk-nepuk wajah Zaydan mencoba untuk menyadarkan sang papa, tetapi laki-laki itu tetap diam dengan kedua mata terpejam.
"Bangun, Pa. Aku mohon buka matamu, bangun!"
Zavier terus mencoba untuk membangunkan papanya sampai meraung-raung di tempat itu, karena sejak dulu dia memang paling dekat dengan Zaydan dari pada Rosa.
"Tolong, aku mohon tolong selamatkan papaku!"
Zavier berteriak ke arah semua orang sambil menatap mereka dengan tajam, dan tatapannya terhenti ke arah Venzo yang juga sedang menatapnya.
"Aku mohon selamatkan papaku, aku mohon!"
Ella dan Rosa kembali terisak saat melihat apa yang terjadi, sementara Venzo menyuruh beberapa anak buahnya untuk membawa Zaydan ke rumah sakit.
Zavier terus memegangi tangan papanya dan ikut masuk ke dalam mobil, sementara yang lainnya hanya memandang kepergian mobil itu.
"Aku, aku ingin menyusul mereka ke rumah sakit," ucap Rosa dengan lirih. Dia khawatir jika membiarkan Zavier bersama dengan Zaydan dalam keadaan seperti ini.
"Tentu saja, Bibi. Nanti aku dan Venzo akan menyusul Bibi." Via menganggukkan kepalanya membuat Rosa langsung memeluknya dengan erat, kemudian wanita itu berlari ke arah di mana mobil Zavier berada dan pergi dari tempat itu.
Venzo sendiri langsung menyerahkan kakek Zaron pada komandan Yuda. "Bawa di ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan kejahatannya. Jika kau melakukan kesalahan lagi, maka aku juga akan membuatmu membusuk di dalam penjara."
__ADS_1
Yuga langsung menganggukkan kepalanya, tentu dia tidak akan berani melawan Venzo apalagi sudah mendengar ancaman laki-laki itu.
Kakek Zaron menatap Ella dengan sendu. "Maafkan kakek, Ella. Kakek benar-benar menyesal atas apa yang terjadi pada kedua orang tuamu, maafkan kakek."
Ella memalingkan wajahnya sambil terisak. Perasaannya benar-benar hancur karena secara tidak langsung, kakeknya mengakui sudah membunuh kedua orang tuanya.
"Kenapa, kenapa kalian melakukan itu pada kedua orang tuaku? Kenapa kau tega membunuh darah dagingmu sendiri?" teriak Ella membuat Venzo langsung memeluknya dan mencoba untuk menenangkan.
"Kenapa kalian sangat kejam pada mereka, memangnya apa salah mama dan papaku, hah?" Suara Ella menggema di tempat itu dengan pilu. Wajahnya sudah memerah dan basah karena air mata.
Kakek Zaron menundukkan kepalanya. Sebenarnya dia juga tidak tahu mengenai penyerangan yang Zaydan lakukan, dan dia mengetahui semua itu saat Zean sudah mati.
"Kenapa kau diam, hah? Kenapa kau diam?" Ella mendorong tubuh Venzo dan langsung mendekati kakek Zaron. Dia mencengkram kerah kemeja laki-laki itu dengan kuat.
"Katakan padaku, kenapa kalian membunuh mama dan papaku, katakan!" Ella mengguncang tubuh kakek Zaron dengan emosi yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Maafkan kakek, Ella. Kakek juga sebenarnya tidak tahu soal penyerangan yang Zaydan lakukan, dan kakek mengetahuinya saat Zean sudah, sudah tiada,"
"Pembohong!"
Ella langsung menghempaskan tubuh kakek Zaron membuat laki-laki tua itu hampir terjungkal ke belakang, dan untungnya tidak sampai terjungkal.
"Aku tidak akan pernah memaafkan apa yang sudah kalian lakukan pada kedua orang tuaku, tidak akan pernah!" ucap Ella dengan penuh penekanan. "Membusuklah kalian di penjara!"
Ella lalu berbalik dan enggan untuk melihat ke arah sang kakek, membuat Venzo kembali memeluknya.
Kakek Zaron hanya bisa menangis untuk meratapi semuanya. Dia tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Baik untuk menyelamatkan diri, atau meminta pengampunan dari Ella.
Komandan Yuga lalu membawa kakek Zaron ke dalam mobil dan segera pergi meninggalkan tempat itu menuju kantor polisi.
__ADS_1
"Bereskan tempat ini, aku tidak mau tersisa sedikit pun jejak di sini!" perintah Venzo yang langsung diangguki oleh Leo. Dia lalu membawa Ella ke mobil Leo yang ada di ujung jalan.
Ella terdiam dengan pandangan lurus ke depan. Matanya tampak kosong dengan wajah pucat, dia benar-benar terlihat seperti seseorang yang baru saja dicabut nyawanya secara paksa.
"Ella, kau mendengarku?" Venzo menempelkan keningnya dengan kening Ella dan memegang kedua pipi wanita itu. "Dengarkan aku, Ella. Apapun yang terjadi, aku akan tetap berada di sisimu. Jadi aku mohon kuatlah, demi anakmu." Tangannya lalu turun ke perut Ella dan mengusapnya dengan lembut.
Ella mengerjapkan kedua matanya yang sejak tadi menatap tanpa berkedip, lalu air mata kembali menetes membuat Venzo langsung mengusapnya.
"Kenapa semua ini terjadi padaku, Venzo? Kenapa? Kenapa Tuhan sangat membenciku hingga menghancurkan keluarga dan hidupku seperti ini, kenapa? Huhuhu."
Ella menangis dengan tersedu-sedu membuat hati Venzo terasa seperti sedang disayat oleh ribuan pisau, dia lalu memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
"Tenanglah, Sayang. Semuanya sudah berakhir, tidak akan ada lagi yang mengganggumu atau pun menyakitimu. Ada aku di sini, hem."
Ella terus saja terisak meratapi hidupnya yang hancur berantakan, dia tidak mengerti kenapa Tuhan memberikan takdir seperti ini padanya.
"Sebenarnya apa salahku pada-Mu, Tuhan? Kenapa kau memberikan kehancuran dan penderitaan dalam hidupku?"
•
•
•
Tbc.
Mampir juga ke karta baruku ya 😍
__ADS_1