Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 57. Pemeriksaan Kandungan.


__ADS_3

Keesokan harinya, Ella dan Rosa bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ella ingin memeriksakan kondisi kehamilannya, agar bisa mengetahui bagaimana perkembangan janin yang dia kandung.


"Ayo, biar paman antar." Zaydan yang sedang duduk bersama kakek Zaron beranjak bangun saat melihat Ella dan Rosa.


"Eeh, itu enggak perlu, Paman. Ini kan hari libur, lebih baik paman istirahat saja," tolak Ella secara halus, dia tidak ingin merepotkan pamannya yang sudah sibuk bekerja setiap hari.


"Paman enggak lelah, kok. Paman juga ingin melihat bayimu," ucap Zaydan lagi membuat Rosa merasa tidak nyaman.


"Setelah dari rumah sakit, kami akan singgah ke mall untuk belanja perlengkapan sih kecil, Sayang. Apa kau tidak masalah?"


Zaydan terdiam saat mendengar apa yang Rosa katakan. "Baiklah kalau gitu, paman malas sekali jika harus menemani belanja." Dia kembali duduk bersama dengan kakek Zaron.


Rosa bernapas lega lalu segera beranjak pergi bersama dengan Ella yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara dia dan juga Zaydan.


"Tidak ada yang aneh dengan paman dan bibi. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi sih?" Ella merasa pusing sendiri.


Setelah perjalanan kurang lebih 20 menit, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Rosa dan Ella segera turun dari mobil dan segera masuk ke dalam tempat itu.


Terlihat seorang Dokter sudah menunggu kedatangan mereka yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Rosa.


"Selamat pagi, Nyonya Rosa," sapa Dokter tersebut dengan senyum manisnya.


"Selamat pagi juga, Dokter Syila." Rosa membalas sapaan dari Dokter tersebut. "Ini adalah keponakan saya, namanya Zarella Geraldino." Dia memperkenalkan Ella.


"Selamat pagi, Nyonya Zarella,"


"Selamat pagi juga, Dokter. Panggil saya Ella saja," balas Ella dengan tersenyum.


Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam ruangan untuk melakukan pemeriksaan, di mana sudah banyak orang-orang yang mengantri untuk diperiksa.


"Baiklah, Nyonya Ella. Silahkan berbaring di atas ranjang."


Ella segera naik ke atas ranjang dengan dibantu oleh perawat. Perawat itu lalu menaikkan gaun yang Ella pakai, lalu mengoleskan gel tepat di atas perutnya.


"Kita akan melihat bagaimana kondisi sih kecil ya, Nyonya."


Ella menganggukkan kepalanya, dia lalu melihat ke arah monitor di mana sudah menampakkan apa yang ada di dalam perutnya.


"Wah, keadaan bayi Anda sangat sehat, Nyonya. Geraknya sangat aktif dan beratnya juga stabil, sekarang kita akan mendengarkan denyut jantungnya."


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


"Semuanya normal dan juga sehat, Nyonya."


Ella tersenyum lega saat mendengar penjelasan dari Dokter, begitu juga dengan Rosa yang terlihat sangat bersemangat saat melihat penampakan janin yang ada dalam kandungan Ella.


"Lalu, bagaimana dengan jenis kelaminnya, Dokter? Apa sudah kelihatan jelas?" tanya Ella.


"Tentu saja, Nyonya. Lihatlah ini!" Dokter itu lalu menunjuk ke layar untuk menunjukkan letak jenis kelamin dari janin itu. "Ini adalah belalainya. Selamat, Nyonya. Anda akan segera melahirkan seorang putra."


Mata Ella berkaca-kaca saat melihat semua itu, dia menangis haru saat mengetahui bahwa janin yang sedang dikandung berjenis kelamin laki-laki.


Rosa juga ikut mengeluarkan air mata kebahagiaan untuk Ella, dia senang karena sebentar lagi rumah mereka akan dipenuhi oleh suata tangisan bayi.


"Wah, selamat, Ella. Sebentar lagi baby boy akan meramaikan rumah kita, bibi sangat senang sekali mendengarnya." Rosa mengusap lengan Ella yang masih menatap ke arah layar monitor itu.


"Terim kasih, Bibi. Apa pun jenis kelamin bayi ini, aku akan tetap menerima dan merasa bahagia."


Rosa menganggukkan kepalanya, dia lalu membantu Ella untuk bangum karena pemeriksaan sudah selesak


"Saya akan meresepkan beberapa vitamin untuk Anda, Nyonya. Agar kesehatan Anda dan juga putra Anda bisa semakin baik."


