Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 33. Sengaja di Tabrak.


__ADS_3

Calvin tersentak kaget dengan apa yang Zanna katakan. "Kau, kau bilang apa?"


"Kenapa? Apa kau berpikir aku tidak akan tahu apapun tentang berlian itu, hah?"


Calvin terdiam karena sedang memikirkan apa yang wanita itu katakan. "Tidak. Dia tidak akan tahu di mana aku menyimpan berlian itu, dia pasti ingin menggertakku saja."


"Apa kau tidak merasa aneh, kenapa Naomi tidak lagi meminta berlian itu darimu?"


Deg.


Calvin langsung menatap Zanna dengan tajam, dan perasaannya mulai tidak tenang saat ini.


"Itu karena berliannya ada padaku, Calvin. Itu sebabnya dia tidak perlu lagi berurusan denganmu,"


"Tidak, itu tidak benar!" teriak Calvin. Tidak mungkin berlian itu ada pada Zanna sementara dia sudah menyimpannya di dalam lemari yang tidak akan pernah disangka-sangka oleh siapapun. Namun, kenapa Zanna terlihat sangat yakin sekali?


"Baiklah, terserah kau saja mau percaya atau tidak padaku. Yang pasti cukup sampai di sini, Calvin. Aku tidak sudi lagi untuk bicara denganmu." Zanna segera berbalik dan masuk ke dalam mobil, sementara Naomi juga ikut berlari masuk ke mobil tersebut.


"Tunggu. Berhenti kau, Zanna!" Calvin segera menyusul langkah mereka dan memukul-mukul kaca jendela mobil Zanna.


Zanna tidak lagi memperdulikan laki-laki itu lagi, dan dia akan fokus saja pada kehidupannya yang baru bersama dengan orang-orang asing yang mungkin dulu sangat dekat dengannya.


Naomi segera menghidupkan mesin mobil itu dan akan segera pergi dari sana, sementara Calvin yang mendengar mesin menyala segera berlari ke depan mobil sambil merentangkan tangannya.


"Aku tidak akan membiarkan kalian pergi!"


Semua orang yang ada di tempat itu memperhatikan mereka, apalagi ada beberapa orang yang merupakan tamu undangan pernikahan Calvin dan juga Rere. Tentu mereka langsung heboh.


Rere yang baru tiba di tempat itu juga langsung berteriak memanggil Calvin, tetapi laki-laki itu tidak menghiraukan panggilannya.


"Nona, apa yang harus-"

__ADS_1


"Tabrak saja, Naomi."


Deg.


Naomi mengalihkan pandangan ke arah Zanna. "Baik, Nona." Tentu saja dengan senang hati dia akan melakukannya.


Naomi segera menekan klakson mobil itu untuk memberi peringatan pada Calvin, tetapi laki-laki itu tetap bersikukuh berdiri di sana dan meminta Zanna untuk keluar.


Tanpa menunggu apapun lagi, Naomi segera menarik porsneling mobil itu dan menginjak gasnya membuat Zanna tersentak kaget.


Calvin yang masih berdiri di depan mobil segera berlari ke samping saat tahu jika Naomi akan menabraknya. Namun sayang, tubuhnya tidak sempat menghindar dan menghantam bagian lampu depan dari mobil itu.


Brak.


"Calvin!" Rere berteriak histeris melihat apa yang terjadi, sementara orang-orang yang ada di sana juga memekik kaget melihat aksi dari sang pengendara mobil.


Naomi terus melakukan mobilnya ke jalan raya tanpa menghiraukan apa yang terjadi dengan Calvin, karena dia tahu kalau laki-laki itu tidak akan mati hanya karena menghantam pinggiran mobil.


Glek.


"Aku tidak menyangka kalau Naomi akan benar-benar menabraknya. Bagaimana kalau Calvin mati?" Zanna benar-benar sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


"Anda tidak perlu cemas, Nona. Laki-laki itu tidak akan mati," ucap Naomi seakan tahu apa yang saat ini sedang Zanna pikirkan.


"Tapi, kita tidak akan ditangkap polisi 'kan, Naomi?" Selain takut jika Calvin sampai mati, Zanna juga takut kalau mereka akan mendekam di balik jeruji besi.


"Tentu saja tidak, Nona. Kalau pun dia sampai mati, tidak akan ada yang bisa memenjarakan Nona."


Ucapan Naomi membuat Zanna merasa lega sekaligus takut. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang dan melupakan semua itu. Biarlah apa yang akan terjadi nanti. Jika dia masuk penjara sekalipun, maka dia tidak akan merasa menyesal.


Setelah kepergian Zanna dan Naomi, orang-orang segera membawa Calvin ke rumah sakit terdekat. Terlihat laki-laki itu sedang menahan rasa sakit di daerah paha dan juga lututnya, yang tadi menghantam mobil.

__ADS_1


Namun, tidak ada sedikit pun darah yang keluar. Kecuali darah disudut bibirnya akibat pukulan Naomi tadi.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan, Mas?" tanya Rere saat dalam perjalanan ke rumah sakit sambil terisak, dia merasa sangat khawatir dengan apa yang terjadi pada suaminya itu.


Calvin berdecak kesal dengan apa yang terjadi. "Beraninya mereka menabrakku?" Dia lalu kembali mengerrang kesakitan saat tidak sengaja menggerakkan lututnya.


"Lagian kenapa kau bisa berdiri di sana sih, Mas? Apa kau memang berniat untuk bunuh diri?"


"Diam!" bentak Calvin membuat Rere langsung terdiam dengan takut, sementara supir yang membawa mereka hanya diam mendengar pertengkaran itu.


"Kau lihat aja, Zanna. Aku pasti akan menuntutmu dan menjebloskanmu ke dalam penjara," ucap Calvin penuh dendam. Bukan hanya mempermalukan dan merusak nama baiknya, wanita itu bahkan berniat untuk menghabisi nyawanya.


"I-itu benar, Mas. Kita harus segera menuntut Mbak Zanna dan memasukkannya ke dalam penjara," ucap Rere dengan takut-takut.


Calvin lalu menghela napas kasar sambil memejamkan kedua matanya. Rasa sakit yang ada di kakinya benar-benar membuatnya tersiksa, dia yakin kalau tulang kakinya itu pasti patah karena tabrakan tadi.


"Kau lihat saja, Zanna. Aku pasti akan membalasmu!"


Sementara itu, Zanna dan Naomi sedang dalam perjalanan menuju Negara M di mana negara itu merupakan tempat kelahirannya.


Zanna memang sudah menyiapkan kepergiannya dan tidak kembali lagi ke rumah, dia bahkan sudah memberikan rumah itu kepada salah satu tetangga yang tidak mampu. Rumah mereka bahkan terbuat dari bambu yang jika terkena angin kencang, maka akan terbang terbawa angin tersebut.


Zanna menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memejamkan kedua mata, tangannya naik mengelus perutnya yang masih rata.


"Semoga keputusanku untuk pergi ini tidak salah, dan tidak ada lagi masalah seperti ini. Aku benar-benar lelah, Tuhan."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2