Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 36. Kemarahan Keluarga.


__ADS_3

Zaydan tersenyum sambil menatap Zanna, sementara wanita itu hanya melihatnya dengan tatapan datar.


"Pa-paman? Apa Anda benar-benar pamanku?" tanya Zanna yang tiba-tiba merasa ingin menangis.


"Ya, Sayang. Aku pamanmu. Apa kau juga tidak bisa mengingat siapa aku?" Zaydan sudah mendengar kabar dari Naomi bahwa Zanna kehilangan ingatannya, dan dia sangat menyayangkan semua itu.


Zanna menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku tidak bisa mengingat apapun."


Zaydan langsung menarik tubuh Zanna dan memeluknya dengan erat membuat Zanna tersentak kaget. "Tidak apa-apa, Zanna. Paman sudah sangat senang kau kembali, dan mengenai ingatan itu pasti akan kembali seiring berjalannya waktu."


Zanna menganggukkan kepalanya dan membalas pelukan itu. Hatinya terasa hangat dan juga sesak, ada rasa bahagia yang tidak bisa untuk diucapkan dengan kata-kata.


"Ayo kita masuk, kakek sudah menunggu kedatanganmu sejak tadi," ajak Zaydan kemudian.


Mereka semua lalu masuk ke dalam rumah dengan diikuti oleh para pelayan. Zanna melihat ke sana kemari sambil mencoba untuk mengingat segalanya, terutama tentang orang-orang yang saat ini berada di rumah itu.


"Ayah, Ella sudah datang," ucap Zaydan membuat seseorang yang sedang duduk di atas kursi roda mendongakkan kepalanya.


"Ella, cucuku." Laki-laki berusia sekitar 75 tahunan itu merentangkan tangan membuat Zanna langsung menghampirinya dan memeluk tubuh laki-laki itu dengan erat.


"Kau masih hidup, Nak. Kau masih hidup." Laki-laki tua bernama Zaron itu meneteskan air mata. Dia benar-benar merasa sangat bahagia melihat cucu sulungnya masih hidup dan kembali pulang.


"Iya, Kek. Aku, aku masih hidup," ucap Zanna walaupun dia tidak bisa mengingat sedikitpun tentang semuanya, padahal dia sudah berusaha sekeras mungkin.


"Sebenarnya seberapa besar kecelakaan yang aku alami? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun selama ini? Jangan-jangan aku tertukar dengan wanita lain?" Zanna merasa bingung dan tidak mengerti.


Setelahnya, mereka semua berkumpul di ruang keluarga dan duduk di kursi masing-masing. Terlihat ada seorang wanita juga yang kemungkinan adalah istri dari paman Zanna.


"Bagaimana kabarmu selama ini, El? Sudah sejak lama kami mencarimu, dan syukurlah kau kembali," ucap wanita bernama Rosa, dia adalah istri Zaydan.


"Aku baik, Bibi. Tapi maaf, aku sama sekali tidak bisa mengingat semua ini," ucap Zanna. Semakin dia berusaha untuk mengingat, maka kepalanya akan terasa sangat sakit.

__ADS_1


"Kau tidak usah memaksakan diri untuk mengingatnya, Nak. Lambat laun, kau pasti akan ingat juga," balas kakek Zaron.


"Itu benar, El. Kan tadi paman sudah bilang, ingatan atau apapun itu tidak penting, yang terpenting adalah kesehatanmu dan kembalinya kau bersama kami."


Zanna menganggukkan kepalanya dengan senyum simpul, kemudian mereka semua bertanya bagaimana keadaan Zanna selama ini dan bagaimana kehidupan yang dia jalani.


"Ayah mengurusku dengan sangat baik, dan aku bersyukur punya ayah sepertinya," ucap Zanna saat sudah selesai menceritakan semuanya.


"Paman Sendi memang orang yang sangat baik, dan syukurlah dia merawatmu dengan baik pula," ucap Zaydan. Dia merasa bersyukur atas apa yang sudah Zanna jalani selama ini.