Ella menganggukkan kepalanya. "Baiklah, terima kasih banyak, Dokter." Ella mengusap air mata yang masih membekas di wajahnya.


Pada saat sedang menunggu vitamin, tiba-tiba ponsel Ella berbunyi membuat dia langsung mengambilnya dari dalam tas. Terlihat ada panggilan masuk dari Venzo.


"Halo," ternyata Ella masih mau mengangkat panggilan dari laki-laki itu.


"Bagaimana kabarmu, Ella? Apa kau baik-baik saja?" tanya Venzo.


"Ya, aku baik-baik saja, Venzo," jawab Ella sambil menyandarkan tubuhnya.


"Lalu, apa yang sedang kau lakukan sekarang?" tanya lelaki itu lagi.


"Aku sedang berada di rumah sakit,"


"Apa, rumah sakit?"


Ella terpaksa menjauhkan benda pipih itu dari telinganya saat mendengar teriakan Venzo. "Kenapa kau berteriak? Kau mau membuat gendang telingaku pecah?" Dia merasa kesal dan sebal.


"Maaf, aku tidak sengaja." Terdengar helaan napas frustasi dari sebrang telepon. "Tapi, apa yang terjadi, Ella? Kenapa kau di rumah sakit?"


"Aku hanya sedang memeriksakan kandungannya ku saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

__ADS_1


Venzo menghela napas lega saat mendengarnya. "Baiklah. Aku akan ke sana untuk menemuimu."


"Untuk apa? Aku dan bibi sudah akan pergi sekarang," ucap Ella. Mau ngapain juga laki-laki itu bertemu dengannya?


"Kalau gitu aku akan menunggu di rumahmu."


Ella menghela napas kasar saat mendengar ucapan Venzo yang keukeh ingin bertemu. "Baiklah. Kami akan singgah ke mall untuk membeli perlengkapan bayi, datang saja ke sana."


"Oke."


Tut.


Panggilan itu langsung terputus begitu saja saat Ella sudah mengiyakan apa yang Venzo inginkan, lalu dia dan Rosa segera pergi dari rumah sakit menuju mall untuk berbelanja perlengkapan baby boy.


Pada saat yang sama, di negara lain terlihat sepasang suami istri sedang bertengkar di rumah mereka. Dialah Calvin dan juga Rere yang sedang berdebat tentang pekerjaan, yang tak kunjung juga mereka dapatkan.


"Mau sampai kapan kita seperti ini, hah? Jangankan untuk membayar sewa gubuk reyot ini, untuk makan saja kita sudah tidak punya uang, Mas!" teriak Rere yang sudah tidak sanggup lagi hidup susah seperti itu.


"Aku juga sudah berusaha, Rere. Tapi tidak ada yang mau menerimaku, apalagi kakiku belum-"


"Kau selalu saja menjadikan kakimu sebagai alasan. Sekalian saja kau manfaatkan kaki cacatmu itu untuk meminta-minta dilampu merah,"


"Apa? Kau bilang apa?" Calvin menatap Rere dengan tajam, rahangnya mengeras akibat perkataan yang terlontar dari mulut wanita itu.


"Kenapa, apa kau tersinggung, hah?" Rere menangis sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi.


Calvin yang sempat emosi mendadak jadi tenang saat melihat wanita itu menangis. "Aku sudah mengajukan tuntutan pada hakim untuk harta setelah perpisahan, Rere. Jadi tenanglah, kita pasti bisa mendapatkan semua itu."


Rere mendongakkan kepalanya menatap Calvin. "Benarkah? Tapi di mana Mbak Zanna sekarang? Apa, apa dia sudah bersama dengan keluarganya?"


Calvin menganggukkan kepalanya. "Itu mungkin saja, tapi aku sama sekali tidak peduli. Terserah dia mau apa dan bagaimana, aku tidak peduli lagi dengannya." Dia benar-benar sangat benci dengan Zanna.


Kasus perceraian antara Ella dan juga Calvin sudah berjalan, dan sudah dua kali sidang di gelar tetapi Calvin tidak bisa bertemu dengan wanita itu.


"Cih, dia sama sekali tidak mau datang ke persidangan. Aku yakin jika saat ini hidupnya tidak lebih baik dari kita. Apalagi keluarganya sangat kaya, dia pasti dibuang begitu saja setelah mereka mendapatkan sepasang berlian itu." Calvin tersenyum sinis.


"Kau benar, Mas. Untuk apa mereka menerima mbak Zanna yang malah akan mengancam kekuasaan mereka? Dan tugasmu sekarang menuntut dia untuk harta kalian. Tuntut sebanyak-banyaknya."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2