Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 50. Dua Orang Dalam Satu Tubuh.


__ADS_3

Ella tersentak kaget dengan apa yang Venzo katakan. "Te-tentang kematian orang tuaku?" Dia menatap laki-laki itu dengan tajam.


"Benar, Ella. Sebenarnya aku juga tidak tau pasti apa yang sudah terjadi pada kalian malam itu, hanya saja salah satu keluargamu terlibat di dalamnya,"


"A-apa?" Ella beranjak bangun dari tempat duduknya karena benar-benar merasa kaget dengan apa yang Venzo katakan, hingga membuat perutnya bergejolak


"Hemp." Ella menutup mulutnya dengan tangan membuat Venzo langsung panik.


"Ada apa? Kau mau muntah?" Dia langsung menggendong Ella dan membawanya menjauh dari tempat itu membuat Ella terlonjak kaget, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena makanan yang tadi dia telan sudah akan kembali keluar.


Venzo menurunkan Ella tepat di depan toilet membuat wanita itu langsung masuk ke dalam dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Hoek, hoek, hoek." Ella memuntahkan semuanya membuat Venzo langsung memijat tengkuk dan punggungnya, tentu dia kembali terlonjak kaget karenanya.


"Ke-keluarlah, Venzo. Ini, ini sangat kotor,"


"Diamlah. Fokus saja pada muntahmu, dan jangan memikirkan aku."


Ella tidak sanggup lagi untuk bicara. Terserahlah laki-laki itu mau melakukan apa, karena perutnya benar-benar terasa sangat tidak nyaman sekali.


Setelah sedikit lebih baik, Venzo membawa Ella untuk duduk di sebuah kursi yang ada di sekitar sana.


"Tunggu di sini ya, aku akan membelikan minuman untukmu."


Ella mengangguk lemah dan Venzo segera beranjak pergi dari tempat itu, dia lalu tersenyum tipis melihat perhatian yang laki-laki itu berikan padanya.


"Kenapa kau begitu perhatian padaku, Venzo? Hanya karena kita bertunangan di masa lalu, apa kau benar-benar ingin melanjutkannya? Bukankah kau tau, jika saat ini aku sedang mengandung?" Ada banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar dalam kepala Ella, tetapi semua itu tidaklah penting dari apa yang Venzo katakan tadi padanya.


Venzo lalu kembali dengan membawa minuman dan makanan ringan untuk wanita itu. Dia membukakan tutup botol minumannya, lalu memberikan pada Ella.


"Terima kasih." Ella menerimanya dengan senyum tulus dan segera menenggak minuman yang Venzo beri. "Hah, tenggorokan terasa segar." Akhirnya tenggorokan dan perutnya terasa lebih nyaman.


"Maafkan aku, Ella. Gara-gara aku, kau jadi seperti itu,"

__ADS_1


"Kenapa minta maaf? Semua itu bukan karenamu, kok. Setiap orang hamil pasti akan muntah seperti itu, jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Ella mencoba untuk menenangkannya.


"Tapi tetap saja, aku-"


"Tu-tuan Venzo!"


Tiba-tiba ucapan Venzo terhenti karena panggilan seseorang, sontak dia dan Ella segera melihat ke arah orang tersebut.


"Ya ampun, ternyata Anda benar-benar tuan Venzo. Saya kira saya salah orang."


Venzo mengernyitkan kening saat melihat dua orang wanita berpakaian seksi berdiri di hadapannya, apalagi salah satu dari mereka memanggilnya dengan lancang.


"Kau siapa?" tanya Venzo dengan dingin.


"Ah, Anda pasti lupa dengan saya. Nama saya Viola, saya salah satu model yang pernah bekerja sama dengan perusahaan Anda, Tuan."


Venzo menganggukkan kepalanya. "Lalu, apa maumu?"


"Saya hanya tidak sengaja melihat Anda, Tuan. Jadi memutuskan untuk menyapa," jawab wanita itu. Dia lalu melirik ke arah Ella yang hanya duduk diam sambil memperhatikan. "Tapi Tuan, wanita itu siapa? Apa sekretaris baru Tuan?"


Venzo mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Wanita itu sudah sangat lancang, dan dia tidak bisa lagi untuk membiarkannya.


"Apa kau tidak tau, bahwa kau sudah sangat lancang padaku?" Venzo menatapnya dengan tajam dengan gigi yang saling bergesekan.


Glek.


Wanita itu menelan salivenya dengan kasar. "Sa-saya hanya bertanya saja, Tuan. Saya tidak-"


"Pergi dari hadapanku sekarang juga!" bentak Venzo membuat semua orang terlonjak kaget, termasuk Ella yang langsung mengusap dadanya yang berdebar-debar.


"Ba-baik, Tuan. Maafkan saya." Wanita itu segera menarik temannya dan berlalu pergi dari tempat itu. Niat hati ingin pamer karena mengenal Venzo, malah berujung terkena amukan laki-laki itu.


Venzo menghela napas kesal dengan apa yang wanita itu lakukan, kemudian dia kembali duduk di kursi dengan tetap melihat ke arah wanita itu pergi dengan tajam.

__ADS_1


Ella yang masih diam di tempat itu tampak bingung harus melakukan apa untuk menenangkan Venzo. "Apa, apa kau baik-baik saja, Venzo?" Akhirnya dia mengeluarkan suaranya.


Venzo lalu melihat ke arah Ella. Mata yang semula menatap tajam kini mulai mengendur dan kembali hangat. "Maaf, aku pasti membuatmu terkejut."


Ella tercengang saat mendengar apa yang Venzo katakan. "Tunggu, kok malah dia yang minta maaf, sih? Padahal aku sangat mengkhawatirkannya."


Venzo terdiam karena merasa bersalah sudah berkata kasar di depan Ella, dan semua gara-gara wanita itu. "Si*alan. Lihat saja, aku akan membuat pelajaran pada wanita itu." Dia lalu mengambil ponsel dan segera mengirim pesan pada sekretarisnya.


"Kau tidak perlu minta maaf, Venzo. Aku tidak apa-apa. Justru aku khawatir padamu, apa kau baik-baik saja?"


Venzo memganggukkan kepalanya. "Aku baik, Ella. Apalagi jika selalu bersamamu, aku akan merasa baik-baik saja."


Blush.


Lagi-lagi Venzo mengatakan sesuatu yang membuat Ella malu, hingga wanita itu menundukkan kepalanya dengan wajah memerah.


"Tapi Ella, apa aku boleh meminta sesuatu darimu?"


Ella yang masih menunduk pelan-pelan mengangkat kepalanya. "Ma-mau minta apa?"


"Jagalah dirimu sendiri saat kau sedang tidak bersamaku, di mana pun dan kapan pun. Jangan percaya pada orang lain, siapa pun dia. Walau dia keluargamu sekali pun," pinta Venzo.


"Sekarang katakan padaku, Venzo. Siapa yang kau bilang berhubungan dengan kematian orang tuaku, dan kau harus mengatakan semuanya tentang apa yang kau ketahui," ucap Ella dengan tajam.


Venzo terdiam sejenak, lalu menatap Ella dengan dalam. "Pamanmu, Ella. Adik dari papamu itu terlibat dalam kematian kedua orang tuamu."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2