
Rere menangis tersedu-sedu dengan apa yang orang-orang katakan, dia juga menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal sampai tidak sengaja menendang kaleng minuman dan mengenai kepala seseorang.
"Sh*it! Siapa yang sudah melempar kepalaku?"
Rere tersentak kaget saat mendengar suara seseorang, lalu tampaklah seorang lelaki paruh baya berdiri tepat di hadapannya.
"Apa kau yang sudah melempar kaleng itu ke kepalaku?" Laki-laki paruh baya itu menatap Rere dengan tajam.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Saya, saya tidak sengaja." Rere menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan takut.
Laki-laki paruh baya itu memperhatikan Rere dari atas sampai bawah, dan terus seperti itu sampai Rere merasa risih.
"Baiklah, aku memaafkanmu."
Rere menghela napas lega saat mendengarnya. "Ka-kalau gitu saya permisi dulu, Tuan." Rere yang akan beranjak pergi tersentak kaget karena tangannya di cekal oleh lelaki paruh baya itu.
"Ah, maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud untuk memegang Anda, saya hanya khawatir karena melihat Anda menangis," ucap laki-laki paruh baya itu yang berusia sekitar 50 an tahun.
"Ti-tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya sedang ada masalah rumah tangga saja, kalau gitu saya permisi." Rere ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.
"Baiklah. Kalau begitu-" laki-laki paruh baya itu menjeda ucapannya untuk mengambil sesuatu di dalam saku jas. "Ini kartu nama saya, hubungi kapan saja jika Anda butuh bantuan atau teman curhat." Dia memberikan sebuah kartu nama pada Rere.
Rere menerima kartu nama itu dengan bingung, lalu laki-laki itu segera berbalik dan pergi dari tempat itu.
"Brama Lexio." Rere membaca nama yang tertera dikartu nama itu. "Untuk apa dia memberikan kartu namanya padaku?" Dia mengeryit heran. Kemudian memasukkan kartu nama itu ke dalam tas dan berlalu pergi membeli minuman.
Sementara itu, pesawat yang Zanna naiki sudah sampai di tempat tujuan. Mereka segera turun dari sana, dan berlalu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Kotanya indah sekali, Naomi," seru Zanna sambil memperhatikan jalanan melalui jendela mobil.
Naomi tersenyum saat mendengarnya. "Tentu saja, Nona. Keluarga Anda banyak membantu untuk pembangunan kota ini, hingga tampak sangat cantik dan mempesona."
Zanna tercengang dengan apa yang Noami katakan. Memangnya siapa sih keluarganya itu, sampai bisa membuat kota jadi seperti ini?
__ADS_1
"Memangnya ayahku presiden ya, Naomi?"
Naomi langsung tergelak saat mendengar pertanyaan Zanna, begitu juga dengan supir yang tampak sedang menahan tawanya.
"Cih, kenapa kalian tertawa?" Dia membuang muka sebal.
"Maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja tertawa." Naomi langsung menghentikan tawanya walaupun harus menahannya sekuat tenaga.
"Ayah bukan presiden ya? Lalu apa dong?" tanya Zanna kembali dengan polosnya.
"Tuan Zean adalah pemimpin dari perusahaan ZG Group, Nona. Perusahaan nomor satu di negara ini, dan banyak menyumbangkan dana untuk pembangunan kota serta daerah-daerah terpencil."
Zanna mengangguk-anggukkan kepalanya. Akan tetapi, mungkinkah orang kaya seperti itu benar-benar ayah kandungnya? Rasanya sangat tidak pantas sekali.
"Dan nantinya Nona yang akan memimpin perusahaan tersebut,"
"Apa?" Zanna terlonjak kaget dengan apa yang Naomi katakan. "Ja-jangan mengatakan hal yang menyeramkan seperti itu, Naomi. Aku memang seorang dosen untuk mata kuliah binis, tapi bukan berarti aku bisa memimpin sebuah perusahaan. Aku tidak akan sanggup." Belum apa-apa Zanna sudah mengibarkan bendera putih tanda menyerah.
"Anda pasti bisa, Nona. Tuan Zay dan tuan besar akan melatih dan mengajari Anda, juga ada beberapa orang lainnya yang akan membantu,"
"Anda memang tidak berminat, Nona. Tapi tuan besar pasti akan memaksa Anda, dan juga tuan Zay. Semoga Anda menjadi kuat nantinya, dan saya juga akan mendampingi Anda." Naomi memang bekerja di bawah perintah Zay, tetapi dia akan meminta pada tuannya itu untuk melayani Zanna.
Beberapa saat kemudian, mobil itu memasuki sebuah gerbang besar yang menampakkan rumah mewah nan megah bak istana di negeri dongeng.
Mata Zanna membulat sempurna saat melihat penampakan rumah itu, dia tidak menyangka ada rumah semegah dan semewah itu di dunia ini.
"Mari, Nona."
Zanna menganggukkan kepalanya dan segera turun dari mobil, matanya tidak lepas untuk memperhatikan sekitaran rumah.
"Selamat datang, Nona muda."
Zanna tersentak kaget saat melihat ada banyak orang yang sedang berbaris di hadapannya, dan saat ini sedang menundukkan tubuh mereka.
__ADS_1
"Te-terima kasih." Zanna bisa melihat dari penampilan mereka bahwa mereka adalah seorang pelayan.
"Kakak!" Tiba-tiba ada seorang lelaki yang berlari ke arah Zanna dan langsung memeluk tubuhnya dengan erat.
"Astaga, mati lah aku." Zanna merasa sesak dan lemas secara bersamaan.
"Aku sangat merindukanmu, Kak. Kenapa Kakak baru datang sekarang?"
"Siapa saja, tolong lepaskan pelukan laki-laki ini dari tubuhku." Ingin sekali Zanna berteriak, tetapi suaranya tak kunjung keluar.
"Maaf, Tuan muda. Nona tidak bisa bernapas jika Anda memeluknya dengan erat seperti itu."
Laki-laki itu lalu melepaskan pelukannya membuat Zanna bisa kembali bernapas.
"Kakak, aku sangat merindukanmu," ucap laki-laki itu kembali.
Zanna menatapnya dengan heran. "Siapa sebenarnya laki-laki ini? Apa dia adikku? Dan kenapa dia menatapku dengan mata berbinar-binar seperti itu?"
"Aku sudah lama menunggu Kakak, tapi kenapa Kakak baru pulang sekarang?" Laki-laki itu menatap Zanna dengan sendu.
"Ma-maaf, Kakak, kakak sedang-"
"Jangan mengganggu kakakmu, Zavier!"
Ucapan Zanna terpaksa berhenti saat mendengar suara seseorang, sontak dia melihat lurus ke depan di mana seorang laki-laki sedang berjalan ke arah mereka.
Zavier langsung cemberut saat melihat kedatangan ayahnya, sementara Zanna menatap laki-laki yang saat ini sudah berdiri di hadapannya dengan penuh tanda tanya.
"Selamat datang di rumah kita, El- maksudku Zanna. Aku adalah pamanmu, adik dari ayahmu."
•
•
__ADS_1
•
Tbc.