Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 64. Sidang Akhir Perceraian.


__ADS_3

Zaydan lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki semua itu, dia harus tahu dari mana pihak kepolisian mengendus barang miliknya yang berada di kapal itu.


Pada saat yang sama, Venzo dan juga Leo sudah kembali ke mansion. Mereka tampak senang karena sudah berhasil menggagalkan perdagangan ilegal itu, dan sekarang polisi akan tahu jika Zaydan lah dalang dibalik semuanya.


"Istirahatlah, Tuan. Besok Anda harus pergi bersama dengan nona Ella," ucap Leo.


"Aku tahu, Leo. Tapi entah kenapa perasaanku merasa tidak nyaman, apa akan terjadi sesuatu?" Entah kenapa Venzo merasa seperti ada yang salah.


"Mungkin karena Anda terlalu lelah, Tuan. Dan Anda tidak perlu khawatir, saya akan mengawasi semua pergerakan Zaydan."


Venzo memganggukkan kepalanya lalu beranjak masuk ke dalam kamar, sementara Leo juga masuk ke kamar yang biasa dia tempati jika sedang berada di mansion sang tuan.


****


Tepat pukul 8 pagi, Venzo sudah sampai di rumah Ella. Terlihat wanita itu sudah siap untuk berangkat dengan ditemani oleh Naomi.


Ella lalu berpamitan pada semua keluarganya untuk segera berangkat, kecuali pada Zaydan yang belum pulang ke rumah.


"Kabari jika kau sudah sampai ya, Ella."


Ella menganggukkan kepalanya lalu mengecup pipi Rosa, dia lalu melambaikan tangan dan berlalu masuk ke dalam mobil Venzo.


"Apa tidak ada yang ketinggalan?" tanya Venzo.


"Tidak, tapi entah kenapa aku mengkhawatirkan bibi dan juga Zavier." Ella menatap mereka dari balik jendela mobil.


"Kita cuma sehari saja di sana, setelah itu langsung pulang."


Ella menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Venzo, mereka lalu segera berangkat menuju bandara sebelum terlambat.


Perjalanan mereka memakan waktu kurang lebih 2 jam lamanya, dan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Ella tersenyum simpul saat kembali menginjakkan kakinya di kota itu. Banyak sekali kenangan yang ada di tempat ini, mulai dari bahagia sampai duka yang membuat hatinya sangat sakit.


Mereka lalu masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan oleh Naomi sebelumnya, dan segera menuju kantor pengadilan untuk melihat sidang putusan akhir antara Ella dan juga Calvin.


Calvin dan Rere sudah setengah jam yang lalu sampai di pengadilan. Mereka sangat senang saat mendengar dari pengacara bahwa tuntutan mereka dikabulkan, dan total uang yang mereka dapatkan sebesar 100 juta.


"Dari mana mbak Zanna punya uang sebanyak itu, Mas? Jangan-jangan mereka bohong?" Rere merasa curiga.

__ADS_1


"Jika dia bohong, maka pihak pengadilan akan semakin mempersulit mereka, Re. Dan pada akhirnya tetap kita yang diuntungkan," ucap Calvin dengan senyum lebar. Kakinya sudah sembuh dan bisa kembali berjalan dengan normal walaupun sedikit miring.


"Kau benar, Mas. Sudah lama aku tidak bisa membeli makeup, wajahku sudah sangat kusam dan berjerawat."


Calvin memutar bola matanya malas, wanita itu selalu saja memikirkan penampilan padahal kampung tengah mereka terancam kelaparan.


Beberapa menit kemudian, para dewan hakim beserta jajarannya tampak memasuki ruang persidangan bersamaan dengan pengacara Ella.


Calvin tersenyum sinis saat tidak melihat keberadaan Ella, begitu juga dengan Rere yang merasa kalau wanita itu malu untuk bertemu dengan mereka.


Pengacara Ella duduk dengan tenang di kursinya. Tanpa semua orang sadari, saat ini ada sebuah kamera yang menempel dijas pengacara itu. Kamera kecil itu tersambung langsung dengan ponsel Venzo, yang sedang berada di dalam mobil.


Sebelum memasuki ruang sidang, pengacara itu ternyata bertemu dengan Ella dan yang lainnya. Venzo segera memberi arahan pada pengacara itu sesuai dengan apa yang dia inginkan, dan mereka akan masuk ke ruang sidang tepat disaat hakim sudah mengetuk palu.


Hakim mulai membuka sesi sidang ketiga sekaligus putusan untuk perkara perceraian antara Zanna Allisya dan Calvin, dengan mengetuk palu.


