
Rosa bersimpuh di lantai dengan pakaian compang-camping. Dia memeluk kedua kaki Ella sambil memohon agar wanita itu tidak melakukan semua itu.
Ella yang sudah tidak tahan langsung memeluk tubuh sang bibi dengan erat membuat wanita itu terisak dalam pelukannya. "Aku tidak akan melakukannya asal Bibi mau menceritakan semuanya padaku, aku mohon."
Rosa terus menumpahkan segala rasa sakit yang sejak dulu dia rasakan. Penderitaan yang tidak bisa dia ceritakan kepada siapapun, kini seperti meluap keluar hingga membuatnya tidak mampu untuk mengucapkan apa-apa.
Ella tetap memeluk tubuh Rosa sampai wanita itu merasa senang, dan apa yang terjadi saat ini sudah membuktikan bahwa Zaydan lah yang telah menyiksa wanita itu.
Setelah merasa tenang, Ella mengambilkan pakaian mendiang ibu Venzo untuk diberikan pada Rosa karena tidak mungkin wanita itu setengah telanjang di hadapan Venzo.
Kini mereka semua sudah duduk di atas sofa dengan Rosa yang terus menundukkan kepala, membuat Ella langsung mengusap bahunya.
"Bibi tidak membuat kesalahan, jadi Bibi tidak perlu menunduk dan takut, hem."
Rosa melihat Ella dengan sendu, dia lalu mulai menceritakan semua yang sudah terjadi padanya. Termasuk siksaan yang dilakukan oleh Zaydan, juga ancaman laki-laki itu terhadap nyawa Zavier.
"Maafkan bibi, Ella. Sebenarnya bibi sudah tidak sanggup lagi," ucap Rosa setelah selesai menceritakan semuanya.
"Sudah aku katakan jika Bibi tidak bersalah, jadi jangan meminta maaf." Ella mengusap air mata yang sejak tadi menetes saat mendengar cerita Rosa, dia tidak menyangka jika pamannya sangatlah kejam.
"Jadi, apa dia juga yang sudah mencelakai kedua orangtua Ella, Bibi?
Deg.
Rosa langsung terdiam dengan tubuh kaku, tetapi air matanya semakin deras keluar.
"Apa paman juga yang telah mencelakai orang tuaku, Bibi? Yang sudah membunuh kakak dan kakak iparnya sendiri?"
Rosa menundukkan kepalanya. "Bibi tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, hanya saja Bibi tau jika dia berhubungan dengan seseorang yang telah menyerang kalian."
"Kami juga tau soal itu, Bibi. Kami juga tau bahwa dia melakukan perdagangam ilegal organ-organ manusia."
Rosa mencengkram erat kedua tangannya lalu mengangguk." Itu benar. Awalnya dia merasa terpaksa karena desakan pap, tapi akhirnya dia jadi seperti itu."
"Tunggu, Bibi bilang apa?" Ella dan Venzo sama-sama terkejut dengan apa yang Rosa katakan, sementara Rosa juga kaget karena sudah kelepasan bicara.
"Katakan, Bi. Katakan semuanya padaku, aku ingin tahu apa yang dilakukan keluargaku yang sebenarnya."
__ADS_1
Rosa lalu menceritakan semuanya karena merasa tidak ada lagi yang harus di tutup-tutupi, dan juga Ella sudah tahu tentang apa yang terjadi.
Tubuh Ella terasa sangat lemas saat mendengar bahwa kakeknya juga terlibat dalam hal ini, sungguh dia tidak sanggup untuk menerima fakta yang sangat tragis ini.
"Apa, apa kakek juga terlibat dalam pembunuhan orang tuaku? Kenapa, kenapa mereka sekejam itu? Kenapa mereka tega membunuh anak dan kakak kandung mereka sendiri?"
Venzo kembali memeluk tubuh Ella dengan erat. "Tenangkan dirimu, Ella. Ingatlah bayi yang sedang kau kandung, tolong pikirkan dia."
Ella juga ingin tenang dan tidak menangis lagi, tetapi semua terlalu menyakitkan untuknya.
"Tuan Venzo benar, Sayang. Kasihan sih kecil, dia pasti sedih karena ibunya terus menangis."
Ella menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk mengendalikan diri. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Bibi? Apa yang harus kita lakukan?"
"Kalian tidak perlu melakukan apapun, Ella. Biarkan aku yang menyelesaikannya, dan aku harus bertemu dengan wanita bernama Naomi."
