Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 14. Drama yang Luar Biasa.


__ADS_3

Beberapa makanan dan minuman sudah tersedia di atas meja, juga ada buah-buahan yang tampak sangat segar untuk dinikmati.


"Ini Mbak, cobalah. Aku sudah memilih buah-buahan segar semalam." Rere memberikan jus segar untuk Zanna membuat wanita itu menatap dengan nanar.


"Jangan lupa, Rere. Aku adalah nyonya rumah ini, dan bukannya tamu,"


"Eeh." Rere langsung panik dan salah tingkah saat mendengar ucapan Zanna. "Ma-maaf, Mbak. aku tidak bermaksud untuk-"


"Sudahlah, lupakan saja." Zanna menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa membuat Rere langsung kembali duduk.


"Sakit sekali, Calvin. Aku adalah istrimu, tapi aku diperlakukan layaknya tamu oleh wanita simpananmu. Kenapa tidak sekalian saja kalian menikah di hadapanku." Zanna kembali menahan diri dan juga air matanya. Tidak sudi dia jika harus menangisi laki-laki jahanam itu.


Untuk sesaat, suasana menjadi hening. Zanna terlihat sedang memejamkan kedua matanya, sementara Calvin dan Rere saling pandang karena ingin mengatakan sesuatu pada wanita itu.


"Apa kau mau istirahat di kamar saja, Sayang?"


Zanna langsung membuka kedua matanya dengan senyum sinis. "Kamar, kamar yang mana? Apa kamar yang selalu kalian pakai untuk bercinta?" Ingin sekali dia berteriak mengatakan semua itu, tetapi dia harus kembali menahan diri.


"Tidak. Bukankah wanitamu itu ingin bicara padaku?"


Calvin langsung menghela napas kasar sambil pura-pura sedih. "Sayang, aku sudah membicarakan semuanya pada Rere. Aku juga sudah membatalkan semua pernikahan itu, sekarang aku tidak ada hubungan apapun lagi dengannya."


"Benarkah?" tanya Zanna dengan mata berkaca-kaca. Namun, jangan kira dia ingin menangis karena bahagia, tapi karena merasa benar-benar sudah menikah dengan orang yang hina.

__ADS_1


Calvin menganggukkan kepalanya lalu melirik ke arah Rere. "Aku sadar kalau apa yang aku lakukan sudah salah. Seharusnya aku bertanggung jawab dalam hal lain pada Rere, bukannya malah menikahinya."


"Itu benar sekali, Mbak. Aku juga salah sangka karna kebaikan Mas Calvin padaku, hingga aku khilaf dan menyakiti hati Mbak."


Rasanya Zanna ingin sekali tertawa sampi mati saat ini. Bagaimana mungkin mereka sangat kompak sekali? Dan rugi rasanya jika dia tidak ikut dalam drama yang sedang dua manusia si*alan itu lakukan.


"Tapi, tapi kenapa kalian sekarang seperti ini? Aku sudah terlanjur sakit hati, dan kalian juga saling mencintai. Lebih baik kalian bersama dan menikah saja, biarkan aku yang pergi menjauh."


Zanna tersenyum penuh arti sambil melirik ke arah Rere yang terdiam di hadapannya, terlihat jelas kalau wanita itu terpancing dengan apa yang dia katakan."


"Tidak Sayang, jangan katakan hal seperti itu." Calvin kembali menggenggam tangan Zanna. "Aku hanya mencintaimu, dan bukan yang lain."


"Dasar bedebah si*alan! Selalu bilang mencintaiku, tapi kau bahkan tidur dan tinggal bersama wanita lain. Dasar bajing*an."


"Benar, Mbak. Aku juga minta maaf, aku harap kita masih bisa berteman seperti dulu. Aku janji tidak akan membuat masalah lagi, Mbak."


Zanna menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. Sungguh sangat tragis sekali, bisa-bisanya wanita itu meminta untuk kembali berteman setelah apa yang terjadi. Apakah mereka pikir kalau mereka bisa membod*ohi orang lain seperti ini?


"Hah. Biarkan aku memikirkan semua ini dengan tenang." Zanna beranjak dari sofa dan hendak berjalan naik ke lantai 2. Jika dia bersama mereka lebih lama lagi, maka bisa dipastikan kalau dia akan menjadi gila.


"Aku, aku akan mengantarmu, Sayang,"


"Itu tidak perlu, Calvin. Biarkan aku sendiri dulu." Zanna segera membawa tasnya lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Dia terus melangkahkan kaki sampai masuk ke dalam salah satu ruangan yang dia yakini sebagai kamar.

__ADS_1


Brak.


Tubuh Zanna langsung merosot jatuh ke lantai saat pintu kamar itu sudah tertutup. "Ya Tuhan, tolong kuatkan aku. Aku mohon." Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak, bahkan air mata yang sejak tadi ditahan juga langsung mengalir deras.


Secepat inikah dia harus merasakan pahitnya pernikahan? Orang bilang 2 tahun pertama pernikahan adalah masa-masa yang indah dan penuh warna, tetapi kenapa dia tidak merasakannya? Bahkan pernikahannya belum genap setahun, tetapi dia sudah menelan kehancuran.


"Sebenarnya kenapa kau melakukan ini padaku, Calvin? Aku mengira bahwa kita akan selalu bersama dalam suka dan duka, kita akan terus mengarungi bahtera rumah tangga baik senang maupun susah. Tetapi kenyataannya, aku terhempas oleh harapan semu belaka. Cinta yang kau berikan ternyata menyimpan duka yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, kenapa kau begitu tega?"


"Apa aku telah berbuat kesalahan, hingga kau pantas memperlakukan aku seperti ini? Di mana janjimu dulu, dan ke mana arah cintamu yang katanya akan selalu kau berikan untukku? Sakit , perih, menyesakkan. Itulah yang kau beri padaku saat ini. Aku bahkan belum merasakan manisnya pernikahan kita, tapi kau sudah menyebar racun yang sangat mematikan."


Zanna lalu beranjak bangun dan melirik ke arah ranjang. Senyum getir dengan tatapan nyalang terlihat diwajahnya, saat tiba-tiba bayangan Calvin dan Rere sedang bercinta diranjang itu.


Tidak mau semakin larut dalam kesedihan, Zanna segera mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto setiap sudut kamar itu. Tidak lupa dia juga memfoto pakaian Calvin dan Rere yang tersimpan jadi satu dalam sebuah lemari.


"Mungkin ini cukup untuk memberi kenang-kenangan." Zanna kembali tersenyum sambil mengusap perutnya yang masih rata.


"Nak, maafkan mamamu ini, ya. Mama tidak bisa menjaga ayah, bahkan mama juga akan segera menjauhkanmu darinya. Semoga 2 hari ini kau bisa menikmati waktu bersama dengan ayahmu, karena setelah itu kita hanya akan tinggal berdua saja."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2