Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 45. yang Terlihat Belum Tentu Sama Dengan Kenyataan.


__ADS_3

Calvin dan Rere tepaksa pergi dari tempat itu sebelum mereka melaporkannya pada polisi. "Lihat saja, rumah itu pasti akan kembali menjadi milikku!" Calvin menunjuk ke arah mereka semua dengan kesal dan tajam.


Akhirnya mereka kembali masuk ke dalam mobil dan terpaksa mencari hotel yang berada di sekitaran tempat itu untuk sementara waktu.


"Aaargh. Dasar wanita si*alan! Aku pasti akan menghancurkanmu!" Calvin mengamuk di dalam kamar sebuah hotel yang sudah mereka sewa, sementara Rere memilih untuk keluar karena pusing mendengar suara teriakan Calvin.


"Apa dia sudah benar-benar bersama keluarganya? Si*al. Aku tidak mendapatkan apapun selama ini." Calvin merasa frustasi sendiri. Dia gagal mendapatkan harta Zanna, dan sekarang dia dipecat bahkan sudah tidak punya rumah lagi untuk tempat berteduh.


Calvin harus segera mencari pekerjaan baru agar bisa menyusul wanita itu ke negara sebelah, dia harus menemuinya dan menuntut hak atas harta selama pernikahan.


Rere yang baru keluar dari hotel terlihat duduk di taman yang ada di samping hotel tersebut. "Si*al sekali aku menikah dengan mas Calvin. Kami dipecat dan sekarang tidak punya rumah. Mau makan apa kami setelah ini?" Dia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Uang tabungannya sudah habis untuk biaya pernikahan semalam, dan uangku juga sudah aku kirim ke kampung. Hanya tersisa sekitar 10 juta lagi, itu tidak akan cukup untuk makan dan yang lainnya selama sebulan ini. Aku harus segera mencari pekerjaan." Rere lalu mengambil ponselnya dan melihat-lihat lowongan pekerjaan yang ada di internet.


Sementara itu, di tempat lain terlihat Ella sudah kembali pulang ke rumah. Dia segera masuk ke dalam kamar karena kepalanya terasa sangat pusing, dan sepertinya dia sangat kelelahan hari ini."


"El, Bibi boleh masuk?"


Ella yang sudah merebahkan tubuhnya di kamar kembali duduk saat mendengar suara sang bibi. "Iya, Bi. Masuk saja."


Rosa segera masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas air jahe hangat yang ada di atas nampan. Dia lalu meletakkannya di atas meja yang ada di samping ranjang.


"Kenapa wajahmu pucat sekali, El? Apa sih kecil rewel?" Rosa mengusap perut Ella dan menyuruhnya untuk berbaring.


Ella mengikuti apa yang bibinya itu inginkan. "Tidak kok, Bi. Aku hanya merasa pusing sedikit." Dia mengulas senyum tipis lalu melirik ke arah gelas yang ada di atas meja.


"Oh iya, bibi buatkan air jahe untukmu. Ini sangat bagus sekali untuk menghangatkan dan menambah stamina." Rosa mengambil gelas berisi air jahe itu dan kembali meminta Ella untuk duduk.

__ADS_1


"Terima kasih, Bi. Seharusnya Bibi tidak perlu repot-repot seperti ini,"


"Repot apa sih, El. Cuma air aja kok." Dia lalu memberikannya pada Ella yang diterima dengan penuh suka cita.


Ella meminum air jahe itu sedikit demi sedikit, sampai tidak terasa akhirnya habis tidak tersisa. "Hah, airnya sangat segar sekali, Bi. Kepalaku sudah tidak pusing lagi."


"Syukurlah jika seperti itu. Ya sudah, lebih baik sekarang kau istirahat saja, biar Bibi buatkan sup untuk makan malam."


Ella segera menggeser tubuhnya untuk turun dari ranjang membuat Rosa menjadi kebingungan.


"Ella, kau mau ke mana? Jangan terlalu banyak bergerak." Dia menahan kaki Ella yang sudah akan memijak lantai.


"Bi, aku ingin membantu Bibi untuk menyiapkan makan malam. Boleh ya," pinta Ella. Dia merasa tidak enak karena dari semalam hanya tahu makan saja, walaupun sudah ada koki yang bertugas untuk memasak.


"Kamu 'kan masih pusing, Sayang. Lebih baik istirahat saja, Bibi cuma mau buatin kamu sup kok. Selebihnya kan sudah ada koki," ucap Rosa memberitahu, tetapi tetap saja Ella merasa tidak enak.


"Tapi Bi-"


Setelah memastikan Ella istirahat, Rosa segera keluar dari kamar. Dari dulu hingga sekarang rasa sayangnya memang tidak pernah luntur, apalagi dia sudah menganggap Ella sebagai putrinya sendiri.


"Ella. Bibi tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu, bibi janji akan selalu melindungimu dan anak yang ada dalam kandunganmu itu."


"Mama, kenapa melamun di sini?"


Rosa terjingkat kaget saat tiba-tiba Zavier sudah berdiri di hadapannya. "Dasar anak nakal. Suka sekali mengejutkan mama." Dia mengusap dadanya yang berdebar-debar."


"Abisnya Mama melamun di depan kamar Kakak, udah gitu di tengah jalan pula."

__ADS_1


Rosa langsung melihat ke sekelilingnya dan tersenyum karena apa yang putranya katakan adalah benar. "Iya-iya kau yang benar."


Zavier langsung mencebikkan bibirnya, lalu tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. "Oh iya, Ma. Tadi kak Ella bertemu dengan tuan Venzo."


"Benarkah? Apa terjadi sesuatu dengannya?" Rosa langsung panik dan khawatir.


Zavier lalu menceritakan semua yang terjadi dengan mereka saat berada di pantai, sekaligus kedatangan kakek Zaron yang menyelamatkan mereka dari Venzo.


"Sudah kuduga, dia tidak akan pernah menyakiti Ella," gumam Rosa yang tidak bisa di dengar oleh Zavier.


"Dengar, Nak. Kau harus selalu melindungi kakakmu di mana pun berada jika sedang bersamanya, karena mama juga akan melindungi kakakmu,"


"Memangnya kenapa sih, Ma? Apa mama takut dengan tuan Venzo?"


Rosa langsung menggelengkan kepalanya. "Venzo tidak akan pernah menyakiti Ella, Nak. Dia memang laki-laki yang menyeramkan dan juga kejam, tapi selama ini dia tidak pernah menyakitinya sedikit pun. Jadi bukan dia yang mama khawatirkan."


"Mama enggak salah, ngomongin tuan Venzo seperti itu? Dia itu laki-laki berbahaya, Ma. Khususnya untuk kakak." Zavier tidak setuju dengan apa yang mamanya katakan.


"Kau belum tahu banyak tentang dia, Zavier. Terkadang orang yang tampak berbahaya itu sebenarnya tidak akan menyakiti, tetapi sebaliknya. Orang yang tenang dan baik terkadang menjadi musuh yang sangat kejam. Itu sebabnya kau harus berhati-hati pada siapa pun yang ada di dekatmu, oke?"


Walaupun tidak mengerti dengan apa yang mamanya katakan, Zavier tetap menganggukkan kepalanya dan berjanji akan selalu melindungi sang kakak.


"Semoga kejadian di masa lalu tidak terulang lagi, Tuhan. Aku mohon sadarkan dan sembuhkanlah dia."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2