
"Kau, kau bilang apa?" tanya Ella dengan tidak percaya, minuman yang ada di tangannya bahkan sampai jatuh ke atas tanah.
Venzo menatap Ella dengan sendu. "Itulah yang aku dapatkan setelah melakukan penyelidikan, Ella. Pamanmu bekerja sama dengan salah satu musuh keluargamu, itu sebabnya mereka bisa menyerang kalian pada malam itu."
Ella terpaku di tempatnya dengan mata membulat dan mulut terbuka, dadanya berdegup kencang karena mendengar sesuatu yang Venzo ucapkan. "Itu, itu tidak mungkin." Dia menggelengkan kepalanya dengan air mata yang menetes dari kedua mata.
Venzo hanya diam dan tidak bisa mengucapkan apa-apa, dia tahu jika saat ini wanita itu pasti sangat terkejut dengan apa yang dia katakan.
"Tidak, kau pasti berbohong. Kau ingin mengadu domba antara aku dan paman," ucap Ella sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Ella. Aku sudah-"
"Diam! Kau hanya laki-laki asing yang mengaku dekat denganku, aku bahkan sama sekali tidak bisa mengingatmu. Lalu, kenapa aku harus percaya padamu, hah?" teriak Ella membuat orang-orang yang ada disekitar mereka terlonjak kaget.
"Ayo kita bicarakan di tempat lain, Ella!"
"Jangan menyentuhku!" Ella menghempaskan tangan Venzo dengan kasar. "Jangan pernah menemuiku lagi." Dia menatap laki-laki itu dengan tajam, wajahnya memerah karena emosi yang mulai merasuki.
"Ikutlah denganku, Ella. Aku akan menunjukkan buktinya pada-"
"Cukup! Jangan bicara lagi, aku tidak- aarrgh!"
"Ella!" Venzo menangkap tubuh Ella yang terhuyung ke arah samping, tampak wanita itu mengernyit kesakitan sambil memegangi kepala. "Kau, kau tidak apa-apa, Ella?"
"Le-lepaskan aarggh!" Kepala Ella terasa seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum membuat dia memekik kesakitan, bahkan untuk bicara saja rasanya tidak bisa.
Dengan cepat Venzo mengangkat tubuh Ella dan membawanya ke mobil, dia harus segera membawa wanita itu ke rumah sakit sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Sepanjang perjalanan Ella terus memegangi kepalanya sambil menahan rasa sakit. Sekujur tubuhnya sudah basah dengan keringat, juga wajah yang tampak sangat pucat membuat Venzo sangat khawatir sampai meneteskan air mata.
"Bertahanlah, bertahanlah, Ella. Aku mohon." Venzo semakin menekan pedal gasnya membuat mobil itu melaju dengan sangat cepat hingga tidak terasa sudah sampai di tampat tujuan.
Venzo segera menggendong tubuh Ella dan membawanya keluar dari mobil, dia lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit sambil berteriak memanggil Dokter.
"Dokter, Dokter!"
__ADS_1
Suara Venzo menggema di lobi rumah sakit membuat seorang Dokter dan beberapa perawat menghampirinya dengan membawa banker.
"Tolong letakkan pasien di sini, Tuan."
Venzo segera membaringkan Ella di atas banker, lalu pertugas medis segera membawanya masuk ke dalam ruang UGD.
"Tolong tunggu di luar saja, Tuan,"
"Tidak. Aku ingin masuk dan menemaninya." Venzo harus ikut masuk untuk berada di sisi Ella, dia tidak mau terjadi sesuatu dengan wanita itu.
"Tidak bisa, Tuan. Anda harus tetap-"
"Diam!" Venzo langsung menabrak tubuh perawat itu hingga tersungkur di atas lantai membuat orang-orang yang ada di dalam ruangan terlonjak kaget.
"Maaf, Tuan. Anda tidak boleh berada di-"
"Panggil direktur rumah sakitmu ke sini sekarang juga!" Venzo tidak peduli, dia berdiri tepat di samping Ella yang sudah tidak sadarkan diri.
"Tapi Tuan-"
Dokter terpaksa melakukan pemeriksaan dengan Venzo berada di dalam ruangan, sementara Venzo merasa tidak peduli dan hanya fokus pada Ella saja.
"Aku mohon selamatkan Ella, Tuhan. Aku mohon." Venzo terisak di samping Ella membuat Dokter dan beberapa perawat yang ada di ruangan itu tercengang.
"Aku mohon bertahanlah, Ella. Aku mohon. Tolong jangan tinggalkan aku lagi, aku mohon." Kehilangan yang Venzo rasakan dulu menjadi sebuah trauma besar untuknya.
Mulai dari ibu, ayah, bahkan sampai Ella. Mereka semua hilang secara mendadak dan meninggalkannya seorang diri. Sekarang dia tidak ingin itu terjadi lagi, dia harus berada di samping Ella apapun yang terjadi.
Direktur rumah sakit itu masuk ke dalam ruangan dan terkejut saat melihat keberadaan Venzo. "Tu-tuan Venzo?"
Venzo yang fokus pada Ella kini memalingkan wajahnya ke arah laki-laki paruh baya itu. "Kau sudah datang?"
"I-ya, Tuan. Maafkan saya karena tidak tahu jika Anda datang ke rumah sakit,"
"Panggil Dokter William dan Dokter Agnes kemari, aku mau mereka yang memeriksa Ella,"
__ADS_1
"Ba-baik, Tuan." Direktur itu segera menyuruh seseorang untuk memanggil dua dokter terbaik yang ada di rumah sakit itu.
Beberapa saat kemudian, kedua Dokter yang Venzo inginkan langsung memeriksa keadaan Ella. Mereka melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, apalagi saat Venzo mengatakan tentang hilangnya ingatan pasien membuat mereka semakin memeriksa dengan teliti.
Pada saat yang sama, Rosa sedang menunggu kepulangan Ella di teras rumah. Dia khawatir karena nomor ponsel Ella tidak bisa dihubungi, dan sekarang sudah pukul 5 sore.
"Kamu di mana, Ella? Semoga kau baik-baik saja,"
"Apa yang kau lakukan di sini, Rosa?"
Rosa terjingkat kaget saat mendengar suara baritone seseorang, sontak dia menoleh ke arah samping di mana suaminya berada. "Ka-kau sudah pulang, suamiku?" Dia menelan salive dengan kasar.
"Ya. Tapi, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Zaydan dengan tajam, dia menatap curiga ke arah Rosa.
"A-aku, aku sedang cari angin, Sayang. Apa kau mau langsung mandi?" tanya Rosa mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Tidak. Aku ingin menemui Ella dulu, ada sesuatu yang ingin aku katakan." Zaydan berjalan masuk ke dalam rumah membuat Rosa langsung panik.
"Ke-kenapa tidak bicara nanti malam saja, suamiku? Kau kan lelah baru pulang kerja." Rosa berdiri tepat di depan pintu membuat langkah Zaydan terhenti.
"Kenapa harus nanti malam? Aku ingin memberitahukannya sekarang." Zaydan menarik tubuh Rosa agar minggir dari jalannya.
"Sa-saat ini Ella sedang tidak di rumah."
Ucapan Rosa membuat langkah Zaydan terhenti, dia lalu melihat ke arah wanita itu. "Dia sedang pergi? Sama siapa?"
Rosa menelan salivenya dengan kasar. "E-Ella pergi dengan tu-tuan Venzo."
"Apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.