
Venzo terus berlari ke arah di mana motornya berada, untung saya saat ini dia memakai pakaian santai dengan jaket yang membalut tubuh hingga bisa menutupi wajahnya dari mereka semua.
Venzo segera naik ke atas tunggangan besinya dan melaju meninggalkan tempat itu, dia terus memacu motornya agar terhindar dari kejaran mereka.
"Cepat kejar dia!" Zaydan beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam mobil. "Si*al. Siapa laki-laki itu? Apa yang dia lakukan di sini?" Dia segera menyalakan mobilnya untuk ikut mengejar seseorang yang sudah menyusup ke dalam tempatnya.
Venzo semakin menekan pedal gasnya hingga motor itu melaju sangat kencang, dia menyalip semua kendaraan yang melaju di depannya hingga tidak bisa lagi dikejar oleh Zaydan dan anak buah laki-laki itu.
Nasib baik memang sedang berada dipihak Venzo. Dia yang ingin menemui Ella berakhir melihat sesuatu yang sangat mencengangkan, hingga fakta tentang keterlibatan Zaydan dalam penyerangan Ella dan kedua orang tua wanita itu.
Lebih baiknya lagi, kebetulan dia memakai motor padahal sudah lama sekali dia tidak menggunakannya. "Kau memang selalu bersamaku, Tuhan. Terima kasih." Dia lalu membelokkan motornya kesebuah kawasan apartemen.
Venzo segera memarkirkan motornya dan beranjak pergi untuk menemui sang sekretaris. Dia masuk ke dalam lift dan segera menuju lantai 3.
Venzo mengetuk pintu dari unit apartemen sekretarisnya, dan tidak berselang lama seseorang membukakan pintu itu untuknya.
"Tu-tuan?" Lelaki pemilik apartemen itu terkejut saat melihat Venzo, dia lalu mempersilahkan laki-laki itu untuk masuk ke dalam unit apartemennya.
Venzo segera masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu, terlihat sekretarisnya berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan minuman dan makanan ringan untuknya.
"Silahkan, Tuan." Laki-laki itu meletakkan makanan dan minuman yang dia bawa ke atas meja, lalu mempersilahkan Venzo untuk menikmatinya.
"Duduklah, Leo. Ada pekerjaan yang harus kau kerjakan."
Lelaki bernama Leo itu menganggukkan kepalanya lalu beranjak ke dalam ruang kerjanya untuk mengambil laptop, setelah itu kembali menemui Venzo dan duduk tepat di hadapan lelaki itu.
"Seharusnya Tuan katakan pada saya, biar saya yang datang ke mansion Anda,"
"Situasinya sangat darurat, aku habis dikejar-kejar oleh Zaydan dan anak buahnya."
Leo tersentak kaget saat mendengarnya. "Beraninya mereka! Kalau gitu saya akan memberi balasan pada mereka, Tuan."
__ADS_1
"Itu tidak perlu." Venzo menggelengkan kepalanya. "Cepat hapus semua cctv mulai dari sebelum pelabuhan dari arah rumah Ella, sampai cctv dari pelabuhan ke sini. Mereka pasti akan mengecek cctv itu untuk melihat siapa aku."
"Baik, Tuan." Leo segera menjalankan apa yang Venzo perintahkan, dia mulai mengotak-ngatik laptopnya untuk menyabotase semua cctv disepanjang jalan yang Venzo katakan tadi.
Pada saat yang, Zaydan sangat murka karena anak buahnya tidak bisa menangkap seseorang yang telah menyusup untuk mendekatinya. Dia menghajar beberapa orang yang ada di sana untuk melampiaskan amarahnya.
"Dasar brengs*ek! Siapa yang berani bermain-main denganku, hah?" teriaknya sambil melempar barang-barang yang ada di tempat itu. Saat ini dia sudah berada dimarkas setelah tidak berhasil mengejar penyusup itu.
"Ka-kami akan segera mengecek cctv, Tuan."
Zaydan menganggukkan kepala, kemudian para anak buahnya segera mengecek cctv yang ada di pelabuhan, juga di sekitaran jalan untuk melihat siapakah yang menyusup ke dalam kelompok mereka.
