Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 44. Kepemilikan Rumah dan Tanah.


__ADS_3

Ella tersentak kaget saat mendengar apa yang Zavier katakan. "Apa, apa itu benar, Kek?" Dia lalu menatap ke arah sang kakek dengan tajam.


Kakek Zaron menghela napas kasar. "Itu benar. Tapi, kakek tidak punya pilihan lain saat itu, tidak ada yang bisa mengendalikan perusahaan lebih baik dari papamu. Dan kondisi perusahaan juga dalam keadaan krisis, itu sebabnya dia harus berada di perusahaan."


Ella menganggukkan kepalanya. "Aku mengerti, Kek. Jika demi kebaikan perusahaan, papa pasti tidak akan keberatan. Tapi, ke mana Paman? Sejak tadi pagi aku tidak melihatnya."


"Pamanmu sedang ada pekerjaan diluar kota, mungkin dalam beberapa hari baru kembali ke rumah," jawab kakek Zaron yang langsung diangguki oleh Ella. "Ya sudah. Kalau gitu kakek mau ke ruangan sebentar, kau bisa melihat-lihat ruangan ini dulu."


Ella kembali menganggukkan kepalanya membuat kakek Zaron beranjak keluar dari ruangan. Dia lalu berjalan ke arah sofa di mana Zavier berada.


"Zavier, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"


Zavier yang sedang sibuk dengan ponselnya beralih melihat ke arah sang kakak. "Tanya saja, Kak. Aku akan menjawab apapun yang Kakak tanyakan, apa Kakak mau bertanya soal tuan Venzo?"


Ella tersentak kaget saat mendengar ucapan Zavier, dia tidak menyangka jika laki-laki itu tahu apa yang ingin dia tanyakan.


"Kau seorang cenayang ya? Haha." Ella tergelak membuat Zavier mengernyit bingung.


"Kak, tuan Venzo itu orang yang berbahaya. Lebih baik kakak jangan dekat-dekat dengan dia," ucap Zavier sambil bergidik ngeri. Bagaimana tidak, dia pernah melihat Venzo menyiksa orang lain di depan mata kepalanya sendiri.


"Kakak enggak pernah kok, dekat-dekat dia. Kan, dia yang deketin kakak,"


"Itu sama aja namanya. Kakak enggak tahu gimana seramnya dia, hih. Pokoknya dilarang dekat-dekat dia deh." Zavier mengibas-ngibaskan tangannya.


"Tapi, kenapa kakak bisa sampai bertunangan dengan dia? Kakek juga kelihatannya tidak suka dengannya, tapi kenapa kakak malah berhubungan dengan dia?" tanya Ella dengan menggebu-gebu membuat Zavier pusing.


"Aku tidak tahu, Kak. Aku cuma tahu kalau dulu Kakak dan dia itu dekat, makanya bisa sampai tunangan. Selebihnya aku tidak tahu." Zavier menggelengkan kepalanya membuat Ella berdecak kesal.


Pada saat yang sama, Calvin dan juga Rere sudah kembali ke kota di mana mereka berasal dan berhenti tepat dirumah Zanna dulu. Mereka segera turun dari mobil untuk segera masuk ke dalam rumah tersebut.


"Kau berat sekali sih, Mas. Aku capek harus selalu mengurusmu," keluh Rere saat memindahkan tubuh Calvin ke kursi roda.

__ADS_1


"Apa, capek kau bilang? Aku seperti ini juga karena kau, coba waktu itu kau tidak memaksa untuk menikah. Kita pasti tidak akan jadi seperti ini," ucap Calvin dengan kesal.


"Kok jadi nyalahin aku sih, ini kan karena wanita itu,"


"Sudah diam!" Calvin menatap Rere dengan tajam membuat wanita itu membuang muka kesal. Kemudian mereka berjalan ke arah rumah di mana pintunya tampak terbuka sedikit.


Dengan cepat Calvin dan Rere masuk ke dalam rumah tersebut dan terkejut saat melihat ada 3 orang anak kecil bermain di ruang tengah.


"Siapa, siapa kalian?" teriak Calvin membuat ketiga anak itu terjingkat kaget.


Mereka segera berlari dari ruangan itu sambil menangis menuju dapur untuk menemui ibu mereka yang sedang memasak.


"Siapa mereka, Mas? Kenapa ada di rumah kita?" tanya Rere dengan tajam sambil memperhatikan ruangan yang berantakan itu.


Seorang wanita paruh baya yang melihat anak-anaknya menangis segera berjalan keluar dapur untuk melihat siapa yang datang.


"Loh, Pak Calvin?" wanita paruh baya bertubuh gempal itu tersenyum saat melihat suami dari pemilik rumah yang dia tempati.


"Maaf, Pak. Buk Zanna sudah memberikan rumah ini pada saya,"


"Apa?" Calvin dan juga Rere terlonjak kaget saat mendengarnya. "Bagaimana mungkin dia melakukan itu? Ini rumahku!"


Wanita paruh baya itu kemudian mengatakan jika semua surat kepemilikan rumah beserta tanah sudah menjadi miliknya, dan Zanna sendirilah yang memberikan semua itu padanya.


"Tidak. Itu semua tidak bisa. Akulah pemilik dari rumah ini, tidak ada satu orang pun yang berhak mengambilnya," teriak Calvin dengan penuh penekanan.


Dia lalu mengusir wanita paruh baya itu beserta anak-anaknya keluar dari rumah, membuat tetangga sekitar keluar saat mendengar suara keributan.


"Lepaskan aku. Rumah ini benar-benar milikku, Buk Zanna sendiri yang sudah memberikannya." Dia memberontak saat di pegang oleh Rere membuat tubuh Rere tersungkur di atas lantai.


"Mas!" teriak Rere yang kesakitan karena mencium lantai. Kekuataannya tidak mampu untuk menandingi tubuh gempal wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Pergi dari rumahku sekarang juga!" teriak Calvin lagi membuat orang-orang mendekati mereka.


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanya Pak RT yang kebetulan rumahnya berada tepat di depan rumah itu.


"Cepat bawa wanita gila itu pergi dari rumahku!" Calvin menunjuk ke arah wanita paruh baya itu.


"Maaf, Pak Calvin. Anda tidak bisa mengusir Buk Siti dari rumah ini, karena dialah pemilik sahnya,"


"Diam! Apa kalian pikir bisa membod*ohiku, hah? Ini adalah rumahku dan Zanna," ucap Calvin dengan keukeh.


"Itu benar, Pak. Tapi rumah dan tanahnya atas nama Buk Zanna, dan dia sudah menggantinya dan memberikannya pada Buk Siti,"


"Apa? Itu tidak mungkin!"


Siti lalu berlari ke dalam rumah untuk mengambil surat-suratnya, dan menunjukkannya pada mereka.


Calvin dan Rere tercengang saat melihat surat kepemilikan yang benar-benar atas nama Siti.


"Tidak, ini tidak mungkin. Aku adalah suaminya, dan aku lebih berhak untuk rumah ini,"


"Jika Anda tidak percaya, silahkan selesaikan masalah ini di pengadilan, Pak Calvin. Dan jika Anda masih membuat keributan, maka saya akan melaporkannya pada polisi."


Calvin mengepalkan tangannya dengan erat. Dia tidak menyangka jika Zanna melakukan semua ini di belakangnya. "Si*alan. Beraninya kau melakukan semua ini padaku, Zanna. Lihat saja, aku akan menemukanmu dan mengambil kembali apa yang menjadi hakku."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2