Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 63. Bersikap Biasa Saja.


__ADS_3

4 hari berlalu begitu saja dengan sangat cepat. Ella dan Rosa masih tetap biasa saja seolah-olah tidak terjadi sesuatu, padahal saat di malam hari mereka menangis sesenggukan meratapi apa yang terjadi pada keluarga mereka.


Namun, ada satu orang yang menyadari bahwa ada perbedaan di antara mereka berdua, yaitu Zavier. Beberapa kali dia memergoki Rosa dan Ella ngobrol di dalam kamar Ella dengan mengunci pintu, juga terkadang pandangan mereka terlihat sinis pada papa dan juga kakeknya.


Awalnya Zavier merasa bahwa pikirannya salah, dan setelah beberapa hari berlalu dia baru yakin jika telah terjadi sesuatu dengan mama dan juga kakaknya.


"Ada apa, Zavier? Kenapa kau menarik mama seperti ini?" Rosa yang baru keluar dari kamar tiba-tiba di tarik paksa oleh Zavier untuk masuk ke dalam kamar bocah itu.


"Aku sudah sangat penarasan, Ma. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mama dan kak Ella, kenapa kalian tampak berubah?" tanya dengan menggebu-gebu.


Rosa mengernyitkan keningnya saat mendengar pertanyaan Zavier. "Apa maksudmu, Zavier? Mama tidak mengerti."


Zavier berdecak kesal saat mendengarnya, dia lalu mengatakan tentang apa yang dia rasakan beberapa hari terakhir.


"Itukan hanya perasaanmu saja, Zavier. Udah ah, mama mau nyiapin makan malam dulu." Rosa keluar dari kamar itu dan berjalan cepat ke dapur.


"Bisa-bisanya Zavier merasa seperti itu, dia memang sangat peka." Rosa menggelengkan kepalanya lalu segera menyiapkan bahan masakan untuk makan makan malam bersama dengan koki.


Sementara itu, Ella terlihat sedang duduk di balkon kamar sambil video call dengan Venzo. Sejak dia kembali mendapatkan ingatannya, hubungan antara dia dan Venzo semakin dekat. Apalagi laki-laki itu sangat perhatian dan juga sudah jelas selalu mencintainya dari dulu sampai sekarang.


"Besok aku akan menjemputmu, setelah itu kita ke bandara bersama," ucap Venzo sambil menatap Ella dia layar ponselnya.


Ella mengangguk. "Oke. Aku akan bilang dengan semuanya nanti, aku harap mereka tidak keberatan."


Setelah selesai berbicara tentang keberangkatan mereka, Ella mematikan panggilan video call itu dan beranjak keluar dari kamar. Dia berjalan menuruni anak tangga menuju dapur.


"Loh, kenapa enggak istirahat saja, Ella. Besokkan kau harus ke persidangan," ucap Rosa sambil mencuci ayam.


"Enggak apa-apa kok, Bi. Badannya jadi pegal semua kalau istirahat saja." Ella ikut membantu untuk menyiapkan menu makan malam hari ini.


Setelah beberapa saat, akhirnya semua menu telah siap dan tersaji di meja makan. Rosa segera memanggil Zavier, Zaydan dan juga papa mertuanya untuk menikmati makan malam bersama-sama.


Ella sendiri menyusun semua piring untuk mereka, sampai akhirnya semua orang datang dan berkumpul di tempat itu.


"Makan yang banyak, Ella. Kau masih terlihat kurus dibanding ibu hamil pada umumnya," ucap Zaydan sambil memperhatikan tubuh Ella.


"Ah, Paman. Aku kan gak mau kalau gendut," bantah Ella sambil mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Gendut juga cantik kok."


Semua orang tergelak dengan apa yang kakek Zaron katakan, lalu Ella menatap kedua lelaki itu dengan sendu.


"Oh ya, besok aku akan kembali ke negara T untuk menghadiri sidang putusan perceraian,"


"Benarkah? Apa mau paman temani?" tawar Zaydan.


Ella menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Paman. Besok aku akan pergi dengan Naomi dan juga Venzo."


Zaydan terlihat sangat tidak suka sekali saat mendengar Venzo. "Kenapa laki-laki itu harus ikut, Ella? Kau bisa pergi bersama paman saja dari pada dia."


Ella tersenyum. "Kebetulan dia juga akan pergi ke negara itu, Paman. Jadi kan kami bisa pergi bersama."