"Tapi paman dengar kau sudah menikah, Ella. Apa itu benar?"


"Kakak sudah menikah?" tanya Zavier yang merasa terkejut, begitu juga dengan Rosa dan juga kakek Zaron.


Zanna terdiam beberapa saat untuk memikirkan apakah harus menceritakan semuanya atau tidak. "Ya, aku memang sudah menikah. Tapi, sekarang sedang dalam proses perceraian."


"Apa?"


"Dasar laki-laki brengs*ek! Beraninya dia melakukan hal seperti itu padamu!" Zaydan mengepalkan tangannya dengan erat, dia merasa sangat emosi dengan apa yang Zanna alami.


"Benar, laki-laki sampah kayak gitu harusnya dibuang ke laut dan dijadikan makanan ikan. Lancang sekali dia mengkhianati cinta suci kakakku, memangnya dia itu siapa?" Zavier juga merasa sangat emosi.


Zanna terkekeh saat melihat reaksi mereka, terutama ucapan yang keluar dari mulut Zavier. "Mereka ini lebay sekali, sih? Dan apa itu tadi, cinta suci?" Dia berusaha untuk menahan tawa yang akan lepas dari mulutnya.


"Bunuh, bunuh laki-laki itu Zaydan. Beraninya dia menyakiti cucuku!" Kakek Zaron juga tidak kalah emosi membuat Zanna tersentak kaget.


"Biar aku saja yang melakukannya, Kek. Papa duduk tenang saja dirumah," ucap Zavier yang langsung mendapat enggukan dari sang kakek.


Zanna yang mendengar semua itu tentu merasa sangat kaget dan juga panik. "Tu-tunggu, kalian tidak perlu melakukan itu. Aku baik-baik saja sekarang." Walau dia benci dengan Calvin, tetapi jangan sampai terjadi pertumpahan darah.


"Kenapa, Kak? Apa Kakak tidak setuju, kalau aku membunuhnya?" tanya Zavier yang langsung diiyakan oleh Zanna.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menyiksanya dulu sebelum membunuhnya,"


"Apa?" Zanna menggeleng-gelengkan kepalanya dengan panik.


"Kau benar, Zavier. Jika langsung membunuhnya, pasti dia tidak akan merasakan sakit. Tapi jika kau menyiksanya sedikit demi sedikit, maka dia akan merasakan yang namanya neraka dunia," ucap Zaydan yang setuju dengan ucapan sang putra.


"Tu-tunggu. Maksudnya bukan-"


"Papa tenang saja. Aku akan menyiksanya secara perlahan lalu mengulitinya hidup-hidup, aku akan membuat dia merasakan penyesalan karena sudah mengkhianati kakakku." Zavier merasa sangat bersemangat.


"Tunggu, dengarkan aku dulu-"


"Baiklah. Kalau gitu aku pergi dulu, semakin cepat maka akan semakin baik,"


"Hentikan!" teriak Zanna membuat semua orang terlonjak kaget, bahkan pelayan yang sedang membawa minuman juga ikut terkejut membuat minuman itu terjatuh dan berserakan di atas lantai.


"Kenapa kalian tidak mau mendengarkan aku, Sih?" Zanna merasa kesal dan juga sebal. "Memangnya kamu ini algozo, yang siap memberikan hukuman pada pendosa, begitu?" Dia menunjuk ke arah Zavier dengan dada naik turun karena emosi. Terserahlah mereka mau marah atau apa, yang jelas dia tidak mau kalau sampai Calvin mati di tangan mereka.


"Ada apa, Kak? Kenapa Kakak marah?" tanya Zavier.


"Tentu saja aku marah. Memangnya ada, orang yang tidak marah saat tau kalau keluarganya mau membunuh orang lain?"


Semua orang terdiam mendengar apa yang Zanna katakan, lalu mereka saling pandang membuat wanita itu menghela napas frustasi.


"Sebenarnya keluarga psikopat seperti apa yang Kau berikan padaku, Tuhan?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2