
Venzo menatap Ella dengan sedih, sungguh dia tidak sanggup untuk mengatakannya. Apalagi jika sampai terjadi sesuatu dengan Ella, maka dia pasti tidak akan bisa mengendalikan diri.
"Aku mohon katakan, Venzo. Katakan semuanya sebelum terlambat," paksa Ella, lebih baik dia tahu semuanya saat ini juga.
Venzo menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan mengatakannya, Ella. Tapi aku harap kau bisa mengendalikan diri, jika terjadi sesuatu denganmu dan juga bayi itu. Maka aku pasti akan membunuh pamanmu itu."
Ella menganggukkan kepalanya. "A-aku, aku pasti akan baik-baik saja, Venzo." Dia menatap laki-laki itu dengan sendu.
Venzo menarik napas panjang sebelum mengatakannya. "Sebenarnya, sebenarnya pamanmu itu seorang psik*opat, Ella."
Deg.
Dada Ella terasa seperti dihantam oleh sebuah batu besar saat mendengar apa yang Venzo katakan. "Psi-psik*opat? A-apa maksudnya?" Dia menatap tajam dengan napas yang mulai terasa berat.
"Dia sering menggunakan pisau, gunting dan benda tajam lainnya untuk membedah tubuh manusia dan memotong-motongnya."
Deg.
Ella terdiam dengan tubuh kaku dengan apa yang Venzo katakan. Tubuhnya seolah mati dan tidak bisa untuk digerakkan, bahkan dadanya juga terasa sesak seakan napas tercekat di tenggorokan.
Lalu tiba-tiba ingatan tentang kejadian beberapa waktu yang lalu berputar di kepala Ella, yaitu tentang pamannya yang memegang pisau sambil membelah perut binatang.
"Dia, dia memotong-motong manusia?" Pandangan Ella tampak kosong dan menatap lurus ke depan.
"Ella, kau baik-baik saja?" Venzo menepuk-nepuk pipi Ella yang memandang dengan kosong.
"Dia, dia memotong-motong manusia?"
"Ella, tolong dengarkan aku. Semua akam baik-baik saja, hem." Venzo terus mencoba untuk menyadarkan Ella yang seakan-akan kehilangan nyawanya, dan tidak bisa melakukan apa-apa. "Lihat aku, Ella. Ella!" Dia memekik kaget saat tiba-tiba Ella jatuh pingsan.
"Gio, Gio!" teriak Venzo untuk memanggil kepala pelayan yang ada di rumah itu.
Gio berlari dari arah dapur dengan tergopoh-gopoh saat mendengar teriakan sang tuan. "I-iya, Tuan."
"Cepat panggil Dokter!" Venzo langsung menggendong Ella dan membawanya ke kamar.
"Ba-baik, Tuan." Gio merasa terkejut saat melihat Ella pingsanz, dia lalu segera menghubungi Dokter dan memintanya untuk datang.
Venzo membaringkan tubuh Ella di dalam kamarnya, dengan cepat dia mengambil minyak kayu putih untuk menyadarkan wanita itu.
"Ella, bangunlah. Aku mohon." Venzo mengoleskan minyak itu ke telapak kaki dan juga telapak tangan. Kemudian disekitaran leher juga ujung hidung Ella. "Sayang, aku mohon bangunlah. Maafkan kau, aku mohon maafkan aku." Air mata Venzo menetes membasahi wajah dengan tangan terkepal erat.
__ADS_1
"Kau lihat saja, Zaydan. Aku pasti akan membalasmu dan menjebloskanmu beserta teman-temanmu ke dalam penjara, kau lihat saja." Venzo benar-benar sangat murka. Dia lalu menghubungi sekretarisnya dan meminta laki-laki itu untuk datang ke mansion saat ini juga.
Tidak berselang lama, datanglah Dokter pribadi keluarga Venzo dan langsung memeriksa keadaan Ella.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Tuan? Kenapa nona ini bisa pingsan?" tanya Dokter tersebut sambil memeriksa denyut nadi Ella.
"Dia sangat terkejut karena sesuatu, Dokter. Aku yakin kalau jiwanya pasti terguncang."
Dokter itu menghela napas kasar saat mendengar ucapan Venzo. "Seharusnya Anda tidak membiarkan ini terjadi, Tuan. Saat ini dia sedang hamil, dan akan sangat beresiko pada kehamilannya jika ada sesuatu yang mengguncang jiwanya. Itu akan membuat kandungannya tidak stabil."
Venzo terdiam dengan apa yang Dokter itu katakan, dia merasa menyesal karena sudah mengatakan semua itu pada Ella.
"Saat ini tekanan darahnya cukup normal, dan denyut nadinya sedikit lebih cepat dari para wanita hamil biasanya. Semoga tidak terjadi sesuatu dengan kandungannya,"
"Apa kita harus membawanya ke rumah sakit?" tanya Venzo.
"Untuk sekarang sepertinya tidak, Tuan. Saya akan memasang infus untuknya, dan jika sampai 2 jam nona tidak sadarkan diri. Maka kita akan membawanya ke rumah sakit."
