
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Zanna sampai juga di unit apartemen yang dituju. Jantungnya semakin berdegup kencang saat sudah berdiri di depan pintu apartemen itu, tangannya bahkan sudah gemetar tidak terkendali dan ingin pergi saja dari tempat ini.
"Tidak, aku tidak boleh pergi. Belum tentu yang aku takutkan itu benar-benar terjadi. Tapi, kalau itu benar bagaimana?" Zanna merasa gelisah sekali saat ini, sampai tidak sadar kalau wanita paruh baya yang bersamanya tadi sudah masuk ke dalam apartemen itu.
"Kenapa kau tidak masuk?"
Zanna tersentak kaget saat mendengar teriakan wanita paruh baya itu. "I-iya, sebentar, Buk." Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Apapun yang terjadi, dia harus masuk ke dalam apartemen itu dan membuktikan bahwa kecurigaannya tidaklah benar.
"Baiklah. Aku sangat mempercayaimu, Calvin. Aku akan masuk ke dalam hanya untuk memastikan kalau apa yang aku pikirkan salah, dan terjadi kesalahpahaman tentang tempat tinggalmu."
Setelah merasa tenang dan bisa mengendalikan diri, Zanna segera masuk ke dalam apartemen tersebut. Dia melangkahkan kakinya dengan pelan, sambil memperhatikan keseluruh penjuru tempat itu.
"Hah, akhirnya bisa istirahat juga," ucap wanita paruh baya itu sambil mendudukkan tubuhnya di atas sofa. "Sini duduk, kau pasti capek juga, kan?"
Zanna tersenyum ke arah wanita paruh baya itu sambil tetap melihat ke sana kemari. Tidak ada satu pun yang mencurigakan di apartemen itu, bahkan tidak ada satu foto pun yang terpajang di sana.
"Calvin pernah bilang kalau dia memajang foto pernikahan kami di ruang tamu. Tapi di sini, tidak ada foto apapun yang terlihat. Itu berarti tempat ini memang bukan apartemennya." Zanna menghembuskan napas lega. Kegelisahan yang sejak tadi bersarang dihati dan pikiran seketika menguap saat melihat keadaan tempat itu.
"Kenapa kau terus berdiri, apa kau mau minum sesuatu?"
Zanna kembali mengalihkan pandangannya ke arah wanita paruh baya itu. "Biar aku ambil sendiri saja, Buk. Aku boleh ke dapur, kan?"
Wanita paruh baya itu mengangguk. "Iya, ambil saja minum atau makanan yang ada di sini. Ibuk juga haus tambah lapar."
__ADS_1
Zanna langsung mengangguk paham, dia lalu berbalik dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil makanan dan juga minuman. Jujur saja, dia juga merasa lapar karena hari ini dia baru makan pada saat akan berangkat ke tempat ini.
Zanna membuka kulkas dan melihat ada banyak makanan dan juga buah-buahan di dalamnya. "Wah, isi kulkasnya penuh sekali. Kalau kulkasnya Calvin pasti kosong melompong." Dia segera mengambil air mineral dan beberapa makanan ringan, tidak lupa buah-buahan juga untuk Ibu itu.
Dia meletakkan semuanya di atas meja, lalu beralih mengambil piring dan juga gelas. Tanpa sengaja, mata Zanna melihat ke arah lemari di mana tersimpan beberapa set alat masak yang sama seperti yang ada di rumahnya.
"Bu-bukannya ini yang aku belikan untuk Calvin?" Dia memegang salah alat masak yang sebelumnya sudah dia persiapkan untuk laki-laki itu. "Tidak, itu tidak mungkin. Bisa jadi ini milik anak ibuk itu, barang seperti ini kan banyak dijual di mana-mana."
Zanna menggelengkan kepalanya, tetapi dia semakin membuka lebar pintu lemari itu karena penasaran dengan isi yang ada di dalamnya.
Deg.
Dia tercengang saat melihat barang-barang yang ada di dalam lemari itu, sama persis seperti barang-barang yang dia belikan untuk Calvin.
Mendadak tubuh Zanna langsung lemas saat melihat semuanya. Air mata yang sejak tadi dia tahan langsung berjatuhan, padahal dia hanya melihat alat-alat masak saja.
"Tapi, kenapa semuanya sama persis seperti yang aku pilihkan. Bahkan, tempat bekalnya juga sama." Entah kebetulan atau apa, yang pasti saat ini perasaan Zanna seperti sedang diporak porandakan.
Namun, dia mencoba untuk tetap berpikir positif dan menghapus jejak air mata yang ada di wajahnya. Dia lalu menutup lemari itu, dan beranjak pergi dari dapur dengan membawa makanan dan minuman yang telah disiapkan sebelumnya.
"Loh, ibuk pikir tadi kau ke mana. Kok lama kali enggak balik-balik," ucap wanita paruh baya itu.
Zanna hanya tersenyum saja untuk menanggapinya, dia lalu meletakkan apa yang dia bawa ke atas meja.
__ADS_1
"Oh ya, Buk. Siapa nama anak Ibuk? Mana tau aku mengenalnya," ucap Zanna, dia harus mencari informasi tentang pemilik apartemen ini.
"Oh, namanya Rere. Dia baru aja pindah ke sini beberapa bulan yang lalu, padahal dia akan segera menikah."
Zanna menganggukkan kepalanya. "Oh, Rere ya? Ada salah satu rekan kerja suamiku juga namanya Rere, mungkin mereka orang yang sama," balas Zanna dengan tetap tersenyum, walaupun semua ini sudah terasa sangat mengganjal sekali.
"Wah, ternyata kau sudah menikah, Nak? Ibuk kira masih gadis," seru wanita paruh baya itu dengan tidak percaya.
"Baru saja kok, Buk. Belum ada setahun, dan sekarang suami saya sedang dipindahkan tugas ke sini,"
"Wah, bagus itu. Nanti suamimu bisa berteman dengan calon suaminya Rere, dan kau juga bisa dekat dengan dia. Ibuk khawatir sekali saat tau kalau dia dipindahkan ke sini, dan untungnya calon suaminya juga ikut pindah." Wanita paruh baya itu menghela napas lega.
Zanna hanya diam mendengar semua ucapan wanita itu. Baiklah, sekarang dia sudah tidak sabar untuk bertanya siapa nama dari calon suami Rere itu. "Jadi, siapa nama calon suami anak Ibuk?"
"Ah, Rere kalau manggil dia Mas Vin. Ibuk juga enggak ingat siapa nama panjangnya, yang pasti dia sangat baik dengan semua keluarga ibuk. Dia juga sangat mencintai Rere, apalagi saat ayahnya meninggal. Dialah yang selalu bersama dengan anakku itu,"
Zanna mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Apa namanya Cal-"
"Ibuk!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.