
Lasmi terdiam sambil menatap sang putri dengan sendu, sungguh dia tidak tau lagi harus mengatakan apa pada wanita itu.
Clavin yang ingin angkat bicara tiba-tiba mengurungkan niatnya saat melihat seorang Dokter keluar dari ruang UGD, sontak dia beranjak bangun dan menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Calvin dengan khawatir. Lasmi dan Rere juga ikut mendekati Dokter itu saat mendengar suara Calvin.
Dokter itu menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Keadaan pasien baik-baik saja, Pak. Beliau hanya sedang kelelahan."
Calvin menghembuskan napas lega saat mendengar ucapan Dokter itu. "Terima kasih, Dokter." Dia lalu melangahkan kakinya hendak masuk untuk menemui Zanna.
"Sebentar, Pak." Dokter itu menahan langkah Calvin membuat laki-laki itu kembali melihat ke arahnya.
"Ada apa, Dokter? Apa istri saya tidak bisa dijenguk?" tanya Calvin dengan heran.
"Maaf, Pak. Saat ini pasien menolak untuk bertemu dengan siapa pun, jadi tolong biarkan pasien istirahat dulu."
Calvin mngernyitkan keningnya dengan tidak terima. Bagaimana mungkin dia tidak bisa menemani sang istri saat situasi seperti ini?
"Saya harap Anda mengerti, Pak. Karena semua ini demi kesembuhan pasien. Setelah istirahat beberapa jam, pasien pasti akan kembali sehat."
Calvin hanya bisa menghembuskan napas frustasi. Tanpa mengatakan apapun, dia melangkah dengan gontai menuju kursi yang tadi dia duduki.
Dokter itu lalu berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangan, dia kemudian memerintahkan perawat yang ada di sana untuk menjaga pintu ruangan tersebut.
"Saya sudah melakukan apa yang Anda inginkan, Buk. Tapi kenapa, kenapa Anda harus seperti ini?" tanya Dokter itu yang kini sudah duduk di kursi yang ada di samping ranjang Zanna.
Ya, Zanna sudah sadar dari pingsannya saat masuk ke ruang UGD. Awalnya dia merasa kaget dan bingung karena berada di ruangan yang sangat asing, tetapi saat melihat Dokter dan para perawat. Maka dia sudah langsung tau kalau sedang berada di rumah sakit.
__ADS_1
"Saya punya alasan sendiri kenapa melakukan hal ini, Dokter," ucap Zanna dengan lirih. Beberapa kali dia mengusap air mata yang mengalir deras, tetapi si*alnya air mata itu tetap saja keluar.
"Anda harus bersama suami Anda saat sedang seperti ini, itu akan sangat baik untuk Anda dan-"
"Dokter, saya mohon."
Dokter itu terpaksa menghentikan ucapannya saat melihat raut wajah Zanna, dia lalu beralih menggenggam kedua tangan wanita itu. "Baiklah, maafkan saya jika sudah terlalu banyak bicara."
Zanna menggelengkan kepalanya. "Tidak, Dokter. Saya bersyukur karena Anda sudah mau menuruti apa yang saya inginkan. Saya hanya belum siap dengan kabar ini, dan kondisi saya saat ini pun-" dia menundukkan kepalanya dengan terisak karena tidak sanggup mengatakan apa yang sudah terjadi.
Dokter itu lalu menarik Zanna ke dalam pelukannya. Sebagai sesama wanita, dia tahu kalau saat ini pasiennya itu pasti sedang bermasalah dengan suaminya.
"Kalau gitu Anda istirahat saja, dan tenangkan semua perasaan Anda. Kasihan sih kecil kalau ibunya terus bersedih seperti ini." Dokter itu mengulurkan tangannya untuk mengusap perut Zanna.
Zanna hanya menganggukkan kepalanya tanpa bisa mengucapkan apa-apa. Dia lalu kembali berbaring di ranjang itu dengan dibantu oleh Dokter.
Zanna kembali mengangguk membuat Dokter itu tersenyum. Dia lalu beranjak keluar dari ruangan itu dan tidak melihat keberadaan orang-orang yang ada di depan ruangan tadi.
Setelah Dokter itu keluar, Zanna kembali meneteskan air mata. Dia memiringkan tubuh dan menenggelamkan kepalanya ke bantal, supaya tidak ada yang mendengar tangisannya.
"Kenapa, kenapa harus sekarang, Tuhan?" Sungguh Zanna merasa benar-benar sedang ditimpa oleh cobaan yang sangat besar.
Di saat sang suami ketahuan sedang bermain api dengan wanita lain, dan disaat itu jugalah dia sedang mengandung buah cinta dari pernikahannya.
Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Kenapa, kenapa Tuhan begitu tega padanya? Harus bagaimana lagi dia menghadapi semua ini?
Zanna benar-benar merasa hancur dan terluka, tetapi di saat bersamaan. Dia malah mendapatkan sebuah anugerah terbesar dari Tuhan.
__ADS_1
Apakah ini, yang disebut dengan hikmah dari sebuah masalah? Tidak, semua ini tidaklah benar. Bahkan semua ini harusnya tidak terjadi dalam keadaan seperti ini.
Zanna benar-benar merasa bingung. Dia sudah membulatkan tekat untuk berpisah dengan suaminya, walaupun hatinya harus hancur berkeping-keping. Tapi kenapa, kenapa Tuhan malah membuatnya hamil? Apa Tuhan tidak setuju, dengan keputusan yang dia ambil?
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa Kau melakukan ini padaku, Tuhan. Kenapa?" Zanna benar-benar tidak tau apa yang harus dia lakukan saat ini.
Sementara itu, di taman rumah sakit. Terlihat Calvin sedang duduk berdua dengan Rere. Lasmi memilih untuk tidak ikut campur lagi masalah sang anak, dan memilih untuk menjauh dari sana.
"Mas, aku mohon." Rere menggenggam tangan Calvin dengan berlinang air mata, membuat laki-laki itu merasa tidak tega. "Kau tau kan Mas, kalau aku sangat mencintaimu? Lalu, bagaimana mungkin aku bisa menerima semua ini?" Dia masih tetap teguh pendirian untuk bersama dengan Calvin.
"Tapi Zanna tidak mau menerima semua ini, Re. Dan aku juga tidak mau kehilangan-"
"Kita bisa melakukannya diam-diam seperti dulu, Mas. Aku akan keluar dari apartemen, dan menjauh darimu sampai Mbak Zanna pulang. Setelah itu kita bisa bersama lagi,"
"Kau pikir dia akan mempercayainya?" bentak Calvin. Padahal dia sudah berencana untuk memberitahukan tentang hubungannya dengan Rere, pada saat salah satu dari mereka sudah mengandung.
"Lalu bagaimana denganku, Mas? Bagaimana nanti jika aku hamil?" teriak Rere. "Setiap hari kita melakukan hubungan seperti itu, bahkan dalam sehari lebih dari sekali kita melakukannya. Kau pikir aku tidak akan hamil?"
Calvin semakin pusing saja saat ini, tetapi apa yang wanita itu katakan adalah benar. "Baiklah, aku akan memikirkannya dulu."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1