Venzo menganggukkan kepalanya sambil mengusap puncak kepala Ella, dia menatap wanita itu dengan sendu membuat Dokter yang sedang memasang infus tersenyum simpul.
"Saya akan menunggu di luar bersama dengan Gio, Tuan. Panggil saja jika terjadi sesuatu."
Venzo mengusap keringat yang ada di kening Ella, padahal ruangan itu memiliki AC tetapi wanita itu tetap saja mengeluarkan keringat.
"Aku mohon sadarlah, Ella. Aku mohon." Dia menggenggam tangan Ella dan berbaring di sampingnya, lalu tangan yang satu lagi mengusap puncak kepala wanita itu.
Dalam tidur Ella, dia seperti bertemu dengan kedua orang tuanya dan terlihat sedang menjalankan aktivitas seperti biasa di rumah itu. Tampak Kakek Zaron, Zaydan, Rosa, dan sih kecil Zavier yang sedang berlarian ke sana kemari.
Seluruh ingatan lalu memenuhi kepala Ella. Tentang kesehariannya di rumah, sekolah serta saat bersama dengan Venzo. Semua tampak jelas dalam ingatannya.
"Papa, apa ginjal dan jantung itu dijual?"
"Kau, kau bilang apa, Sayang?" tanya papa Zean yang saat ini sedang menikmati secangkir kopi buatan sang istri.
"Iya, Sayang. Kenapa kau bertanya seperti itu, hem?" tanya seorang wanita yang merupakan ibu Ella.
"Aku mendengarnya dari paman, Pa. Katanya dia mencari ginjal dan jantung untuk dijual."
Sepasang suami istri itu terkejut saat mendengarnya. "Ti-tidak usah dipikirkan ya, Sayang. Paman pasti sedang bercanda dengan temannya." Papa Zean mengusap puncak kepala Ella.
"Minggu depan kita akan liburan, apa Ella udah menyiapkan pakaian yang akan dibawa?" tanya mamanya membuat Ella langsung menggeleng. "Ya sudah. Kalau gitu kita belanja yuk, kita ajak bibi sama Zavier juga, ayo!"
__ADS_1
Ella mengernyitkan keningnya saat mengingat semua kenangan itu, keringat mengucur deras di seluruh tubuh hingga membuat pakaiannya basah.
Venzo yang ada di samping Ella ternyata ketiduran, hingga dia tidak sadar jika saat ini wanita itu mengernyitkan keningnya.
Duar.
Tiba-tiba ada sesuatu yang meledak membuat papa Zean menghentikan mobilnya, sontak anak buah yang ada di mobil belakang keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Tanpa disangka-sangka, datanglah sekelompok orang yang langsung menyerang mereka membuat Ella dan kedua orang tuanya terkejut. Papa Zean segera keluar untuk membantu para anak buahnya, sementara Ella dan sang mama menunggu di dalam mobil.
Ella berteriak ketakutan saat melihat semua itu, tetapi mamanya memeluknya dengan erat dan mencoba untuk memberi ketenangan.
Banyaknya orang membuat papa Zean dan semua anak buahnya kalah, kemudian mereka memaksa Ella dan mamanya untuk keluar dari mobil. Kedua orang tua Ella berusaha meleindunginya mati-matian, dan memerintahkan Sendi untuk membawa Ella pergi dari tempat itu.
"Tidak, tidak. Mama, papa. Aku, aku tidak mau pergi!" teriak Ella sambil membuka kedua matanya membuat Venzo terlonjak kaget.
"Ella, kau, kau sudah sadar?" Venzo langsung memanggil Dokter sambil mengambilkan air untuk Ella. "Minum dulu, Ella."
Napas Ella tersengal-sengal membuat dadanya terasa sesak, dia lalu menerima air yang Venzo berikan dan meminumnya dengan tangan gemetaran.
"Anda sudah sadar, Nona?" Dokter itu duduk di samping Ella membuat wanita itu menoleh ke arahnya. "Apa yang Anda rasakan, Nona? Apa Anda merasa mual?"
Ella menggelengkan kepalanya, dia lalu memegang dadanya yang terus berdebar-debar. "Sakit, dadaku sangat sakit." Air mata kembali keluar membasahi wajahnya.
"Jangan menangis, Ella. Aku mohon." Venzo mengusap air mata yang ada diwajah Ella, sementara Dokter itu kembali melakukan pemeriksaan.
"Venzo, mama dan papa. Mereka, mereka-"
"Sssh, tenanglah. Ada yang akan menemanimu, hem?" Venzo kembali memeluk tubuh Ella membuat wanita itu kembali terisak.
"Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Anda, Nona. Tapi saya mohon tolong jangan menangis lagi dan kendalikan diri Anda, kasihan bayi yang ada dalam kandungan Anda jika ibunya terus bersedih."
Ella langsung mengusap perutnya dengan lembut sambil menundukkan kepalanya. "Saya, saya akan berusaha, Dokter."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1