
Venzo yang sedang dalam perjalanan melirik ke arah spion karena merasa seperti ada yang mengikuti, dia semakin menekan pedal gasnya dan melaju kencang di jalanan.
Para anak buah Zaydan terus mengejar Venzo dan menghubungi anggota yang lain untuk bersiap menunggu di ujung jalan, dan beruntungnya saat ini mereka sedang berada di jalanan yang sunyi. Tentu saja sudah di rencanakan sedemikian rupa agar berhasil menangkap Venzo.
Venzo terus menekan pedal gasnya, tetapi sayang dia harus menginjak rem secara mendadak saat ada balok besar yang melintang di tengah jalan.
Ckiiitt.
Suara ban yang terseret dengan jalanan akibat rem mendadak menggema di tempat itu. Venzo langsung banting stir ke kanan sebelum mobilnya mencium balok itu, dan untungnya dia masih bisa mengendalikan mobil tersebut sehingga tidak terguling.
"Sh*it!"
Venzo langsung keluar dari mobil yang sudah mengepulkan asap tebal. Terlihat sudah ada puluhan orang bersenjata lengkap mengelilinginya.
"Ikut dengan kami atau mati di sini."
Venzo tersenyum miris saat mendengar ucapan salah satu dari mereka. "Beginikah para kesatria Zaydan bertarung, hah?" Dia bersedekap dada seolah menantang mereka.
Salah satu dari anak buah Zaydan maju beberapa langkah untuk mendekati Venzo. "Jangan membuat siasat yang tidak berguna, Tuan Venzo. Saat ini Anda tidak bisa lepas dari kami."
"Oh ya?" Venzo tersenyum miring sambil memasukkan tangannya ke saku celana membuat semua orang langsung menodongkan pistol ke arahnya. "Ayolah, apa kalian semua akan melawan aku?"
"Tentu saja, Tuan Venzo. Untuk menangkap belut licin seperti Anda, tentu saja kami harus mengerahkan banyak tanaga. Bukankah ini sebuah penghormatan untuk Anda?"
Venzo mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau benar. Jika hanya 1 sampai 10 orang saja tentu tidak bisa menangkapku, itu sebabnya kalian harus bergerak semua seperti kawanan domba yang akan menyerang singa."
Semua orang menatap Venzo dengan geram. Tentu saja mereka kesal dengan apa yang laki-laki itu katakan, dan tentu saja memang itulah tujuan Venzo saat ini.
"Ingatlah, kawanan domba yang bod*oh tidak bisa mengalahkan seekor singa. Bahkan anak singa pun tidak bisa kalian kalahkan,"
__ADS_1
"Diam!" bentak salah satu dari mereka yang merupakan anak buah kepercayaan Zaydan. Dia benar-benar geram atas hinaan yang Venzo layangkan pada mereka.
"Jangan terlalu marah, karena aku memang mengatakan yang sebenarnya. Sia-sia selama ini Zaydan melatih kelompok pecundang seperti kalian."
Laki-laki itu mengepalkan tangannya dengan erat. "Aku lebih dari mampu untuk membunuhmu seorang diri!"
"Tidak, jangan termakan ucapannya, Tom!"
Salah satu orang mencekal tangan lelaki itu yang sudah maju ke depan dan tinggal selangkah lagi mencapai Venzo, tetapi lelaki itu langsung menepis tangannya.
"Aku akan membungkam mulut bed*ebah sombong itu!"
Dia segera menerjang tubuh Venzo yang tentu saja sudah bersiap untuk serangannya, membuat semua orang yang ada di tempat itu langsung panik dan bersiap untuk menyerang.
"Bagus. Dasar domba-domba bod*oh."
Venzo langsung berguling ke arah mobilnya berada membuat laki-laki itu terus menyerangnya, tentu saja anak buah Zaydan yang lain juga ikut mendekati mereka yang kini sedang saling serang.
Venzo menendang perut laki-laki itu membuat tubuhnya tersungkur ke atas tanah, dengan cepat dia berbalik dan menarik pistol yang ada di saku celana dan langsung menembak ke arah bagian bawah mobil sampai beberapa kali.
Dor
Dor
Dor
Duar.
Suara ledakan menggema di tempat itu membuat semua anak buah Zaydan terpental karena terkena ledakan dari mobil Venzo. Dia sengaja menembak mobil tersebut karena tahu jika terkena percikan api atau benturan hebat pasti akan meledak, dan tidak terkecuali karena terkena peluru dari pistolnya.
__ADS_1
Venzo sendiri juga terpelanting karena tidak sempat menjauh dari tempat itu, tetapi untungnya dia terjatuh di atas rerumputan.
Tubuh Venzo terasa remuk redam akibat ledakan itu. Dia yang akan beranjak bangun tidak jadi menggerakkan tubuhnya saat merasa ada seseorang yang berdiri di atasnya.
"Kau memang sangat cerdik, Venzo. Kau bahkan bisa mengalahkan puluhan anak buah Zaydan hanya dengan hitungan menit saja."
Seorang laki-laki berdiri tepat di atas tubuh Venzo sambil menodongkan pistol ke arah kepalanya.
Venzo menatap laki-laki itu dengan tajam. Matanya terlihat sangat tidak asing sekali, walaupun saat ini laki-laki itu menggunakan topi dan masker sengaja agar dia tidak mengetahui identitasnya.
"Ah, ternyata Anda yang selama ini bekerja sama dengan Zaydan. Pantas saja tidak ada satu polisi pun yang bisa mengendus perbuatan laki-laki itu, ternyata Andalah yang berada di belakangnya. Lalu, Anda ke manakan barang-barang yang Anda ambil minggu lalu dari kapal selundupan Zaydan, komandan Yuga?"
Laki-laki itu sedikit terkejut karena Venzo ternyata mengenalinya, padahal hanya 2 kali saja mereka pernah bertemu di kantor polisi.
"Sebenarnya saya tidak mau turun tangan, Tuan Venzo. Tapi Anda juga harus mengerti bagaimana dunia ini bekerja." Dia membuka masker yang ada diwajahnya lalu tersenyum sinis. "Maaf, saya terpaksa harus melakukan ini." Dia lalu menarik pelatuk pistolnya dengan tetap menatap Venzo dengan tajam.
Dor.
Pyar.
Ella yang saat itu sedang berada di dapur tidak sengaja menjatuhkan piring, membuat semua orang terlonjak kaget.
"Apa yang terjadi, Ella?" pekik Rosa dengan khawatir, terlihat Ella menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan wajah pucat.
"Ke-kenapa dadaku tiba-tiba terasa sesak, Bi? Perasaanku, perasaanku juga tidak tenang dan gelisah. Sebenarnya ada apa ini, apa yang terjadi?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.