
Mendengar suara Ella, Rosa langsung cepat-cepat menurunkan lengan bajunya. "Oh, ini? Bibi tidak sengaja jatuh, jadi sampai lebam seperti ini. Kau juga harus berhati-hati ya, Ella."
Ella mengernyitkan keningnya saat mendengar apa yang Rosa katakan. "Bibi, aku bukan anak berumur 12 tahun lagi yang bisa Bibi tipu. Aku sudah berumur 26 tahun, dan aku tahu benar jika memar itu bukan karena terjatuh." Dia menatap bibinya dengan tajam.
Rosa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Bibi benar-benar terjatuh, kok. Kalau tidak percaya, coba perhatikan." Dia kembali menggulung lengan bajunya yang dibagian kiri, di mana terdapat luka lebam bekas menghantam pinggiran meja.
Ella hanya diam sambil melihat luka lebam itu. Ya, dia tahu jika itu disebabkan karena benturan. Namun, tidak dengan yang lainnya. Memangnya dia bod*oh, hingga tidak bisa melihat perbedaan semua itu?
"Apa paman mengetahuinya?" tanya Ella dengan tajam.
"Tentu saja, Sayang. Dan pamanmu itu sangat marah, habis bibi diceramahin seharian." Rosa beranjak dari tempat itu. "Sekarang ayo kita pulang, nanti keburu malam!"
Ella menganggukkan kepalanya dan ikut beranjak pergi dari tempat itu. Mau tidak mau dia harus menutup mulutnya untuk saat ini, karena jika bertanya pun, Rosa pasti akan tetap menghindar.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tahu benar bekas lebam yang ada di tangan bibi itu karena terkena sesuatu, tapi bukan karena terbentur. Sayatannya sangat berbeda sekali, itu seperti terkena ... ikat pinggang. Ya ya, ikat pinggang. Tapi, siapa yang melakukannya?"
Sepanjang perjalanan pulang, Ella terus saja memikirkan apa yang terjadi dengan Rosa. Tangannya pura-pura memegang ponsel, tetapi tidak dengan pikirannya yang sedang berselancar memikirkan kemungkinan yang terjadi.
"Bibi tidak pernah keluar rumah dan hanya menghabiskan waktu di rumah saja, jadi tidak mungkin orang lain yang melakukannya. Apa jangan-jangan, ini perbuatan paman?" Ella menggelengkan kepalanya, mungkin dia terlalu banyak berpikir hingga menuduh pamannya sendiri. Namun, semua ini sangat mencurigakan sekali.
Sesampainya di rumah, Ella langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Lalu pikirannya kembali tertuju pada sang Bibi. "Apa aku tanya pada paman saja? Tidak, tidak. Itu tidak boleh." Dia mengusap wajahnya.
Sudah berhari-hari dia menyelidiki sesuatu di rumah ini yang mungkin berkaitan dengan kedua orang tuanya, tetapi dia tidak mendapatkan hasil apapun.
Tidak mau semakin pusing, Ella memutuskan untuk istirahat sejenak sambil menunggu waktu makan malam yang sebentar lagi akan tiba.
Sementara itu, di tempat lain Venzo terlihat sedang uring-uringan. Sudah berhari-hari dia tidak mendengar atau pun bertemu dengan Ella, dan rasanya sungguh sangat mengesalkan sekali.
"Cih. Sebenarnya apa yang di sembuyikan oleh pamannya itu? Kenapa aku tidak bisa menembus benteng kekuasaannya?" Venzo merasa kesal sendiri. "Tapi, semua ini semakin membuatku curiga. Sepertinya ada sesuatu hal yang sedang dia lakukan, dan sesuatu itu dia sembunyikan dari semua orang."
__ADS_1
Venzo sudah berusaha untuk kembali menyelidiki kejadian yang menewaskan kedua orangtua Ella, dia bahkan rela pergi ke wilayah timur. Namun, hasilnya tetap nihil. Dia hanya tahu jika Zaydan pernah berhubungan dengan salah satu keturunan dari musuh mereka, dan setelahnya terjadi serangan pada Ella dan kedua orang tuanya.