Kemudian hakim mulai membacakan hasil persidangan kedua yang diadakan dua minggu yang lalu, sekaligus pembacaan tuntutan dari pihak tergugat.


"Bagaimana jawaban dari saudara pihak penggugat, apakah menerima tuntutan yang dilayangkan pihak tergugat?"


Pengacara itu maju ke depan untuk mewakili Ella. "Baiklah, saya akan membacakan pesan dari pihak penggugat untuk tuntutan dari pihak tergugat. Bahwasannya pihak penggugat menerima tuntutan itu dan bersedia memberikan uang sebesar 150 juta, pada pihak tergugat."


"Dia bersedia Mas." Rere menggoyang-goyangkan lengan Calvin dengan senyum lebar, sementara Calvin juga tampak sumringah saat mendengarnya.


Ella, Venzo dan juga Naomi yang melihat semua itu juga ikut tertawa. "Seleramu rendah sekali, Ella. Bagaimana mungkin kau mau dengan laki-laki yang tidak punya harga diri sepertinya?" Venzo menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kau benar, Venzo. Hilang ingatan membuat aku rendah diri, hingga mau menikah dengan laki-laki sepertinya." Ella berdecak kesal saat melihat raut wajah Calvin. Dia begitu bukan karena kehilangan uang sebesar 150 juta, tapi karena terlalu miris melihat laki-laki itu.


"Calvin, kau bahkan merendahkan dirimu sendiri di hadapan banyak orang. Kenapa kau jadi seperti ini?" Ella benar-benar tidak habis pikir.


Setelah tidak adanya lagi tuntutan dan semua telah di selesaikan, maka hakim langsung membacakan putusan untuk perceraian antara Zanna dan juga Calvin.


"Saya, selaku ketua hakim pada sidang perceraian antara Tuan Calvin, dengan Nona Zanna Allisya. Menyatakan bahwasannya Tuan Calvin dinyatakan terbukti telah menikah dengan wanita lain. Kami juga telah mengambil keputusan, bahwasannya sejak hari ini. Tuan Calvin dan Nona Zanna Allisya sudah resmi bercerai."


Dok


Dok


Dok

__ADS_1


Hakim sudah mengetuk palu membuat hati Ella menjadi sangat lega, sementara Calvin terdiam ditempat tanpa ada reaksi apa-apa diwajahnya.


"Baiklah, dengan ini kami mengatakan bahwa sidang hari ini telah selesai. Terima kasih atas kehadiran dari Anda semua."


Tepat disaat hakim selesai menutup sidang, terbukalah pintu ruangan itu dengan diiringi suara langkah kaki membuat semua orang langsung melihat ke arah pintu.


Deg.


"Za-Zanna?"


"M-mbak Zanna?"


Calvin dan Rere sama-sama terkejut saat melihat kedatangan Zanna, mata mereka semakin membulat sempurna saat melihat perut wanita itu membuncit.


"Di-dia hamil?" Tubuh Calvin mendadak jadi kaku.


"Maaf karena saya terlambat datang, yang mulia. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih pada hakim beserta jajarannya, yang telah menyelesaikan sidang perceraian saya dengan baik." Ella membungkukkan sedikit tubuhnya.


Hakim dan yang lainnya menjawab rasa terima kasih yang Ella ucapkan, dan berdo'a semoga wanita itu mendapatkan pasangan yang lebih baik apalagi saat melihat perutnya.


Setelah bertatapan langsung dengan hakim, Ella langsung berbalik dan berdiri tepat di depan Calvin dan Rere.


"Hay Calvin, Rere. Bagaimana kabar kalian?" ucapnya dengan senyum cerah membuat jantung Calvin dan Rere seakan berhenti berdetak.


"Senang bertemu lagi dengan kalian." Ella melihat penampilan mereka dari atas sampai bawah dengan tatapan mengejek membuat Rere mulai emosi. "Penampilan kalian semakin baik saya, ya." Dia lalu mengibaskan rambutnya yang tergerai indah.


Memakai gaun berwarna biru muda selutut model sabrina, membuat tampilan Ella benar-benar cantik dan menawan. Kulit putihnya bersinar terkena sorotan cahaya matahari, ditambah dengan kalung berlian lengkap dengan anting dan gelang semakin membuatnya tampak mewah dan elegan.


Mata Calvin tidak bisa berkedip saat melihat penampilan Ella yang berhasil menggetarkan hatinya, dia lalu tersentak kaget saat ada seorang lelaki yang merangkul wanita itu.


"Za-Zanna, kau, kau di sini?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2