Zaydan terdiam saat mendengar ucapan Ella, sementara kakek Zaron melirik ke arah Zaydan dengan tajam.


"Ya sudahlah, terserah kau saja." Zaydan lalu menghabiskan makanannya dan beranjak pergi dari tempat itu, membuat semua orang menatap heran.


"Apa paman marah, Bibi?" Ella menoleh ke arah Rosa.


"Abis kakak sih, masih juga dekat dengan tuan Venzo. Dia itu laki-laki yang sangat berbahaya," ucap Zavier membuat Ella menghela napas Berat.


"Pamanmu hanya mengkhawatirkan keadaanmu saja, Ella. Itu sebabnya dia tidak suka dengan Venzo."


Ella pura-pura mengangguk paham. "Aku mengerti Kakek. Hanya saja sudah lama aku dekat dengannya, dan aku tau bahwa Venzo itu sama sekali tidak kejam seperti apa yang orang lain katakan."


"Ya, semoga saja dia tetap baik padamu seperti dulu, Ella," ucap kakek Zaron, mereka sudah tahu jika Ella kembali mendapatkan ingatannya.


Mereka lalu kembali menikmati makanan itu sampai selesai, setelahnya bubar barisan menuju aktivitas masing-masing.


Zaydan yang berada di dalam ruang kerjanya terkejut saat tiba-tiba kakek Zaron membuka pintu, dan masuk ke ruangan itu.


"Ada apa, Pa? Aku sedang sibuk mengecek barang pesanan," ucap Zaydan kembali melihat ke arah laptopnya.


"Kau tidak boleh terang-terangan menolak kehadiran Venzo, Zaydan. Itu akan menimbulkan kecurigaan di hati Ella," ucap kakek Zaron yang merasa khawatir.


"Papa kan tahu jika Venzo itu bisa membahayakan bisnis kita. Jika dia semakin dekat dengan Ella atau bahkan sampai menikah, dia bisa saja mengetahui semuanya, Pa. Memangnya papa mau?"

__ADS_1


Kakek Zaron langsung menggeleng. "Awasi saja mereka berdua, jika mencurigakan baru kita ambil tindakan."


Zaydan hanya berdecak saja saat mendengar ucapan kakek Zaron, lalu tiba-tiba ada seseorang yang meneleponnya.


"Ada apa?" tanya Zaydan pada sih penelpon.


"Gawat, Tuan. Ada beberapa orang yang berhasil menghentikan kapal kita, dan mengambil barang-barang Tuan,"


"Apa? Kenapa itu bisa terjadi?" Zaydan beranjak dari kursi lalu berjalan cepat keluar dari ruangan itu, membuat kakek Zaron merasa heran.


"Kami tidak tau, Tuan,"


"Dasar bod*oh, cepat bereskan semua itu sebelum polisi mengetahuinya!"


Tut.


Zaydan langsung mematikan panggilan itu dengan kesal, dia segera menuruni anak dan keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi.


Ella yang saat itu baru dari dapur bersembunyi di balik lemari dan mendengar ucapan Zaydan. "Bagus. Ternyata mereka berhasil mengambil barang-barang itu." Dia tersenyum senang lalu beranjak pergi ke dapur.


Ternyata Venzo dan sekretarisnya bekerja sama dengan pihak kepolisian berhasil mengambil barang-barang Zaydan, yang berisi organ-organ tubuh manusia yang diselundupkan di dalam kapal pengangkut minyak.


"Ternyata Anda benar, Tuan Venzo. Kapal itulah yang sudah sejak lama kami cari, dan menurut mata-mata berisi pengiriman barang ilegal."


Venzo menganggukkan kepalanya. "Sudah beberapa hari ini kami terus memantaunya, Pak. Itu sebabnya kami tahu jika barang-barang itu ada di kapal ini."


Pihak kepolisian sangat berterima kasih atas kerja sama dari Venzo, mereka lalu berangkat ke kantor dengan membawa barang bukti beserta para awak kapal untuk dimintai keterangan.


Zaydan yang saat itu baru sampai di tempat kejadian langsung murka. "Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, hah?" Dia mencengkram kerah kemeja anak buahnya.


"I-itu polisi, Tuan. Polisi yang sudah mengambil barang-barang kita."


Zaydan lalu melepaskan tubuh anak buahnya dengan kasar. "Si*al. Bagaimana mungkin polisi bisa mengetahuinya?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2