"Siapkan kesenanganku, aku harus melampiaskan semua ini,"
"Baik, Tuan." Salah satu anak buah Zaydan segera melaksanakan apa yang tuannya inginkan.
Zaydan segera beranjak menuju lantai bawah tanah yang sengaja digunakan untuk penyimpanan barang dagangannya, sekaligus sebagai ruangan untuk menyalurkan segala kesenangannya.
Mata Zaydan berbinar-binar saat melihat sesuatu yang ada di depan matanya. Kemudian dia segera mengambil pisau dan juga gunting untuk membedah tubuh seseorang yang sudah tidak bernyawa.
Jleb.
Zaydan menusukkan pisau itu lalu menariknya dari sekitaran dada sampai ke bawah perut, setelahnya dia menusuk ke bagian lain dan terus seperti itu sampai seluruh organ yang ada di dalam perut berhamburan keluar.
"Ini sangat indah." Zaydan lalu mengambil gunting dan memotong-motongnya hingga menjadi beberapa bagian, dan dia terlihat sangat menyukai dan semangat dalam melakukannya.
Ya, itulah hobi dari seorang lelaki bernama Zaydan Geraldino. Putra bungsu dari pasangan Zaron Geraldino dan mendiang Hana Geraldino, sekaligus pewaris kedua yang akan mewarisi ZG Group. Namun, tidak ada yang tahu jika Zaydan mempunyai hobi yang sangat menyeramkan dan membuat siapa saja ingin muntah.
Sejak berumur 10 tahun, Zaydan sangat suka sekali menyakiti bahkan membunuh binatang-binatang yang ada disekitarnya. Lambat laun, apa yang dia lakukan itu menjadi sebuah hobi yang membuatnya senang dan melakukannya terus menerus.
Tidak ada yang mangetahui hal ini sampai dia berumur 20 tahun, ketika dia membunuh seekor kambing dan mencincang layaknya seorang pedagang di pasar.
__ADS_1
Zaron dan Zean yang mengetahui kelainan dalam diri Zaydan segera membawanya untuk konsultasi dengan psikolog, dan sejak saat itu mereka tidak pernah melihat Zaydan menyakiti binatang lagi.
Namun, terget Zaydan ternyata berpindah dari binatang ke tubuh manusia. Dia sangat penasaran bagaimana rasanya saat dia mencabik-cabik tubuh itu, dan mengeluarkan semua organ-organ yang ada dalamnya.
Zaron yang mengira bahwa Zaydan sudah sembuh, memerintahkan putra bungsunya itu untuk melanjutkan pekerjaan yang dulu terpaksa dia lakukan, yaitu perdagangan organ tubuh manusia.
Dia terpaksa terjun ke dunia ilegal itu untuk mencari dana saat perusahaannya diambang kebangkrutan, dan setelah itu dia tidak bisa lagi keluar dan mewariskannya pada Zaydan.
Semua itu membuat hobi Zaydan semakin menjadi-jadi, apalagi dia punya koneksi yang dengan mudahnya membantu dia untuk mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa tercium oleh kepolisian.
Setelah beberapa saat, akhirnya Leo berhasil membersihkan semua cctv yang dilewati oleh Venzo, lalu tuannya itu mulai menceritakan apa yang sudah dia lihat di pelabuhan sebelumnya.
"Periksa seluruh situs penjualan organ-organ manusia, kita harus segera bergabung dengan radar Zaydan. Pastikan dia tidak mengetahui identitas asli kita,"
"Baik, Tuan." Leo menganggukkan kepalanya.
"Tapi, ada satu hal yang membuatku penasaran. Kenapa ada beberapa mayat juga di dalam kotak itu, apa yang ingin mereka lakukan?" Venzo cukup terkejut saat melihatnya.
Jika Zaydan ingin mengambil organ mereka, jelas sudah diletakkan di tempat khusus agar bisa menjaganya tetap hidup. Namun, tidak dengan tubuh manusia begitu saja.
"Mungkin ada hal lain yang mereka lakukan, Tuan. Saya akan memerintahkan anak buah kita untuk memeriksa dari mana mereka mendapatkan semua itu."
Venzo menganggukkan kepalanya. "Ella pasti akan sangat syok saat mengetahuinya." Dia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1