Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 59. Mansion Keluarga Venzo.


__ADS_3

Ella dan juga Rosa terdiam saat mendengar apa yang Venzo katakan, otak mereka sedang berusaha mencerna maksud dari perbuatan laki-laki itu.


"Sudahlah, percaya saja dengan apa yang aku katakan. Dan nanti aku akan menemanimu ke sana," ucap Venzo lagi membuat Ella menghembuskan napas kasar.


Setelahnya mereka segera menikmati makanan dan minuman yang baru saja disajikan oleh pelayan, dan mereka semua menikmati makanan itu dalam diam dengan pikiran melanglang buana ke mana-mana.


Kemudian Venzo meminta izin pada Rosa untuk membawa Ella ke mansionnya karena ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan, membuat wanita itu terdiam.


"Kami tidak akan pulang larut malam karena dia masih harus istirahat," ucap Venzo membuat Rosa menghela napas kasar.


"Baikalah. Tapi tolong kabarin saya jika kalian sudah berangkat pulang, supaya saya bisa menunggu kalian di gerbang depan."


Venzo dan Ella mengernyitkan kening mereka saat mendengar ucapan Rosa, sementara wanita itu mulai panik.


"Ma-maksudnya supaya kita bisa pulang secara bersamaan, Ella. Kau tau sendiri jika kakek tidak terlalu suka membiarkanmu dan tuan Venzo berduaan."


Ella mengangukkan kepalanya. "Aku mengerti, Bibi. Kami tidak akan lama kok." Awalnya dia tidak mau, tapi saat Venzo mengirimkan sesuatu ke ponselnya. Maka dia langsung setuju.


Setelahnya mereka sama-sama pergi dari tempat itu ke tujuan masing-masing, dan Rosa memilih untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya sambil menunggu Ella.


Venzo membawa Ella ke mansionnya untuk menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan Zaydan, dan tentu saja wanita itu harus melihatnya secara langsung.


Setelah menghabiskan waktu selama 15 menit, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Ella tampak terpukau dengan kemewahan mansion milik Venzo, apa lagi dengan gaya bangunan nya yang sangat indah membuat siapa saja langsung jatuh cinta.


"Ayo, kita masuk!"


Ella menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Venzo untuk masuk ke dalam mansion itu, terlihat beberapa orang penjaga menundukkan kepala mereka saat melihatnya.


"Selamat siang, Tuan, Nona." Gio menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyum lebar.


"Siapkan makanan dan minuman ringan untuk Ella, Gio,"


Ella langsung mengibas-ngibaskan tangannya. "Itu tidak perlu, Paman. Aku masih sangat kenyang sekali."


Gio tersenyum saat mendengar panggilan Ella padanya yang sejak kecil tidak pernah berubah. "Ini hanya cemilan ringan saja, Nona. Silahkan masuk." Dia lalu mempersilahkan Ella untuk masuk.

__ADS_1


Ella mengedarkan pandangannya ke seluruh mansion itu yang sangat tidak asing untuknya, lalu tiba-tiba langkahnya terhenti saat suatu ingatan muncul di kepalanya.


Venzo yang tidak lagi mendengar langkah kaki Ella menoleh ke belakang, dia lalu menghampiri wanita itu dengan bingung. "Ada apa, Ella? Apa kau merasa tidak nyaman?"


Ella terdiam sambil mencoba untuk mengingat semua hal yang pernah dia lakukan di mansion ini, tentu saja bersama dengan Venzo.


"Ella, kau baik-baik saja?" Venzo merasa sangat khawatir sambil memegangi tubuh Ella karena takut jika tiba-tiba wanita itu pingsan.


"Kita, kita pernah lomba lari dari halaman depan sampai ke dalam sini. Kita juga kita pernah memecahkan guci milik tante yang ada di ujung ruangan gara-gara aku mendorongmu, lalu, lalu-" Ella tidak bisa lagi melanjutkannya karena ingatan yang lain masih samar-samar.


Venzo langsung memeluk tubuh Ella dengan erat. "Kau, kau sudah mengingatnya? Kau sudah mengingatku?" Dia benar-benar merasa bahagia.


"A-aku hanya bisa mengingatnya sedikit saja." Tubuh Ella menjadi kaku karena berada dalam pelukan laki-laki itu, bahkan jantungnya sedang berdegup kencang saat ini.


"Itu bagus, Ella. Sedikit demi sedikit kau bisa mengingatku, dan itu sudah lebih dari cukup." Venzo benar-benar tidak bisa berkata apa-apa untuk mengungkapkan rasa bahagianya saat ini.


Ella sendiri hanya diam dalam pelukan itu. Entah kenapa ingatan tadi membuat hatinya terasa sangat hangat, bahkan dia tidak tahu kenapa saat ini dia merasa bahagia.


"Ternyata membawamu ke sini adalah keputusan yang tepat. Ayo, kita ke dalam." Venzo lalu menggandeng tangan Ella dan membawanya masuk ke dalam mansion itu.


