
Zanna merasa frustasi sendiri, tetapi tiba-tiba semua orang tertawa terbahak-bahak membuat dia langsung menatap dengan heran.
"A-apa yang terjadi?" tanyanya sambil menatap ke arah semua orang yang saat ini sedang tertawa, bahkan Zavier sampai jumpalitan di atas sofa.
"Dia tetap tidak berubah, Pa. Persis seperti beberapa tahun yang lalu," ucap Zaydan sambil mengusap air mata yang menetes dari sudut matanya.
"Kau benar, Zaydan. Walaupun wajahnya berubah lebih cantik dan dewasa, tetapi sifat dan kepanikannya itu tidak berubah. Dia memang benar-benar cucuku." Kakek Zaron menatap Zanna dengan sendu, sekarang dia benar-benar yakin bahwa wanita itu adalah benar-benar cucunya.
"Apa-apaan sih ini sebenarnya?" Zanna merasa benar-benar bingung dan juga terheran-heran, dan wajahnya itu membuat mereka kembali tergelak.
"Kakak tidak usah khawatir, tadi kami hanya pura-pura saja. Tidak mungkin kami melakukan semua itu,"
"Benarkah?" Zanna memicingkan matanya ke arah Zavier dengan tidak percaya, sementara laki-laki itu kembali tergelak.
"Yah, sebenarnya aku ingin sekali melakukan itu. Aku ingin menghukum laki-laki yang sudah menyakiti hati kakak, bahkan dia sama sekali tidak merasa bersalah. Tapi, aku tidak mau mengotori tanganku untuk menghukumnya seperti itu, karena ada cara lain yang pantas untuknya," ucap Zavier dengan sinis, dan Zanna bisa merasakan keseriusan dalam setiap ucapannya.
"Kau benar, Nak. Tidak sepantasnya dia melakukan hal seperti itu, apalagi menyimpan kebenaran dari Ella. Aturan sudah sejak dulu dia kembali bersama kita," sambung Rosa. Dia juga merasa emosi dengan apa yang suami Zanna lakukan.
"Aku mengerti dengan apa yang kalian maksud, dan aku juga senang karena kalian sangat perhatian padaku. Tapi aku sudah tidak apa-apa, aku juga tidak mau lagi berurusan dengan laki-laki itu. Aku hanya ingin hidup tenang dengan anakku, itu saja," ucap Zanna dengan pelan sambil tersenyum, tanpa sadar kalau dia menyebut bayi membuat semua orang kembali heboh.
"A-anak, kau punya anak?" pekik Rosa dengan terkejut, begitu juga dengan kakek Zaron yang sampai berdiri dari kursi rodanya.
"Kau sudah punya anak, Ella? Mana, di mana anak itu? Kenapa Noami tidak mengatakannya padaku?" ucap Zaydan dengan geram. Bisa-bisanya wanita itu tidak mengatakan yang sebenarnya.
Zanna kembali tersenyum. "Dia ada di sini." Dia mengusap perutnya yang masih rata. "Usianya baru memasuki minggu ke 14, dan semoga semuanya berjalan lancar dan dia selalu sehat."
Semua orang sontak mengucap syukur saat mengetahui tentang kehamilan Zanna, mereka sangat bahagia karena sebentar lagi anggota keluarga mereka akan bertambah.
"Selamat untukmu, Sayang. Bibi sangat senang sekali mendengarnya." Rosa memeluk tubuh Zanna dengan erat dan dibalas oleh wanita itu. "Kau tenang saja, bibi pasti akan menjagamu dan si kecil dengan baik. Baik-baik di dalam sana ya, Sayang." Dia lalu mengusap perut Zanna membuat wanita itu tersenyum bahagia.
__ADS_1
Kemudian Zanna mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan meletakkannya di atas meja. "Ini adalah sepasang berlian yang aku dapatkan dari Calvin, sekaligus peninggalan Ayah. Maksudnya berlian yang katanya adalah milik ayah kandungku." Dia membuka kotak hitam itu dan menunjukkannya pada mereka semua.
Mereka melihat berlian itu dengan mata berkaca-kaca, terutama kakek Zaron yang meneteskan air mata saat melihatnya.
"Berlian itu memang milik papamu, Ella. Dia, dia sudah pergi meninggalkan kita untuk selamanya."
Seketika suasana berubah menjadi sendu, mereka semua terisak dengan pilu mengingat sepasang suami istri pemilik dari berlian itu.
Zanna yang tidak mengingat tentang kedua orangtuanya juga ikut meneteskan air mata, dia lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat sebuah foto yang tergantung di dinding.
"Mama, Papa. Maaf karena aku tidak mengingat kalian, tapi aku janji akan berusaha keras untuk mengingat semuanya." Zanna menatap foto kedua orang tuanya yang berada tepat di hadapannya, membuat semua orang semakin terisak.
Pada saat yang sama, Calvin yang masih berada di rumah sakit merasa kesal karena Rere tidak juga kembali ke ruangannya.
"Sebenarnya ke mana wanita itu? Aku sudah sangat lapar tapi dia tidak juga kembali." Calvin menghela napas kesal. Sudah lebih dari 2 jam dia menunggu, tetapi Rere tidak juga menampakkan batang hidungnya.
Di tengah kekesalannya itu, tiba-tiba Calvin mendengar ponselnya berbunyi dan langsung mengambilnya dari atas meja tanpa melihat siapa yang saat ini sedang menelepon.
"Ke mana saja kau, hah? Apa kau mau membuat aku mati kelaparan?" teriak Calvin membuat seseorang yang ada di sebrang telepon terpaksa menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
"Cepat katakan kau di mana? Apa kau-"
"Beraninya kau berteriak padaku!"
Calvin terlonjak kaget saat mendengar suara seorang lelaki, sontak dia langsung melihat ke layar ponselnya. "Si*al. Mamp*us lah aku!"
"Ma-maafkan saya, Tuan. Ta-tadi saya sedang bicara dengan orang lain, dan tidak sengaja mengangkat panggilan dari Anda," ucap Calvin sambil merutuki kebod*ohannya.
"Kau pikir aku bod*oh, hah?" teriak laki-laki itu yang ternyata sekretaris pribadi dari CEO perusahaan tempat Calvin bekerja.
__ADS_1
"Ti-tidak, Tuan. Saya, saya benar-benar tidak bicara pada Anda,"
"Hah. Baiklah, lupakan tentang semua itu. Besok kau harus datang ke perusahaan bersama dengan istri keduamu itu, tuan Bima sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kalian."
Glek.
Calvin menelan salivenya dengan kasar. "Ma-maaf, Tuan. Saat ini saya sedang dirawat di rumah sakit, mungkin-"
"Aku tidak peduli mau kau dirawat di rumah sakit atau bahkan mati sekalian. Apa kau tidak sadar, kalau kalian sudah mencoreng nama baik perusahaan, hah?" bentak laki-laki itu.
"Si*al. Ini pasti tentang video yang beredar luas itu, dan aku belum bisa mengurusnya sekarang."
"Saya mengalami patah tulang, Tuan. Jadi saya mohon keringan dari Anda, saya berjanji kalau saya akan menyelesaikan semua masalah yang sedang terjadi," pinta Calvin dengan sangat.
"Baiklah, aku kasi waktu 2 hari pada kalian. Jika kalian tidak datang, maka perusahaan akan langsung memecat kalian,"
"Tapi Tuan-"
Tut.
Panggilan itu terputus begitu saja padahal Calvin masih ingin mengatakan sesuatu.
"Si*al, ini semua gara-gara Zanna. Lihat saja, aku pasti akan membalasmu."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.