Tidak bisa lagi membendung rasa rindunya, Venzo memutuskan untuk pergi menemui Ella. Terserahlah jika wanita itu akan mengamuk, dia hanya perlu menunjukkan bukti tentang Zaydan beberapa tahun yang lalu.
Venzo segera menyambar jaketnya dan mengambil kunci motor yang ada di atas meja, dia ingin menggunakan motor kesayangannya yang sudah lama tidak digunakan.
Pada saat akan memasuki gerbang rumah Ella, Venzo tidak sengaja melihat mobil Zaydan keluar dari kawasan rumah membuat dia menghentikan laju sepeda motornya.
"Itu bukannya mobil Zaydan? Mau ke mana dia malam-malam begini?" Venzo menggelengkan kepala karena semua itu bukanlah urusannya. Namun, entah kenapa dia merasa sangat penasaran sekali dan ingin mengikuti laki-laki itu.
Venzo kembali menyalakan motornya dan memutuskan untuk mengikuti Zaydan. Feelingnya terasa sangat kuat jika laki-laki itu ingin melakukan sesuatu, hingga dia melupakan rasa rindunya pada Ella.
Venzo terus mengikuti mobil Zaydan sampai mereka tiba di pelabuhan, dia lalu memarkirkan motornya dan memutuskan untuk mengamati sekitaran tempat di mana anak buah laki-laki itu sedang berjaga.
Dengan mengendap-ngendap, Venzo berhasil mendekati Zaydan yang sedang duduk sambil melihat ponselnya. Lalu tidak berselang lama, datanglah beberapa anak buah laki-laki itu.
"Saya sudah menyelesaikan semua keinginan Anda, Tuan. Bisakah sekarang saya melayani nona Ella?" Naomi menundukkan kepalanya di hadapan Zaydan.
Ya, sudah hampir dua bulan Naomi terpaksa bekerja di luar negeri untuk menjalankan perintah Zaydan jika dia ingin bersama dengan Ella.
"Baik, pergilah. Aku tidak tau kenapa kau ingin melayani Ella, tapi bagus juga kau ada di sampingnya. Pastikan dia tidak melakukan sesuatu yang membuatku susah, sama seperti orang tuanya dulu."
Deg.
Venzo terkejut saat Zaydan mengungkit tentang kedua orang tua Ella, dia lalu berusaha untuk kembali fokus pada laki-laki itu.
"Hah, kakakku yang malang. Padahal aku sangat menyayanginya, tapi kenapa dia harus menentangku?"
Brak.
__ADS_1
Zaydan melempar ponselnya sendiri hingga hancur berantakan. "Aku sangat kehilangannya." Dia merasa sangat sedih. "Tapi, semua itu karena kesalahannya sendiri." Dia lalu menyeringai sambil mengeluarkan air mata.
Naomi mengepalkan kedua tangannya penuh kemarahan. "Dasar psikopat. Aku tidak menyangka dia tega melakukan hal seperti itu pada mereka."
Sejak menjalankan misi dari Zaydan, Naomi jadi mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya dia ketahui.
"Sekarang pergilah. Tapi jangan lupa, Naomi. Adikmu masih berada di tanganku, dan sepertinya dia suka dengan apa yang aku perintahkan."
Naomi semakin mengepalkan tangannya dengan kuat. "Laki-laki bajing*an." Dia lalu mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi dari tempat itu.
Venzo masih setia berada di tempat itu, dan tentu saja dia mendengar semua yang Zaydan katakan. "Ternyata dugaanku benar, Zaydan. Kau adalah dalang dibalik kematian kedua orang tua Ella. Lihat saja, aku pasti akan membongkar kebusukanmu."
Tiba-tiba seekor kucing melompat dari atap bangunan yang ada di atas Venzo, membuat beberapa drum yang menutupi tubuhnya menggelinding hingga ada anak buah Zaydan yang melihatnya.
"Hey, siapa kau?" teriak laki-laki itu membuat Zaydan melihat ke arah Venzo.
"Sial." Venzo segera berguling dan merayap untuk pergi dari tempat itu, agar Zaydan tidak mengetahui keberadaannya.
Zaydan yang melihat seseorang sedang melarikan diri tentu langsung murka. "Cepat tangkap dia!"
Semua anak buah Zaydan bergerak untuk menangkap Venzo yang sudah berlari ke arah di mana motornya berada.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1