Gio lalu menyajikan segelas jus segar untuk Ella dan secangkir kopi untuk Venzo, tidak lupa cemilan untuk menemani obrolan mereka saat ini.


"Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan padaku, Venzo?" tanya Ella setelah Gio pergi meninggalkan mereka.


Venzo menatap Ella dengan tajam. "Sebelum itu, berjanjilah kalau kau akan baik-baik saja dengan apapun yang aku tunjukkan padamu. Juga berjanjilah kalau kau akan selalu bersamaku dan tidak bertindak gegabah."


Ella mengernyitkan keningnya saat mendengar semua perkataan Venzo. "Baiklah. Aku berjanji akan menuruti semua yang kau katakan tadi. Jadi, katakanlah semuanya padaku dan jangan ada yang kau tutup-tutupi dariku." Entah kenapa dia merasa cemas dan juga gelisah.


"Tunggu sebentar." Venzo beranjak pergi dari tempat itu menuju ruang kerjanya, dia ingin mengambil sesuatu yang berhasil di temukan oleh Leo.


Ella menunggu Venzo dengan perasaan tidak menentu. Rasa gelisah, cemas, dan takut menjadi satu dalam hatinya saat ini. "Ya Tuhan, aku mohon berikan hal baik padaku. Dan jauhkanlah hal buruk dariku, aku mohon." Dia memanjatkan do'a agar Venzo memberikan sesuatu yang baik untuknya.


Tidak berselang lama, Venzo kembali ke tempat itu dengan membawa laptop dan juga beberapa lembar kertas di tangannya. Dia lalu meletakkan semua itu di atas meja, tepat di hadapan Ella.


"Bacalah kertas itu, Ella. Di dalamnya tertulis perjanjian antara pamanmu dan kelompok yang telah menyerangmu dan kedua orangtuamu saat malam itu."


Ella langsung mengambil kertas itu dan membacanya dengan seksama. Setelah selesai, dia kembali meletakkannya di atas meja.

__ADS_1


"Paman punya urusan bisnis dengannya, jadi wajar saja jika mereka saling bertemu. Aku rasa itu tidak bisa membuktikan bahwa paman terlibat dalam serangan itu."


Venzo menganggukkan kepalanya. "Apa kau tau, perjanjian itu tentang apa?"


Ella menggelengkan kepalanya. "Tidak ada tertulis di kertas itu tentang perjanjian yang mereka lakukan."


"Dengarkan aku baik-baik, Ella. Pamammu menjalin kerja sama dengan mereka dalam perdagangan organ-organ manusia."


"A-apa?" Ella terlonjak kaget saat mendengarnya. Tangannya menutup mulut dengan gemetaran, bahkan wajahnya langsung pucat. "Ka-kau, kau tidak salah?"


Venzo menggelengkan kepala, dia lalu mengambil laptop itu dan mengotak-ngatiknya untuk menunjukkan sesuatu. "Lihatlah ini, Ella."


Sebuah video berputar tentang transaksi yang terjadi antara Zaydan dengan seorang lelaki berpakaian serba hitam, dan terdengar jelas bahwa mereka sedang membicarakan organ-organ apa saja yang dipesan oleh pelangan mereka.


Ella tidak bisa menahan keterkejutannya hingga air mata jatuh membasahi pipi, dia memejamkan kedua matanya karena tidak sanggup melihat organ-organ manusia yang tampak dalam video tersebut.


Venzo langsung mematikan video itu saat melihat Ella sangat syok, sementara wanita itu terisak sambil menutup wajahnya dengan kasar.


Isak tangis Ella menggema di tempat itu membuat Venzo ikut merasa sedih, dia lalu menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. "Tenanglah, Ella, ada aku di sini."


"Kenapa, kenapa paman melakukan itu?" ucap Ella dengan terbata-bata, dia benar-benar tidak menyangka jika paman yang dia hormati menjalankan bisnis ilegal seperti itu.


Venzo terus memeluk tubuh Ella dengan erat. "Ini belum apa-apa, Ella. Kau pasti akan langsung pingsan jika aku menunjukkan siapa pamanmu yang sebenarnya." Dia tidak sanggup untuk memberitahu Ella tentang semuanya.


Setelah merasa cukup tenang, Ella melepaskan tangan Venzo dari tubuhnya dan menatap laki-laki itu dengan sendu. "Apa ada lagi yang ingin kau tunjukkan, Venzo? Aku, aku ingin mengatahuinya saat ini juga."


Venzo menghela napas kasar. "Ella, aku tidak akan sanggup melihat kau sedih seperti ini. Aku, aku juga tidak mau terjadi sesuatu denganmu." Dia menatap Ella dengan sendu.


Ella menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa, Venzo. Aku mohon katakan semuanya, katakan apa saja yang sudah dilakukan oleh keluargaku."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2