
Keesokan harinya, seperti biasa Zanna menyiapkan sarapan untuk Calvin. Dia juga menyiapkan pakaian dan semua perlengkapan laki-laki itu, juga membangunkannya untuk segera bersiap ke kantor.
Tepat pukul 8 pagi, Calvin berangkat ke kantor dengan di antar sampai depan pintu oleh Zanna. Setelahnya, Zanna segera mandi dan bersiap untuk pergi juga ke tempat yang ingin dia kunjungi.
Dengan berbekal catatan dan juga melihat maps, Zanna berangkat ke tempat di mana Calvin sudah menyewa gedung untuk acara pernikahan.
Sesampainya di tempat tujuan, Zanna segera masuk ke dalam tempat itu yang terlihat tidak terlalu besar. Namun, masih bisa lah jika digunakan untuk nikah siri.
"Selamat siang, Buk. Ada yang bisa kami bantu?" sapa penjaga gedung itu dengan ramah.
"Selamat siang juga, Mbak. Apa saya boleh bertanya tentang sesuatu?"
Wanita itu langsung menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Buk. Apa yang ingin Anda tanyakan?"
"Em ... begini, apa kita bisa bicara di tempat lain? Soalnya saya ingin bertanya soal suami saya yang sudah menyewa gedung ini," pinta Zanna. Terlihat wanita itu terdiam karena merasa ragu untuk mengiyakan apa yang dia inginkan.
Zanna lalu menunjukkan foto Calvin pada wanita itu agar percaya dengan apa yang dia ucapkan. "Ini suami saya, Mbak. Apa benar, dia menyewa gendung di sini?"
Wanita itu memperhatikan foto Calvin sambil mengingat-ingat apakah laki-laki dalam foto itu menyewa gedung atau tidak.
"Ah iya benar, Buk. Tuan ini menyewa gedung sekaligus untuk persiapan pernikahan." Wanita itu langsung menutup mulutnya saat sadar bahwa yang sedang berdiri di hadapannya sekarang mengaku sebagai istri dari laki-laki itu.
Zanna tersenyum melihat reaksi wanita itu. "Tidak apa-apa, Mbak. Saya sudah tau semuanya, Kok. Itu sebabnya saya datang ke sini."
Wanita itu bernapas lega, dia tidak mau kalau gara-gara dia rumah tangga orang lain menjadi rusak. "Ka-kalau gitu mari, Buk. Kita bicara di dalam saja." Dia lalu mengajak Zanna untuk masuk ke dalam salah satu ruangan.
Zanna mengucapkan banyak terima kasih lalu mengikuti langkah wanita itu ke dalam ruangan. Mereka lalu duduk saling berhadapan dengan segelas minuman yang wanita itu suguhkan.
__ADS_1
"Sebelumnya perkenalkan, Buk. Nama saya Amy." Wanita itu menyodorkan tangannya yang langsung dibalas oleh Zanna.
"Aku Zanna, panggil saja kakak ya. Jangan terlalu formal."
Amy menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Kak. Apa yang mau kau tanyakan?"
Zanna laangsung saja mengatakan tujuannya datang ke gedung itu. Namun sebelumnya, dia meminta agar Amy tidak mengatakan tentang kedatangannya pada Calvin dan juga Rere.
"Aku janji tidak akan mengatakannya, Kak."
Zanna merasa sangat senang sekali, dia lalu menyakaan tentang bagaimana persiapan pernikahan itu. Juga bertanya apakah Calvin dan Rere sering memeriksa persiapan mereka atau tidak.
"Persiapannya sudah sekitar 85% Kak, karena memang acaranya sudah tinggal 4 hari lagi,"
"Wah, secepat itu?" tanya Zanna dengan getir membuat Amy menggenggam tangannya.
"Maaf, Kak. Aku tidak tau apa yang terjadi pada rumah tangga Kakak, tapi aku cuma bisa bilang sabar."
Amy ikut sedih dengan apa yang terjadi pada rumah tangga Zanna. Walaupun dia baru saja mengenal wanita itu, tetapi dia tahu benar betapa sakitnya pengkhianatan yang sedang wanita itu alami saat ini.
"Sebenarnya wanita seperti apa yang dengan teganya menyakiti hati wanita lain? Apa dia itu tidak punya hati nurani sama sekali, sehingga merebut laki-laki yang sudah jelas-jelas ada pemiliknya?" Amy benar-benar tidak habis pikir.
"Jadi, apa mereka sering datang ke sini?" tanya Zanna kemudian.
"Beberapa hari yang lalu sempat datang, Kak. Tapi setelah itu tidak datang lagi, dan hanya wanita itu saja yang semalam menelpon kami."
Zanna menganggukkan kepalanya, tentu saja Calvin tidak bisa datang karena sedang bersamanya. "Terima kasin karna sudah mau menjawabnya, Amy. Sekarang aku butuh bantuanmu, maukah kau membantuku?"
__ADS_1
Amy langsung menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mendengarkan semua ucapan Zanna dengan khusyuk.
"Aku akan mengirimkan videonya padamu sebelum acara dimulai, dan kalau bisa video itu berputar setelah mereka sudah sah menjadi suami istri. Dan sisanya, akan aku kasitahu nanti."
Amy mengangguk paham, kemudian dia terkejut saat tiba-tiba Zanna memberikan sebuah amplop berwarna coklat dengan isi yang cukup tebal. "I-ini apa, Kak?" Dia menatap Zanna penuh tanda tanya.
"Anggap ini sebagai rasa terima kasihku, Amy. Tolong jangan menolaknya." Zanna memberikan uang sebesar 5 juta rupiah untuk Amy sebagai ucapan terima kasih, dan dia akan memberikan uang lagi saat semua sudah berjalan dengan lancar.
"A-aku tidak menginginkannya, Kak. Aku ikhals ingin membantu Kakak." Dia ikut merasa sedih dan sakit hati, itu sebabnya bersedia membantu Zanna tanpa balasan apa-apa. Lagi pula dia bukan disuruh untuk membunuh, hanya memberi kejutan kecil saja.
"Aku tidak membayarmu, Amy. Aku memberikannya sebagai ucapan terima kasih. Anggap saja ini uang belanja dari kakakmu."
Amy menatap Zanna dengan mata berkaca-kaca, dia lalu mengangguk dan mengucapkan banyak terima kasih. "Padahal Kak Zanna sangat baik dan cantik seperti ini, tetapi suaminya malah memilih wanita yang seperti itu. Apa matanya itu buta?" Dunia memang sudah akan kiamat, pikir Amy.
Setelah selesai menjalankan rencananya, Zanna segera pamit untuk kembali ke apartemen. Dia takut mungkin saja Calvin sudah kembali.
Namun, saat berhenti di lampu merah. Zanna tidak sengaja melihat Calvin keluar dari mobil yang sedang terparkir di depan sebuah restoran, dan begitu lampu hijau menyala. Dia segera memutar balik mobilnya menuju restoran tersebut.
"Apa yang dia lakukan di sana?" Zanna segera memarkirkan mobilnya di depan supermarket agar tidak ketahuan oleh Calvin, dia lalu berjalan ke arah restoran yang berada sekitar beberapa meter dari mobilnya berada.
Deg.
"Tunggu, itu kan Naomi. Kenapa dia bersama dengan Calvin?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.