Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 54. Ziarah ke Makam Orangtua.


__ADS_3

Rosa yang berjalan ke arah gazebo melihat Ella sedang bersama dengan Zaydan, dia lalu menajamkan penglihatannya saat memastikan apa yang sedang berada di tangan laki-laki itu.


"Ella!" teriak Rosa dengan sangat kuat membuat Ella dan juga Zaydan terlonjak kaget, begitu juga dengan para petugas keamanan yang berada tidak jauh dari tempat itu.


Rosa berjalan cepat untuk menghampiri Ella, dia merasa sangat cemas dan juga khawatir dengan apa yang sedang terjadi.


"Ella, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rosa saat sudah dekat dengan mereka.


"Aku sedang melihat paman mengubur kucing, Bibi." Ella menunjuk ke arah gundukan yang ada di bawah pohon duku.


Rosa melirik ke arah gundukan itu, lalu melihat ke arah Zaydan yang tersenyum ke arahnya. "Dia pasti sengaja melakukannya." Dia lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah Ella.


"Ya sudah, kalau gitu kita ke depan yuk!" Rosa langsung menggandeng lengan Ella dan membawanya ke gazebo, sementara Zaydan berlalu masuk ke dalam rumah.


Kedua wanita itu lalu duduk di gazebo dengan ditemani mangga dan berbagai cemilan yang Rosa bawa, juga ada jus segar yang sengaja disiapkan untuk Ella.


"Lain kali jangan mengikuti pamanmu, El," ucap Rosa membuat Ella menatapnya bingung.


"Mengikuti, maksudnya?" Ella merasa tidak mengerti.


Rosa terdiam karena bingung harus bagaimana mengatakannya pada Ella. "Ya pokoknya jangan pergi ke belakang sana, enggak baik untuk wanita hamil."


Ella mengangguk paham membuat Rosa menghela napas lega, setidaknya wanita itu bisa lebih waspada dan juga berhati-hati.


"Oh ya Bi, sudah lama aku ingin berziarah ke makam mama dan papa. Apa Bibi mau menemaniku?"


"Tentu saja, Sayang. Setelah ini kita pergi ya, Bibi juga ingin mengunjungi mereka."


Ella kembali menganggukkan kepalanya, lalu tiba-tiba dia terdiam saat ada sesuatu yang melintas dalam pikirannya.

__ADS_1


"Ada apa, Ella? Apa kepalamu sakit lagi?" tanya Rosa dengan khawatir.


Ella menganggukkan kepalanya. "Tidak, Bi. Akhir-akhir ini aku sering mengingat sesuatu yang terasa sangat nyata, kadang ingatan itu muncul dalam pikiranku."


Rosa tersenyum senang saat mendengarnya. "Benarkah? Kalau gitu, coba ceritakan pada bibi apa yang kau ingat. Mungkin bibi bisa membantumu."


Ella langsung saja menceritakan bahwa dia pernah bermimpi sedang jalan-jalan di hutan dengan di temani oleh  papanya, mereka lalu memburu seekor rusa yang berhasil dipanah oleh sang papa dan mereka membawanya pulang. Juga ada ingatan saat papanya sedang bermain piano, sementara mamanya bernyanyi dengan merdu.


Rosa tersenyum saat mendengar cerita Ella. "Itu semua memang pernah terjadi, Ella. Waktu itu kau dan kakak pergi berburu lalu mendapat seekor rusa. Kami sangat senang saat mengetahuinya, sampai-sampai kakek memberikan hadiah mobil untukmu. Padahal kak Zean yang memanahnya." Dia tergelak lucu saat mengingat saat-saat itu.


Ella juga ikut tertawa saat mendengarnya, dia berharap suatu hari nanti ingatannya akan kembali karena semua itu sangat berharga untuknya.


Setelah perbincangan itu, mereka berdua lalu bersiap untuk pergi ke pemakaman. Dengan berpakaian serba hitam, kedua wanita itu membawa mobil sendiri menuju tempat yang dituju.


