
Zavier langsung melepaskan pelukannya dari tubuh sang papa, sementara Rosa hanya diam di ambang pintu.
"Kenapa menatap papa seperti itu, bukannya setiap hari kau selalu kesal dan melaporkannya pada papa?"
Zavier terdiam sejenak. Otaknya sedang mencoba untuk memahami apa yang papanya katakan. "Papa mendengarnya?"
"Tentu saja. Yang kenapa tembak kan tangan dan perut papa, bukannya telinga. Jelas papa mendengar semua keluhanmu."
Zavier langsung memalingkan wajahnya, dia merasa sedih sekaligus malu. Dia sedih karena apa yang dia katakan memang benar, dan dia merasa malu karena sudah mengadukan semuanya pada sang papa.
"Bagaimana denganmu, Rosa? Apa kau tidak ingin memberi semangat lagi padaku?"
Zavier langsung melihat ke arah sang mama dengan bingung, sementara Zaydan tersenyum hangat kepada sang istri membuat hati wanita itu berdegup kencang.
Diam-diam ternyata Rosa menemui Zaydan dan berharap agar laki-laki itu cepat sadar. Dia merasa benci dan muak melihat suaminya itu, tetapi perasaan khawatir dan juga cinta yang ada di hatinya masih melekat dengan erat.
"Mama, Mama mengatakan sesuatu pada Papa?" tanya Zavier. Selama ini dia tidak pernah melihat sekali pun mamanya masuk ke dalam ruangan sang papa, atau bahkan bicara dengan papanya.
Rosa hanya diam sambil berusaha untuk mengendalikan diri. Dia tidak mau menangis di hadapan Zaydan, sudah cukup selama ini dia bermandikan air mata.
"Mamamu malu, Zavier. Dia pasti tidak akan menjawabnya," ucap Zaydan membuat Zavier berbalik melihat ke arahnya.
"Apa Papa baik-baik saja?" tanya Zavier dengan sedih.
"Ya, papa baik-baik saja. Papa sudah bisa untuk mempertanggung jawabkan semuanya, sesuai dengan apa yang kau inginkan,"
"A-apa?"
Baik Zavier maupun Rosa sama-sama terkejut dengan apa yang Zaydan katakan. "Papa bilang apa?"
Zaydan tersenyum sambil memejamkan kedua matanya, dia lalu kembali membukanya dan melihat ke arah mereka.
"Dalam tidurku, aku bertemu dengan kak Zean dan juga istrinya."
Deg.
Tubuh Rosa langsung tegang saat Zaydan menyebut kedua orang tua Ella, begitu juga dengan Zavier.
__ADS_1
"Seperti biasa, mereka selalu tersenyum dengan hangat padaku. Tanpa mereka tau bahwa akulah yang telah membunuh mereka, dan membuat Ella menderita."
Suara Zaydan terdengar lirih dan dipenuhi dengan penyesalan, membuat semua orang menatap dengan tajam. Terutama Ella dan Venzo yang ternyata sudah berada di tempat itu juga.
"Mereka mengatakan jika sudah ikhlas dengan semuanya, dan hanya berharap putri mereka bisa hidup dengan bahagia. Bukankah itu artinya mereka tau bahwa aku yang sudah membunuh mereka? Tapi tentu saja mereka tau, karena mereka memang tau bahwa aku seorang perjahat,"
"Lalu kenapa kau membunuh orang tuaku?"
Semua orang terlonjak kaget saat melihat keberadaan Ella, apalagi dengan ditemani Venzo yang berdiri di ambang pintu.
"E-Ella, kau di sini?" Rosa sangat terkejut saat melihatnya.
Ella melangkah masuk ke dalam ruangan itu tanpa menanggapi ucapan Rosa, sementara Venzo hanya diam di tempat.
"Mereka mengetahui semua yang aku lakukan dan berencana untuk menghentikannya, itu sebabnya aku marah hingga berbuat sejauh itu."
Ella mengepalkan kedua tangannya dengan erat, tentu saja dengan emosi yang sudah memenuhi dadanya.
"Kau benar-benar bukan manusia. Bagaimana mungkin kau membunuh kakakmu sendiri, bahkan istri dan juga anaknya?" teriak Ella membuat suaranya menggema di ruangan itu.
"Benar, kau memang harus dilenyapkan."
Ella langsung menodongkan pistol tepat ke arah Zaydan membuat semua orang tersentak kaget, bahkan polisi yang ada di depan ruangan langsung mengeluarkan senjata mereka.
"Apa, apa yang mau Kakak lakukan?" tanya Zavier dengan gemetar.
"Tentu saja membunuh papamu. Tidak adil bukan jika aku tidak membunuhnya, sementara dia sudah membunuh orang tuaku dan membuatku menderita."
Rosa dan Zavier sangat syok sekali saat melihatnya, sementara Zaydan hanya diam dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Ti-tidak, Kak. Ja-jangan-"
"Apa kau mau melarangku untuk membunuhnya, hah?"
Zavier langsung terdiam dengan tatapan nanar, sementara Venzo melarang polisi untuk masuk ke dalam ruangan itu.
"Kau sudah membunuh orang tuaku, jadi aku juga akan membunuhmu!" ucap Ella dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Baiklah. Kau memang pantas untuk membunuhku."
Zavier langsung bersimpuh di kaki Ella saat mendengar ucapan sang papa, sementara Rosa tidak bisa bereaksi apa-apa dan hanya memejamkan kedua matanya.
Namun bukannya menembak, Ella malah menjatuhkan pistolnya membuat Zavier yang sedang memohon terkesiap.
"Sayangnya aku bukan seorang monster sepertimu, itu sebabnya aku tidak bisa membunuhmu."
Semua orang langsung bernapas lega saat mendengarnya, terutama para polisi yang sudah akan menghajar Venzo karena menghalangi jalan mereka.
"Kenapa, Ella? Kau berhak untuk membunuhku," tanya Zaydan.
"Sudah ku katakan jika kita berbeda, aku tidak akan mengotori tanganku dengan darahmu. Aku akan menyerahkan semuanya pada hukum." Ella langsung berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan diikuti oleh Venzo.
Zaydan terdiam melihat kepergian Ella. "Putrimu tumbuh dengan baik, Kak. Dia sama seperti kakak ipar yang berhati lembut."
Zavier yang masih bersimpuh segera berlari keluar untuk mengejar Ella. "Kak!"
Ella menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan Zavier, dia lalu berbalik dan langsung menerima pelukan dari adiknya itu.
"Maafkan aku, Kak. Maafkan aku." Zavier memeluk Ella dengan tubuh bergetar. Dia sangat menyesal karena menjadi anak Zaydan yang telah membunuh kedua orang tua wanita itu.
"Jangan minta maaf, Zavier. Kau tidak salah apapun, malah kakak yang telah membuatmu takut,"
"Tidak. Apa yang kakak lakukan benar, kakak berhak membunuh papa. Tapi, tapi aku tidak-"
"Ssshh, sudahlah. Lupakan semua ini."
Ella merenggangkan pelukannya lalu menghapus air mata Zavier. "Kakak sudah menyerahkan semuanya pada polisi, biarlah mereka yang menghukum papamu sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1