Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 75. Kemarahan Semua Orang.


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak kejadian di mana terungkapnya semua kejahatan yang telah keluarga Geraldino lakukan. Tentu berita tentang penangkapan kakek Zaron dan juga Zaydan menjadi trending topik di kalangan masyarakat, bahkan para pemerintahan sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada keluarga terkaya di kota itu.


Apalagi saat mengetahui tentang kasus yang menjerat mereka, membuat siapa saja merasa takut bahkan mengumpat kesal dan mencaci maki atas apa yang telah mereka lakukan.


Saat ini Zaydan belum juga sadar dari komanya, tetapi dia sudah berhasil melewati masa krisis dan keadaannya mulai kembali stabil.


Setiap hari Zavier datang dan menemani sang papa. Hari-hari dia jalani dengan sangat berat. Semua teman yang ada di lingkungan kampus maupun lingkungan tempat tinggal, terus membahas masalah yang terjadi dalam keluarganya.


Tidak jarang mereka menghina bahkan mengumpatnya atas apa yang sudah Zaydan lakukan, membuat Zavier merasa geram. Namun, dia tidak mengeluarkan sepatah katapun dan memutuskan untuk mengajukan cuti kuliah pada saat ajaran baru mendatang.


"Apa hari ini Papa tidak ingin bangun juga? Apa papa tidak tau apa yang saat ini sedang aku rasakan?" ucap Zavier dengan lirih. Matanya menatap sang papa dengan berkaca-kaca.


Rosa yang selalu menemani Zavier menatap putranya itu dengan sendu. Memang Zavier sudah berusia 20 tahun, tetapi tetap saja jiwa laki-laki itu pasti terguncang dengan apa yang terjadi.


Apalagi dia mendengar dari teman baik Zavier bahwa banyak orang yang mengolok-olok putranya itu, bahkan mengucapkan kata-kata kasar atas apa yang sudah Zaydan lakukan. Semua orang melampiaskan emosi mereka padanya.


"Semua orang terus mengumpatku karena apa yang Papa lakukan, mereka bahkan memintaku untuk menjual organ dalam tubuhku untuk menebus dosa-dosa yang Papa lakukan. Tidakkah semua itu sangat keterlaluan?"


Setiap hari Zavier terus mengatakan apa yang terjadi pada Zaydan, dan berharap papanya itu akan membuka mata dan mempertanggung jawabkan semua kesalahan yang telah di lakukan.


"Aku memutuskan untuk mengajukan cuti kuliah. Aku tidak mau membuat suasana semakin panas, bahkan para dosen mengeluh karena semua orang terus memperlakukanku dengan buruk."


Tanpa Zavier sadari, saat ini jari-jari tangan Zaydan bergerak. Sepertinya laki-laki itu merespon apa yang dia katakan, bahkan ada air mata menetes dari sudut matanya.


"Sudahlah, aku tidak mau lagi mengeluh. Aku harus membantu kak Ella mengurus perusahaan, apa Papa tahu kalau saham perusahaan turun dengan drastis setiap hari? Tapi yah, Papa mana tau. Setiap hari 'kan, Papa kerjanya hanya tidur."


Tangan Zaydan semakin bergerak dengan kuat, tetapi sayangnya Zavier tidak melihat karena sibuk menatap ke arah samping.

__ADS_1


"Untung saja ada tuan Venzo yang membantu perusahaan, sehingga sahamnya mulai kembali naik atau tetap di tempat. Jadi, cepatlah bangun. Papa harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah Papa lakukan. Termasuk pada kak Ella."


Zavier beranjak bangun, lalu sekilas menatap ke arah sang papa yang tetap diam dengan wajah pucat.


"Aku akan pergi sekarang, besok aku akan datang lagi."


Dia berbalik dan segera keluar dari ruangan itu. Terlihat Rosa sudah menunggunya dengan beberapa polisi yang menjaga Zaydan.


Setelah itu mereka kembali pulang ke rumah, karena saat ini banyak sekali wartawan yang ingin menemui mereka. Jadi mereka tidak bisa pergi dengan bebas, bahkan hanya untuk makan di restoran sekali pun.


Sementara itu, saat ini Ella sedang berada di perusahaan. 2 hari yang lalu Venzo membawanya ke perusahaan pada saat terjadi perselisihan antara para pemegang saham, yang tentu saja sudah tahu jika pimpinan perusahaan sudah di tangkap oleh polisi.


Sejak saat itu, Ella dan juga Naomi berusaha untuk mengendalikan apa yang terjadi. Mereka meyakinkan semua orang jika masalah keluarganya itu tidak ada hubungannya dengan perusahaan, walau banyak orang yang menentang dan meragukannya.


Beruntung Venzo selalu berada di sampingnya, dan membantu meyakinkan semua orang. Jika laki-laki itu sudah turun tangan, maka semua orang mengangguk patuh. Jangankan untuk berkomentar, bahkan untuk menatap Venzo saja mereka tidak berani.


Ella yang sedang fokus dengan laptopnya mendonggakkan kepala, lalu tersenyum manis kepada Venzo.


"Sebentar, aku harus mengirim email pada Naomi."


Venzo mengangguk, lalu berjalan ke arah sofa. Dia menatap wajah Ella yang sedang fokus bekerja, dan ingin sekali mencium wajah cantik nan menggemaskan itu.


Setelah selesai, Ella segera mengajak Venzo untuk pulang ke rumah. Namun, sebelum itu dia ingin pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kehamilannya.


"Selamat Tuan, Nyonya. Saat ini Nyonya sedang mengandung seorang putri,"


"Apa?" Venzo memekik kaget saat mendengar apa yang Dokter katakan, membuat Ella terlonjak kaget juga karena suaranya. "Be-benarkah? Apa, apa aku akan punya seorang putri yang cantik?"

__ADS_1


Ella langsung menatap Venzo dengan geli. Hampir saja dia tertawa saat mendengar ucapan laki-laki itu. Siapa yang hamil, dan siapa yang membuatnya. Kenapa malah Venzo yang sangat bersemangat sekali?


"Tentu saja, Tuan. Putri Anda pasti akan sangat cantik seperti ibunya,"


Venzo tersenyum lebar sambil menatap layar monitor yang menampakkan wujud janin yang berada dalam kandungan Ella, sementara Ella sendiri hanya menggelengkan kepalanya.


"Menurut prediksi, putri Anda akan lahir sekitar tanggal 20 bulan depan. Namun, bisa saja lebih cepat atau lebih lama. Di harapkan untuk Tuan dan Nyonya agar menjaga kandungan tetap aman, dan jangan bekerja terlalu lelah."


Ella dan Venzo mengangguk dengan serentak saat mendengar apa yang Dokter itu katakan. "Tentu, Dokter. Terima kasih." Ella menundukkan kepalanya dengan senyum merekah, dan di balas dengan Dokter itu juga.


Setelah selesai, mereka berdua lalu beranjak pergi dari rumah sakit menuju rumah.


"Apa kau sudah menyiapkan nama untuk putri kita, Sayang?" tanya Venzo tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.


"Tentu saja belum. Bukankah ayahnya yang harus memberi dia nama?"


Venzo tersenyum. "Benarkah? Kalau gitu aku akan menyiapkannya."


"Tapi Venzo, kau kan bukan ayah dari bayi yang aku kandung."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2