
Zanna terkejut saat melihat keberadaan Rere. "Kau? Apa yang kau lakukan di sini, Rere?" Dia bersedekap dada di hadapan wanita itu.
"Em ... itu, Mbak. Aku, aku ingin mengajak Mbak keluar. Apa Mbak mau?"
Zanna mengernyitkan keningnya saat mendengar ajakan dari Rere. "Aku rasa kita tidak dalam posisi yang bisa keluar bersama dan bersenang-senang, Re." Rasa sakit dalam hatinya bahkan belum hilang, tetapi wanita itu malah seenaknya saja ingin pergi bersamanya.
Rere terdiam. Sejujurnya dia juga tidak ingin pergi dengan Zanna, karena rasanya sangat tidak nyaman sekali. Namun, dia bisa diamuk Calvin jika tidak melakukan apa yang laki-laki itu inginkan.
"Lagi pula sebentar lagi Calvin pulang, tentu saja aku harus menyambutnya," sambung Zanna kemudian.
"Em ... itu, soal Mas Calvin. Tadi, tadi dia yang-"
"Aah, aku sudah tau sekarang." Zanna mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa Calvin, yang menyuruhmu untuk mengajakku keluar?"
Rere langsung menganggukkan kepalanya membuat Zanna menghela napas kasar. "Mungkin Mas Calvin ada urusan lain, itu sebabnya dia meminta bantuan padaku untuk menemani Mbak."
Zanna benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Calvin lakukan. "Sebenarnya apa sih, yang ada dalam pikiran laki-laki itu? Apa dia pikir kami ini istri pertama dan istri keduanya, yang bisa pergi bersama dan bersenang-senang? Bahkan istri pertama juga tidak akan sudi pergi bersama istri kedua, apalagi aku yang istri sah malah disuruh pergi dengan selingkuhannya." Ingin sekali Zanna mendatangi Calvin dan meninju wajahnya itu.
Rere diam sambil memperhatikan mulut Zanna yang sedang komat-kamit seperti orang yang sedang membaca mantra.
"Kau bisa pergi sendiri, Rere. Aku tidak berminat." Zanna lalu berbalik dan hendak masuk kembali ke dalam apartemen.
Namun, tangannya tiba-tiba dicekal oleh Rere membuat Zanna kembali melihat ke arahnya.
"Ayolah, Mbak! Di sini ada banyak tempat bermain, dan makanannya juga enak-enak,"
"Kau mau ku pukul?"
__ADS_1
"Hah?"
Zanna langsung menepis tangan Rere dengan kasar, dia lalu maju selangkah membuat wanita itu memundurkan tubuhnya. "Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, Re. Apa kau mau menjawabnya?"
Punggung Rere sudah menempel di dinding dan dia tidak bisa mundur lagi. "A-apa yang mau Mbak tanyakan?"
Zanna lalu tersenyum simpul sambil mencondongkan tubuhnya tepat ke hadapan Rere, karena tubuh wanita itu lebih pendek darinya. "Kenapa kau merebut suamiku?"
Deg.
Jantung Rere berdegup kencang saat mendengar pertanyaan Zanna. "A-aku, aku-" Dia terlalu takut dan gugup untuk menjawab pertanyaan dari wanita itu.
"Kau tau, Re. Aku bisa saja memasukkan kalian berdua ke dalam penjara atas apa yang kalian lakukan di sini. Kalian akan dihukum, bahkan dengan pasal berlapis-lapis."
Tubuh Rere semakin tegang saat mendengar apa yang Zanna katakan. "Tidak, Mas Calvin tidak akan membiarkan semua itu terjadi."
Glek.
Rere menelan salivenya dengan kasar. Wajahnya kini memucat dengan keringat dingin yang mengalir deras di sekitar wajah, dan semua itu benar-benar membuat Zanna senang.
"Ternyata mudah saja untuk menggertakmu, Rere. Kau masih sangat polos, tapi kepolosanmu itu malah berhasil merusak rumah tanggaku." Dia tersenyum dengan getir.
"Kau jangan berharap banyak pada Calvin, Re. Sekarang saja, dia bisa meninggalkanku dan berpaling padamu. Bagaimana nanti jika kau berada dalam penjara? Sudah pasti dia akan menyelamatkan dirinya sendiri, dan meninggalkanmu di sana,"
"Tidak. Mas Calvin tidak akan melakukan semua itu, karena dia sangat mencintaiku," teriak Rere membuat suaranya menggema di tempat itu.
"Cinta? Kau bilang laki-laki yang sudah menyelingkuhi istrinya sendiri mencintaimu, hah?" Zanna terkekeh membuat Rere menatapnya tajam. "Jangan berkhayal, Re. Laki-laki yng sudah sekali selingkuh, maka suatu saat nanti dia pasti akan mengulanginya lagi. Mungkin saat ini giliranku yang dia selingkuhi, tapi tidak menutup kemungkinan kalau sebentar lagi kau lah yang diselingkuhin."
__ADS_1
"Tidak, itu tidak akan terjadi!" Rere menutup kedua telinganya karena tidak mau lagi mendengar ocehan Zanna, dia lalu berbalik dan hendak pergi dari tempat itu.
Zanna mencekal tangan Rere membuat wanita itu tidak bisa bergerak. "Itu pasti terjadi, Re. Pasti, dan aku juga tidak akan tinggal diam. Aku akan melakukan segala cara agar hidupmu hancur, dan akan ku pastikan kalau kau hidup dalam penderitaan."
Rere langsung terisak saat mendengar segala ancaman yang Zanna katakan padanya. Jujur saja, dia merasa sangat takut dengan apa yang wanita itu katakan.
Zanna yang ingin kembali meluapkan emosinya merasa tidak tega melihat keadaan Rere, terlihat jelas kalau saat ini wanita itu sangat syok dan ketakutan.
"Kau benar-benar brengs*ek, Calvin. Kau bukan hanya menghancurkam hidupku, tapi juga menggancurkan hidup wanita ini." Zanna mengusap wajahnya dengan kasar.
Zanna tahu jika Rere sebenarnya gadis yang baik, bahkan gadis itu berasal dari kampung yang sama dengan Lisa. Sikap polos dan baik mereka terkadang dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, salah satunya adalah Calvin.
Calvin pasti memanfaatkan kepolosan dan perasaan Rere, laki-laki itu tau kalau gadis seperti Rere akan mudah luluh dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan padanya. Akhirnya mereka terpedaya dan tidak bisa melepaskan diri, walaupun perasaan mereka itu salah dan menyebabkan kehancuran bagi wanita lain.
Zanna lalu menarik tangan Rere dan mendudukkannya di atas sofa, terlihat wanita itu masih menangis sesenggukan. "Sebenarnya apa sih, yang sedang aku lakukan ini?" Dia merasa kesal sekaligus kasihan oleh wanita itu.
Pada saat yang sama, Calvin sudah bertemu dengan wanita bernama Naomi di salah satu restoran. Terlihat mereka duduk saling berhadapan, dengan secangkir kopi yang ada di depan mereka masing-masing.
"Apa benar Anda berasal dari klan Zander?" tanya Calvin yang ingin memastikan bahwa wanita itu benar-benar berasal dari tempat yang sama dengan apa yang mertuanya katakan.
Naomi menganggukkan kepalanya. "Benar. Sekarang bisa Anda tunjukkan berlian itu?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.