"Tapi kak, kenapa aku tidak pernah melihat Noami lagi? Dia pernah bilang kalau akan selalu ada di sampingku, tapi sekarang nomor ponselnya bahkan tidak aktif," ucap Ella dengan sedih.


Ella menganggukkan kepalanya dengan lemah. Dia merasa rindu dengan gadis itu, biar bagaimana pun Naomi lah yang membawanya kembali pada keluarga.


Tidak berselang lama, sampailah mereka di pemakaman kedua orang tua Ella. Mereka segera keluar dari mobil dengan membawa buket bunga kesukaan dari masing-masing mendiang orang tuanya.


Air mata Ella langsung menetes saat berada dipusara kedua orang tuanya. Sungguh hatinya terasa sangat sakit dan juga sesak karena baru bisa menemui mereka saat ini, bahkan dia juga tidak bisa melihat kedua orangtuanya untuk yang terakhir kali.


"Mama, Papa. Maafkan aku, maafkan aku karena baru datang menemui kalian, aku bahkan baru mengingat tentang masa lalu yang berisi kenangan kita. Sungguh aku anak yang sangat buruk." Ella memeluk makam kedua orang tuanya yang saling bersebelahan membuat Rosa ikut meneteskan air mata.


"Aku benar-benar merindukan kalian, aku, aku ingin sekali bertemu dengan kalian. Huhuhu." Ella menangis dengan tersedu-sedu. Segala ingatan tentang masa lalu mulai berputar-putar dalam kepalanya.


"Mama, Papa. Aku, aku tidak datang sendiri. Aku datang bersama dengan Bibi, selama ini dia mengurusku dengan baik. Dia menyayangiku layaknya anak sendiri, juga selalu perhatian padaku. Sungguh aku sangat menyayanginya, kalian juga pasti menyayangi Bibi, 'kan?"


Rosa terisak saat mendengar apa yang Ella katakan, dia menundukkan kepalanya dengan persaaan bersalah yang teramat besar. "Maafkan bibi, Ella. Maafkan bibi." Dia semakin tersedu-sedu.

__ADS_1


"Aku juga datang bersama dengan cucu kalian Ma, Pa. Lihat, dia ada di dalam sini." Ella mengusap perutnya yang sudah membuncit. "Umurnya sudah 5 bulan, dan dia sangat aktif. Dokter bilang bulan depan aku sudah bisa melihat jenis kelaminnya dengan jelas. Menurut kalian, jenis kelamin cucu kalian ini apa?"


Ella terus mencurahkan semua yang ada dalam hidupnya di makam kedua orang tuanya. Dia merasa seperti sedang berhadapan langsung dengan mereka.


Setelah merasa cukup, Ella lalu mengajak Rosa untuk kembali ke rumah. Dia sudah merasa lelah karena terlalu banyak menangis.


"Loh, itu suara apa, Bi?" Tiba-tiba Ella mendengar suara sesuatu.


"Itu suara aliran sungai yang ada di bawah sana, airnya sangat jernih dan banyak warga yang mencuci dan mandi di sungai itu,"


"Wah, benarkah? Apa aku juga boleh ke sana?" Ella merasa ingin sekali melihatnya.


"Tentu saya, Sayang. Ayo, kita lihat sebentar."


Mereka berdua lalu berjalan ke arah sungai dengan melewati jalan setapak, terdengar suara orang-orang bersenda gurau di sana.


"Wah, airnya sangat jernih, Bi." Ella memasukkan kakinya ke dalam sungai yang dangkal, dan rasanya sangat segar.


Rosa juga tidak mau kalah, dia menaikkan lengan kemeja juga celananya agar bisa membasuh kaki dan tangannya dengan air itu.


Ella tersentak kaget saat melihat apa yang ada di lengan sang bibi. "Apa yang terjadi dengan lengan Bibi? Kenapa ada banyak sekali lebam?"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2