
Tepat pukul 9 malam, Zanna terbangun saat mendengar suara panggilan seseorang. Ternyata dia tertidur saat sedang memikirkan masa depannya, dan dia tertidur di atas sofa yang ada di dalam kamar itu.
"Astaga, sudah malam sekali." Zanna lalu bergegas ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya, lalu segera beranjak keluar dari kamar karna suara Calvin sudah seperti penjual cabai di pasar.
"Ya, ada apa?"
"Ya ampun, Sayang. Sejak tadi aku terus memanggilmu, tapi kau tidak membuka pintu," ucap Calvin sambil mengikuti langkah Zanna yang akan turun ke lantai 1. "Kau membuatku khawatir, Zanna."
Zanna tersenyum tipis sambil terus melangkahkan kakinya. "Maaf karna membuatmu khawatir, Calvin. Tapi itu belum seberapa loh, dari apa yang kau lakukan."
Calvin langsung terdiam saat mendengar ucapan Zanna, dia tau kalau wanita itu pasti sedang mengungkit masalah yang terjadi.
"Waah, makanannya banyak sekali." Perut Zanna langsung keroncongan saat melihat makanan yang ada di atas meja, bahkan semua makanan itu adalah makanan kesukaannya.
Calvin langsung tersenyum lebar saat melihat reaksi Zanna. "Aku sudah menyiapkan semua makanan kesukaanmu, Sayang. Apa kau senang?"
Zanna langsung menganggukkan kepalanya. "Tentu saja aku senang, karena makanan itukan rezeki dari Tuhan. Rasa makanan ini pasti akan jauh lebih nikmat saat dimakan dengan hati bahagia."
Lagi, ucapan Zanna kembali membuat Calvin tidak bisa berkutik. Dia lalu duduk di samping wanita itu yang sudah duduk lebih dulu.
"Tapi, terima kasih untuk makanannya, Calvin," ucap Zanna dengan senyum tulus membuat hati Calvin bergetar.
"Sama-sama, Sayang. Sekarang kita makan yuk, aku juga sudah sangat lapar!"
Kemudian mereka berdua menikmati makanan yang sudah terhidang. Zanna tetap melayani Calvin seperti mana biasanya, untuk sesaat dia melupakan masalah yang sudah terjadi di antara mereka.
"Waah, aku kenyang sekali," seru Zanna setelah selesai makan membuat Calvin tergelak.
__ADS_1
"Apa benar-benar udah kenyang? Ini makanannya masih banyak loh." Calvin menunjuk ke arah makanan yang masih tersisa di meja itu.
Zanna lalu menggelengkan kepalanya. "Aku sudah kenyang, Calvin. Tapi, sayang juga kalau makanannya dibuang." Dia terlihat sedang berpikir. "Oh iya, bagaimana kalau makanan ini dikasi ke sih Rere aja. Tapi, apa dia mau makan bekasku?"
Calvin terdiam, entah kenapa kalau Zanna menyebut nama Rere dia merasa sangat tidak nyaman.
"Ah, tapi pasti dia mau lah ya. Orang sama kamu aja dia mau kok." Zanna beranjak bangun dan berjalan ke arah westafel sambil membawa piring bekas makan mereka, sementara Calvin hanya bisa menghela napas kasar saja.
Setelah semuanya selesai, Calvin memberikan pakaian yang baru saja dia beli pada Zanna karena wanita itu pasti tidak akan mau memakai pakaian Rere.
"Terima kasih, Calvin,"
"Kenapa bilang terima kasih terus sih, Sayang? Kayak sama siapa aja," ucap Calvin sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita memang harus selalu mengucapkan terima kasih untuk apapun itu, Calvin. Karena kita tidak tau sampai kapan seseorang yang sedang bersama kita akan tetap bertahan, dan jika dia pergi. Kita tidak bisa lagi untuk mengucapkan terima kasih."
Calvin kembali diam mendengar ucapan Zanna, sementara wanita itu berlalu ke dalam kamar.
****
Tepat pukul 4 pagi, Zanna terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Dengan cepat dia mematikan alarm itu sebelum Calvin bangun.
Zanna segera mengangkat tangan Calvin yang melingkar di perutnya, dia lalu beranjak keluar dari kamar.
"Hah. Baiklah, ayo kita mulai!" Zanna lalu mulai mengambil beberapa foto yang ada di seluruh apartemen. Baik dapur, ruang televisi, sampai ruang tamu. Semuanya tidak luput dari kameranya.
"Ini akan menjadi kenang-kenangan untuk kita, Calvin. Dan aku harap kau tidak membenciku nanti." Zanna lalu memeriksa seluruh lemari yang ada di apartemen itu untuk mencari sesuatu tentang pesta pernikahan Calvin dan Rere.
__ADS_1
"Yah, dapat." Dia mendapatkan beberapa undangan serta catatan tentang apa-apa saja yang harus dipersiapkan untuk pesta pernikahan. "Kalian berniat untuk nikah siri, tapi mengundang banyak orang. Apa kalian ini masih bisa dianggap waras?" Zanna benar-benar tidak habis pikir.
"Tunggu, apa ini?" Dia lalu menemukan sebuah kotak hitam berukuran sedang yang ada di dalam lemari paling bawah. "Aku belum pernah melihat kotak ini sebelumnya." Zanna lalu segera membuka kotak itu untuk melihat apa yang ada di dalamnya.
Deg.
Pupil mata Zanna melebar saat melihat apa yang ada di dalam kotak itu, bahkan kini tangannya juga ikut gemetar karna tidak menyangka kalau benda itu ada ditangan Calvin.
"Kenapa, kenapa ayah memberikannya pada Calvin?" Zanna terduduk lemas di atas lantai. Untung saja dia memeriksa seluruh apartemen ini, dan tidak menyangka kalau menemukan sesuatu yang sangat mahal.
"Surat?" Zanna melihat ada sebuah surat di dalam kotak itu, dia lalu membuka dan membaca surat yang ternyata dari almarhum ayahnya.
Calvin, ayah sangat bahagia sekali karena bisa menitipkan putri yang sangat ayah sayangi padamu. Ayah yakin kalau dia akan selalu bahagia jika bersama denganmu, dan ayah yakin kalau kau pasti akan selalu membahagiakannya.
Ayah titip Zanna padamu, Calvin. Tetap sayangi dan cintai dia, karena dia juga sangat mencintaimu. Ayah juga sangat percaya padamu, itu sebabnya ayah titipkan benda berharga ini padamu. Suatu saat nanti, akan ada seseorang yang datang untuk menemui kalian. Tunjukkanlah benda ini padanya, maka dia akan tahu bahwa Zanna masih hidup.
Deg.
"A-apa maksudnya ini?" Zanna merasa bingung dengan isi surat dari ayahnya, dia lalu melirik ke arah benda yang tampak berkilauan dimatanya.
"Tunggu, jangan-jangan selama ini kau bersamaku karena benda ini, Calvin?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.