Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 13. Sebuah Keputusan.


__ADS_3

Setelah selesai membicarakan semuanya, Calvin dan Rere kembali ke ruangan di mana Zanna berada. Terlihat wanita itu sedang duduk di atas ranjang sambil memainkan ponsel.


"Sayang!"


Zanna mendongakkan pandangannya saat mendengar panggilan seseorang yang sangat dia kenali, dan tampaklah Calvin sedang berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Kau sudah tidak apa-apa, 'kan?" tanya Calvin sambil menggenggam kedua tangan Zanna membuat wanita itu menatap ke arah tangannya.


Zanna terdiam sambil mencoba untuk menenangkan diri, dia lalu menganggukkan kepalanya sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Calvin yang melihat anggukkan kepala Zanna merasa senang. Setidaknya wanita itu masih mau menanggapinya walaupun cuma anggukkan saja.


"Kata Dokter aku sudah bolah pulang, Calvin. Jadi, aku akan pulang sekarang." Zanna beranjak turun dari ranjang membuat Calvin memegangi tubuhnya.


"Hati-hati, Sayang. Kau masih harus banyak istirahat."


Zanna tersenyum getir saat mendengar ucapan Calvin, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang dan membiarkan apa yang ingin laki-laki itu lakukan.


Calvin merasa senang karena tidak ada penolakan dan kemarahan yang Zanna berikan padanya. "Apakah Zanna sudah tidak marah lagi padaku?" Dia memperhatikan raut wajah Zanna yang tampak biasa saja tanpa emosi.


Mereka berdua lalu beranjak keluar dari ruangan itu, dan terlihatlah Rere berdiri di luar ruangan seolah-olah serang menunggu kedatangan mereka.


"Mbak baik-baik saja?" Rere segera menghampiri Zanna yang sedang berdiri di ambang pintu. Dia terlihat sangat khawatir sekali seperti tidak ada yang terjadi di antara mereka.


"Aku baik-baik saja, Re."


Rere dan Calvin merasa kaget saat Zanna menjawab pertanyaan itu. Mereka benar-benar bingung kenapa wanita itu tidak kembali marah pada mereka, atau mungkinkah Zanna sudah memaafkan mereka berdua?


Calvin lalu melirik ke arah Rere seolah-olah sedang memberi kode agar wanita itu segera menjalankan rencana mereka.

__ADS_1


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada, Mbak. Apa, apa boleh?" tanya Rere dengan takut sambil memasang wajah sendunya.


Zanna menatap wanita itu dengan tajam seolah-olah sedang menembakkan laser dari kedua matanya. "Aku ingin sekali menjambak bibirmu itu, Rere. Ternyata aku baru tau kalau ucapanmu itu sangat manis, apa karna itu suamiku sampai tertarik denganmu?" Dia lalu menghela napas panjang supaya tidak emosi.


"Maaf, aku tidak ingin bicara denganmu." Zanna segera melanjutkan langkahnya untuk pergi dari tempat itu, membuat Calvin juga ikut melangkahkan kakinya.


"Tapi Mbak, aku, aku ingin minta maaf pada, Mbak,"


"Ooh, benarkah?" tanya Zanna sambil tersenyum miring. "Apakah kau ingin minta maaf karena sudah berhasil mengambil suamiku?"


Deg.


Rere langsung diam saat mendengar apa yang baru saja Zanna katakan, begitu juga dengan Calvin yang tidak menyangka kalau wanita itu akan mengatakan hal seperti itu.


"Maaf, maafkan aku, Mbak." Rere menyatukan kedua tangannya di depan dada sebagai permintaan maaf yang saat ini sedang dia lakukan. "Aku, aku benar-benar khilaf. Aku sama sekali tidak memikirkan perasaan Mbak, aku sangat bersalah."


"Lihatlah, kau bahkan sanggup menatapnya penuh cinta. Padahal saat ini ada aku di sampingmu." Zanna menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya. "Aku di sini, Calvin. Tapi kenapa kau terus menatapnya?"


"Aku mohon maafkan aku, Mbak. Aku tidak tau jika mas Calvin akan menikahiku hanya karena janjinya dengan almarhum-"


Zanna langsung mengangkat tangannya membuat ucapan Rere terhenti. "Bisakah kita pulang ke apartemen dulu, Calvin? Aku ingin istirahat di sana."


Calvin tersentak kaget sambil menatap ke arah Zanna. "Ka-kau serius, Sayang?" Dia merasa tidak percaya.


Zanna menganggukkan kepalanya lalu kembali melihat ke arah Rere. "Aku akan memberikan waktu untuk bicara. Jadi, ikutlah dengan kami.


Rere dan Calvin semakin merasa bingung dan tidak mengerti, tetapi di sisi lain mereka sangat senang dengan apa yang terjadi pada Zanna saat ini.


Mereka bertiga lalu kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun di antara mereka yang bersuara.

__ADS_1


Beberapa kali Calvin melihat ke arah belakang di mana Rere berada, dan semua itu tentu diperhatikan oleh Zanna yang ternyata sedang memperhatikan mereka.


"Bagus, bagus sekali, Calvin." Zanna lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela, karena tidak tahan dengan apa yang kedua manusia si*alan itu lakukan.


Sesampainya di apartemen, Calvin kembali menuntun tubuh Zanna untuk masuk ke dalam tempat itu dengan diikuti oleh Rere.


"Kau tunggu di sini ya, Sayang. Aku akan mengambilkan minuman dan makanan untukmu." Calvin beranjak berdiri setelah mendudukkan tubuh Zanna di sofa, dia lalu berbalik dan hendak pergi ke dapur.


"Biar aku saja, Mas."


Calvin yang belum melangkahkan kakinya melirik ke arah Rere. "Em ... baiklah, aku akan menemani istriku." Dia lalu kembali duduk di samping Zanna, sementara Rere segera pergi ke dapur.


Zanna melihat semua itu dengan tidak percaya. Luka yang ada dihatinya seperti sedang disiram oleh air garam, dan rasanya sungguh sangat menyakitkan.


"Mungkinkah selama ini kau sudah tidak mencintaiku lagi, Calvin? Dan aku dengan bod*ohnya menyerahkan cintaku padamu." Zanna benar-benar merasa menyesal telah memberikan cinta pada Calvin, ternyata cintanya itu berbalas dengan pengkhinatan dan apa yang dia rasakan selama ini hanya khayalan semata.


"Tapi semua tidak akan sama lagi, Calvin. Aku punya waktu 2 hari lagi untuk berada di sini, dan aku akan memanfaatkan itu untuk membongkar hubunganmu dengannya. Aku akan mengumpulkan bukti-bukti yang akan memberatkanmu dalam persidangan, dan aku akan membuatmu menyesal sudah melakukan semua ini padaku."


Ya, Zanna sudah mengambil keputusan untuk tetap berada di tempat itu 2 hari kedepan. Dia akan mengumpulkan banyak bukti untuk persidangan, juga akan memberikan kenangan yang tidak akan bisa dilupakan oleh pasangan pengkhianat dan penggoda itu.


"Kalian lihat saja nanti."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2