"Tu-tunggu, Naomi?" tanya Ella yang langsung diangguki Venzo. "Kenapa kau mencarinya?"
Venzo lalu menceritakan tentang apa yang sudah terjadi padanya kemaren malam, termasuk apa yang Noami lakukan.
Ella dan Rosa terdiam saat mendengar apa yang Venzo katakan, dan semua itu sangat masuk akal sekali. "Tapi, di mana kita harus mencari Naomi?" Ella merasa bingung."
"Kau tenang saja, Ella. Dia sendiri yang akan datang padamu, tapi. Aku minta pada kalian untuk tetap tenang dan bersikap seperti mana biasanya, biar aku yang menyiapkan strategi untuk mereka."
Ella dan Rosa mengangguk paham. "Apa Tuan akan bekerja sama dengan polisi dan menangkap mereka?" Rosa merasa sedih sekaligus penasaran.
"Tentu saja, Bibi. Kita tidak bisa membayangkan sudah sebanyak apa manusia yang mereka bunuh dalam perdagangan itu, juga tentang kegilaan psik*opat itu. Kita tidak bisa membiarkan makin banyak orang-orang tidak bersalah yang mati di tangan mereka,"
"Kau benar, Venzo. Aku merasa sangat sedih dengan apa yang mereka lakukan, tapi aku juga merasa marah dan kasihan dengan para korban. Mungkin orang tuaku dulu juga merasa seperti ini, itu sebabnya paman, paman membunuh mereka," ucap Ella dengan senduh.
"Zaydan saja mudah melenyapkan kakak kandungnya sendiri yang sudah bersama dan menghabiskan waktu dengannya, lalu. Apa yang akan terjadi dengan kita? Dia pasti juga akan melenyapkan kita," ucap Venzo yang langsung disetujui oleh mereka. Dia sebenarnya sama sekali tidak takut dan lebih dari mampu untuk menghadapi Zaydan, tapi dia khawatir dengan Ella dan juga yang lainnya.
"Jadi untuk saat ini kita harus diam dan bertindak seperti tidak tau apapun, itu demi keselamat kita semua," sambung Venzo lagi, lalu Ella dan Rosa kembali mengangguk paham.
Setelah semuanya jelas, Rosa dan Ella segera pergi dari mansion itu untuk pulang ke rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, dan sebentar lagi hari akan gelap.
Tidak berselang lama, mereka sampai di rumah bersamaan dengan truk yang mengangkut barang-barang belanjaan mereka siang tadi. Venzo sengaja mengatur sedemikian rupa agar Zaydan tidak curiga.
__ADS_1
"Astaga, apa kalian membeli semua yang ada di mall itu?" pekik kakek Zaron saat melihat banyaknya barang belanjaan itu.
Ella dan Rosa hanya tertawa untuk menanggapi ucapan laki-laki tua itu. "Namanya juga anak pertama, Pa. Pasti seperti ini."
Zaydan dan Zavier juga memekik kaget saat melihatnya, mereka lalu membantu untuk memindahkan semua barang-barang itu.
"Nona!"
Ella yang sedang menyusun pakaian bayi terlonjak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak dia langsung menoleh ke belakang. "Astaga, Naomi!" Dia langsung memeluk wanita itu dengan erat.
"Wah, perut Anda sudah membesar, Nona." Naomi mengusap perut Ella saat pelukan itu sudah terlepas."
"Tentu saja, Naomi. Kandunganku sudah lebih dari 5 bulan, dan kau? Ke mana saja kau selama ini?" tanya Ella dengan cemberut.
"Maaf, Nona. Ada pekerjaan yang harus saya lakukan."
"Apa itu pekerjaan ilegal dari pamanku, Naomi?"
"Jadi gitu, baiklah." Ella mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi, apa kau akan kembali pergi?"
Naomi menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nona. Saya akan selalu bersama dengan Anda."
Ella tersenyum senang saat mendengarnya. "Baguslah. 4 hari lagi sidang putusan perceraianku akan dilakukan, kita bisa berangkat ke sana bersama-sama."
Naomi menganggukkan kepalanya. "Tentu, Nona."
Mereka lalu lanjut menyusun barang-barang baby boy di kamar yang nantinya akan ditempati, tidak lupa saling mengobrol dengan tentang apa yang sudah terjadi selama Ella kembali ke rumah ini.
Naomi menatap Ella dengan sendu, dia merasa sangat bersalah karena terpaksa menyembunyikan kebenaran tentang kematian kedua orang tua wanita itu. "Maafkan saya, Nona. Maafkan saya."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1