
Anak buah Venzo yang membawa Zaydan sudah sampai di rumah sakit. Para petugas medis segera membawa Zaydan ke ruang IGD untuk melakukan pemeriksaan, sekaligus menyiapkan ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di lengan dan perut laki-laki itu.
Zavier duduk di depan ruang IGD dengan khawatir. Dia berdo'a semoga tidak terjadi sesuatu dengan papanya, dan agar sang papa bisa selamat.
Tidak berselang lama, Rosa juga sampai di tempat itu dan duduk di samping Zavier. Dia menatap putranya itu dengan sedih, dia tahu jika Zavier pasti sangat terpukul dengan apa yang terjadi hari ini.
"Nak, apa kau tidak-"
"Kenapa kalian tidak pernah memberitahuku?"
Rosa terdiam saat mendengar apa yang Zavier katakan, sementara laki-laki itu menatapnya dengan tajam.
"Bagaimana mungkin kami bisa memberitahumu tentang semua itu, Nak?" Rosa menatap putranya itu dengan sendu. Tentu saja mereka tidak tega menceritakan siapa Zaydan yang sebenarnya pada Zavier.
Zavier terdiam. Semua begitu mengejutkan untuknya, bahkan batinnya menolak semua kebenaran yang mereka ucapkan tentang perbuatan papanya.
"Aku tanya sekali lagi. Benarkah papa seorang psik*opat yang sudah membunuh banyak orang? Dan, dan papa juga yang sudah membunuh paman Zean dan bibi Hana?"
Rosa meneteskan air matanya sambil menganggukkan kepala. "Itu benar, Nak. Semua itu perbuatan papamu."
"Jadi kenapa kalian tidak mengatakannya padaku, hah?" Zavier menatap mamanya dengan tajam. Air mata menetes dari kedua matanya membuat Rosa terisak. "Kenapa hanya aku yang tidak mengetahui siapa papaku yang sebenarnya, kenapa?"
Rosa langsung memeluk tubuh Zavier dengan erat membuat putranya itu semakin memberontak. "Maafkan mama, Nak. Maafkan mama."
"Kenapa Mama tidak pernah memberitahuku?" Zavier melerai pelukan mamanya lalu kembali menatap tajam. "Apa Mama tahu, selama ini aku selalu membanggakan papa di hadapan semua teman-temanku. Bahkan mereka juga bangga karena aku punya papa yang hebat. Tapi apa, apa yang terjadi sekarang? Papa yang selama ini aku banggakan adalah seorang penjahat."
__ADS_1
Zavier benar-benar sangat terpukul. Dia menundukkan kepalanya dengan terisak. Jiwanya hancur, hatinya juga terluka. Lalu, kenapa semua ini bisa terjadi?
"Kami tidak memberitahumu karena takut nyawamu terancam, Nak. Dia, dia akan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya," ucap Rosa dengan lirih dan bergetar membuat Zavier melihat ke arahnya.
"Membunuh? Dia juga akan membunuhku, anaknya sendiri?" tanya Zavier dengan tidak percaya.
Rosa menganggukkan kepalanya lalu menceritakan kejadian di masa lalu, di mana Zaydan akan melenyapkan Zavier saat Rosa ketahuan melarikan diri.
Zavier tercengang mendengar cerita sang mama. Matanya membulat dengan mulut terbuka, lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan kata-kata. Bahkan dadanya terasa sesak seperti napas tercekat di tenggorokan.
"Dengarkan mama, Nak. Apapun yang papamu lakukan, semua itu tidak ada hubungannya denganmu. Jadi biarkan dia mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, dan kau juga tidak perlu mendengarkan apa kata orang nantinya."
Zavier lalu memeluk tubuh mamanya dengan erat. Sungguh dia tidak pernah menduga jika papanya adalah seorang monster. Monster yang hidup dengan topeng malaikat.
Beberapa Dokter yang memeriksa Zaydan lalu keluar dari ruang IGD dan memberitahukan mereka jika operasi akan segera di lakukan.
Sementara itu, Venzo dan juga Ella baru saja sampai di rumah sakit. Sebenarnya Venzo melarang Ella untuk datang ke tempat itu, dan menyuruh wanita itu untuk istirahat. Namun, Ella ingin menemui Rosa dan juga Zavier.
Tangisan Zavier pecah saat melihat kedatangan Ella. Dia memeluk kakaknya itu dengan erat sambil mengucapkan kata maaf. Dia merasa bersalah karena papanya lah yang telah membunuh kedua orang tua wanita itu.
"Jangan meminta maaf, Zavier. Bukan kau yang melakukannya, dan tidak sepantasnya kau melakukan itu untuknya."
Zavier mengangguk, lalu kembali diam dengan wajah sembab dan mata yang membengkak. Dia juga meminta maaf pada Venzo atas apa yang sudah dia lakukan.
****
__ADS_1
Operasi Zaydan memakan waktu sampai 4 jam lamanya, membuat Venzo menyewa satu ruang perawatan VVIP agar Ella bisa istirahat. Persis seperti berada di hotel.
"Tidurlah sebentar saja, Ella. Tubuhmu sudah sangat lelah."
Ella menganggukkan kepalanya. Saat ini mereka berdua sudah berbaring di atas ranjang dengan saling memeluk erat.
Beberapa saat kemudian, operasi sudah selesai dilaksanakan dan Dokter keluar untuk menemui keluarga pasien.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Rosa.
"Operasinya berjalan lancar, Nyonya. Tapi keadaan pasien masih kritis, kami akan selalu memantaunya dan semoga kondisi pasien bisa membaik."
Rosa dan Zavier menganggukkan kepala mereka, kemudian berlalu ke ruangan yang ditempati Venzo dan juga Ella. Apalagi Zaydan belum bisa dijenguk oleh siapapun.
Mereka tersenyum saat melihat Venzo dan Ella sedang terlelap di atas ranjang. Lalu mereka merebahkan diri disofa yang ada di ruangan itu.
Berita penangkapan kakek Zaron mulai tersebar di kalangan kepolisian. Para polisi segera menyelidiki semua yang terjadi sekaligus mencari bukti-bukti, agar bisa menjerat laki-laki tua itu.
Komandan Yuga juga sudah melaporkan tentang kejahatan yang Zaydan lakukan, dan mereka bersiap untuk melakukan penangkapan terhadap semua orang yang terlibat dalam kasus itu.
Apalagi ini adalah kasus besar tentang perdagangan organ tubuh manusia, juga kasus pembunuhan terhadap putra sulung keluarga Geraldino yaitu Zean beserta dengan sang istri.
•
•
__ADS_1
•
Tbc.