Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 16. Rencana Selanjutnya.


__ADS_3

Zanna mengusap wajahnya dengan kasar, benarkah kalau selama ini Calvin bersama dengannya hanya karena sepasang berlian ini? Tidak, dia tidak mau memikirkan semua itu. Namun, apa yang saat ini ada di depan matanya seolah-olah memberikan jawaban atas pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


Zanna lalu terpaku sambil memandang dua buah berlian milik sang ayah. Pikirannya melanglang buana karena membaca surat yang ayahnya tulis untuk sang suami, yaitu Calvin.


"Kenapa ayah memberikan sepasang berlian ini padanya? Lalu, apa maksud dari surat itu?"


Ingin sekali dia menanyakan semua itu pada Calvin, tetapi apakah laki-laki itu akan mengatakan semua ini dengan jujur padanya?


"Tidak, dia pasti tidak akan memberitahukannya padaku. Kalau memang dia mau memberitahukannya, pasti sudah dari dulu dia lakukan."


Ya, Zanna tidak akan menanyakan semua ini pada Calvin. Namun, apa yang harus dia lakukan sekarang? Ada banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya, harus pada siapa dia menanyakan semua ini?


"Sayang, kau di mana?"


Tubuh Zanna terjingkat kaget saat mendengar suara Calvin. Dengan cepat dia kembali meletakkan kotak hitam itu ke dalam lemari dan menjauh dari lemari tersebut.


"Sayang!" Calvin keluar dari kamar sambil mengusap tengkuknya yang terasa sangat berat. Dia lalu melihat ke sana kemari untuk mencari keberadaan Zanna.


Zanna yang sudah berada di dapur, mengeluarkan beberapa bahan masakan dan berpura-pura sedang menyiapkan menu untuk sarapan mereka pagi ini.


"Sayang, apa yang kau lakukan?" Calvin masuk ke dapur dan langsung mendekati Zanna.


Zanna menolehkan kepalanya ke arah belakang. "Kau sudah bangun?" Dia lalu kembali melihat ke arah sayuran yang sedang di potong-potong.


Calvin mengangguk lalu memeluk tubuh Zanna dari belakang. "Ini masih terlalu pagi, tapi kenapa kau sudah bangun?"


Ingin sekali Zanna menghunjamkan pisau yang ada dalam genggamannya ke tangan Calvin yang saat ini memeluknya dengan erat, tetapi dia mencoba untuk menahan diri sebelum keinginannya tercapai.


"Aku ingin menyiapkan sarapan untukmu, sudah lama sekali 'kan, kau tidak makan masakanku?"

__ADS_1


Calvin merasa senang dengan apa yang Zanna katakan, kini dia semakin mengeratkan pelukannya membuat wanita itu memegang lengannya yang kekar.


"Tapi aku tidak mau kau repot, Sayang. Dari pada sibuk masak, bagaimana jika kita melakukan hal lain, hem?" Calvin mulai mengecupi tengkuk Zanna membuat bulu kuduk wanita itu langsung meremmang.


Jujur saja, Zanna amat sangat merindukan sentuhan sang suami. Bahkan dia ingin langsung melompat ke tubuh Calvin saat pertama kali bertemu dengan laki-laki itu, tetapi tidak untuk kali ini.


Alih-alih merasa senang karena sudah lama tidak disentuh oleh Calvin, Zanna malah merasa jijik dengan sentuhan laki-laki itu saat ini. Apalagi saat mengingat kalau ada wanita lain yang selama ini menghangatkan ranjang suaminya.


"Maaf, Calvin. Saat ini aku sedang datang bulan,"


"Apa?" Calvin memekik kaget dan langsung meletakkan tangannya di tubuh bagian bawah Zanna, dia ingin langsung memeriksa apakah wanita itu berkata jujur atau tidak.


"Sayang, aku benar-benar sedang datang bulan." Zanna menahan tangan Calvin yang sudah menyentuh celananya. "Aku sudah lama merindukan sentuhanmu, bagaimana mungkin aku berbohong?"


Calvin mendadak jadi lemas dan melepaskan pelukannya, dia lalu berjalan gontai ke arah meja makan dan duduk di kursi.


Tiba-tiba, Zanna kembali mengingat masalah berlian yang ada di tangan Calvin. Dia harus berusaha mendapatkan informasi tentang semua itu, walaupun tidak secara langsung.


"Oh ya, Calvin. 2 bulan lagi peringatan kematian ayah. Apa kau bisa pulang ke rumah kita?" tanya Zanna, dia ingin mulai bertanya tentang apa yang disembunyikam oleh laki-laki itu.


"Tentu saja, Sayang. Aku akan pulang dan menemanimu," jawab Calvin.


"Baguslah. Akhir-akhir ini aku sangat merindukan ayah, aku sering melihat-lihat barang peninggalannya dulu, dan aku jadi teringat tentang benda itu. Apa ayah masih menyimpannya?"


Deg.


Calvin yang baru saja menuang air ke dalam gelas langsung kaku saat mendengar apa yang Zanna katakan, sementara Zanna sendiri melirik ke arah laki-laki itu dengan tajam.


"Apa kau tau tentang benda itu, Calvin?"

__ADS_1


Calvin langsung melihat ke arah Zanna dengan gugup. "Be-benda apa, Sayang? Aku, aku tidak mengerti."


"Aku juga tidak tau, Calvin. Hanya saja ayah pernah bilang kalau menyimpan benda yang sangat penting untukku, tapi enggak tau itu apa."


Calvin bernapas lega saat mendengar ucapan Zanna. "Mungkin itu barang-barang yang ada di dalam rumah, Sayang. Kau tidak perlu memikirkannya."


Zanna mengangguk paham. "Ternyata benar, kau sengaja tidak memberitahukan berlian itu padaku, Calvin. Aku tidak tau kau sengaja melakukannya, atau ayah yang menyuruh. Tapi kau juga tidak tau, kalau sebenarnya ayah pernah menunjukkan benda itu padaku."


"Baiklah, lupakan saja tentang semua itu. Jadi, jam berapa kau ke kantor?" tanya Zanna kemudian mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Jam 9, Sayang. Setelah itu aku akan mengambil cuti untuk menemanimu selama di sini."


Zanna kembali mengangguk. "Bagus. Aku bisa mengamankan berlian itu selagi dia pergi, aku juga bisa menjalankan rencanaku untuk membalas mereka."


"Kalau gitu aku mandi dulu, Sayang." Calvin beranjak bangun dari kursi dan langsung mengecup bibir Zanna membuat wanita itu tersentak. "Manis sekali, aku sangat menyukai bibirmu ini."


Zanna tersenyum lebar penuh kepalsuan saat mendengar ucapan Calvin. "Benarkah? Apa bibir Rere tidak semanis bibirku?"


Calvin langsung diam saat mendengar pertanyaan yang Zanna ucapkan. "Sayang, kita sudah melupakan masalah itu dan aku juga sudah minta maaf. Bisakah kita tidak membahasnya lagi?"


"Tentu saja, Calvin. Sesuai dengan keinginanmu. Andai saja semua yang ada didunia ini bekerja sesuai dengan apa yang kau katakan tadi, sudah pasti tidak akan ada orang-orang yang masuk ke dalam penjara."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2