
Beberapa saat kemudian, Naomi sudah sampai di bandara dan segera memarkirkan mobilnya. Dia tersenyum saat melihat Zanna yang ternyata sedang terlelap, lalu memutuskan untuk keluar dari mobil tersebut.
"Selamat datang, Nona," sapa seorang lelaki pada Naomi sambil menundukkan kepalanya.
"Apa semua sudah siap?" tanya Naomi sambil melihat ke arah pesawat pribadi yang khusus dipersiapkan untuk Zanna.
"Semua sudah siap, Nona. Kita bisa berangkat sekarang."
Naomi menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Tunggu 15 menit lagi, nona muda masih tidur."
Laki-laki itu lalu pamit untuk kembali melakukan pemeriksaan sebelum berangkat, sementara Naomi kembali masuk ke dalam mobil.
Zanna menggeliatkan tubuhnya saat mendengar suara pintu tertutup, dengan perlahan dia mengerjapkan kedua matanya dan melihat ke sekeliling tempat.
"Anda sudah bangun, Nona?" tanya Naomi membuat Zanna melihat ke arahnya.
"Maaf, aku tidur terlalu lama ya?" ucap Zanna dengan tidak enak hati membuat Naomi tersenyum.
"Nona tidak perlu minta maaf, Nona bisa tidur selama apapun yang Anda mau." Ucapannya jelas membuat Zanna langsung menggelengkan kepala. "Tapi Nona, saat ini pesawat sudah siap untuk berangkat. Apakah kita bisa berangkat sekarang?"
"Tentu saja." Zanna langsung mengambil tasnya dan segera turun dari mobil, begitu juga dengan Naomi yang ikut beranjak turun dari sana.
"Selamat datang, Nona."
Zanna tercengang saat melihat sambutan dari beberapa orang. Mendadak dia jadi gugup karena tidak pernah diperlakukan seperti ini.
"Se-selamat siang juga, semuanya," jawabnya dengan ragu-ragu membuat Naomi merasa gemas.
Zanna lalu mendekati Naomi dan menarik lengan wanita itu. "Naomi, apa-apaan semua ini? Kenapa mereka melakukan hal seperti ini? Membuat aku malu saja." Dia merasa frustasi sendiri.
__ADS_1
"Mereka hanya ingin menyambut Anda, Nona. Dan saya merasa jika tidak ada yang salah dengan semua ini,"
"Apanya yang tidak salah? Tentu saja salah besar! Memangnya aku seorang ratu apa, yang harus disambut seperti ini?" Dia lalu melepaskan lengan Naomi dengan sebal.
"Anda kan, memang ratu masa kini Nona." Lagi-lagi Naomi hanya bisa mengatakan semua itu di dalam hati saja.
"Maafkan saya, Nona," ucap Noami pada akhirnya.
Zanna menghela napas kasar. "Sudahlah, lupakan saja."
Kemudian mereka berdua segera masuk ke dalam pesawat pribadi milik keluarga Zanna, dengan diikuti oleh semua lelaki yang ada di tempat itu.
Zanna memperhatikan seluruh isi dari pesawat itu dengan kagum. Betapa mewah dan indahnya hiasan maupun ukiran yang ada di pesawat itu, membuat Zanna sangat senang untuk menatapnya.
"Kita akan menghabiskan waktu selama kurang lebih 2 jam untuk sampai ke sana, Nona. Jadi, Anda bisa istirahat dulu di dalam kamar," ucap Naomi sambil menunjuk ke arah di mana kamar berada.
"Ada, Nona. Apa Anda ingin saya antar?" tawar Naomi membuat Zanna langsung menganggukkan kepala.
Naomi segera membawa Zanna ke kamar yang ada di pesawat itu, dia juga memerintahkan anak buahnya untuk mengambilkan makanan dan minuman untuk sang nona.
"Wah, pesawat pribadi memang beda sekali ya." Zanna manatap kagum saat masuk ke dalam ruangan yang ternyata adalah sebuah kamar.
"Ini ada makanan dan juga minuman untuk Nona, saya akan meletakkannya di atas meja."
Zanna mengangguk paham. Setelahnya Naomi keluar dari ruangan membuat dia merebahkan diri ke atas ranjang.
"Hah." Zanna menghela napas kasar. "pesawat ini benar-benar sangat bagus, dan pasti harganya juga sangat mahal." Dia tidak bisa membayangkan sekaya apa keluarganya hingga bia membeli pesawat seperti ini, bahkan mereka juga punya sepasang berlian yang sangat mahal dan juga langka.
Pada saat yang sama, Calvin dan juga Rere sudah berada di ruang perawatan. Tabrakan yang terjadi tadi membuat tulang kaki Calvin menjadi patah, dan dia harus dirawat di rumah sakit.
__ADS_1
"Si*alan. Gara-gara mereka aku jadi merasa sakit seperti ini." Geram Calvin. Dia harus segera sembuh agar bisa membalas mereka.
Rere yang duduk di samping ranjang hanya diam mendengar kemarahan Calvin, dia sendiri juga ikut merasa kesal karena Zanna merusak pesta pernikahan mereka.
"Aku akan keluar sebentar, Mas," ucap Rere, dia ingin membeli minuman karena tenggorokan nya terasa sangat kering.
Rere lalu beranjak keluar dari ruangan saat sudah mendapat anggukan Calvin, dan entah kenapa dia merasa semua orang yang ada di sana sedang menatapnya.
"Bukannya dia wanita yang lagi viral itu?"
"Iya benar. Dia pelakor yang sudah berhasil menikah dengan suami orang."
Rere mengepalkan tangannya dengan geram saat mendengar apa yang mereka bicarakan. Ingin sekali dia memarahi orang-orang itu tetapi tidak ingin membuat keributan di rumah sakit.
Sepanjang jalan keluar dari rumah sakit, orang-orang terus menatap Rere dengan sinis dan juga mencibir apa yang sudah wanita itu lakukan.
"Si*alan. Kenapa kalian tidak mengurus diri kalian sendiri, sih?" Rere merasa emosi dan tidak bisa lagi menahan diri dengan apa yang orang-orang katakan.
"Kenapa, apa kau tidak suka dengan apa yang kami katakan, Pelakor? Kau ingin merebut suami kami juga?"
Rere mengepalkan tangannya dengan erat. "Urus saja diri kalian sendiri dan jangan pedulikan aku!" Dia lalu berlari keluar dengan mata berkaca-kaca
•
•
•
Tbc.
__ADS_1