Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 76. Penantian Lama Berbalas Bahagia.


__ADS_3

Venzo langsung menginjak rem secara mendadak saat mendengar ucapan Ella, membuat wanita itu tersentak kaget dan hampir saja membentur bagian depan mobil.


"Astaga. Apa kau mau membuat kita bertiga mati, Venzo?" pekik Ella sambil mengusap perutnya yang sedikit bereaksi.


Venzo menatap Ella dengan tajam. "Apa maksudnya kau mengatakan jika aku bukan ayahnya?"


Ella mengernyitkan kening saat mendengar pertanyaan Venzo, lalu mencoba menahan senyumnya karena melihat amarah laki-laki itu.


"Kau memang bukan ayah dari anakku,"


"Jadi, apa maksud dengan ucapanmu itu?" Tiba-tiba suasana berubah menjadi tegang.


"Aku hanya memberitahu saja,"


"Tapi aku sudah tahu!" ucap Venzo dengan penuh penekanan.


"Kalau sudah tahu ya sudah,"


"Apa kau berniat untuk menemui laki-laki bajingan itu?" Venzo semakin menajamkan pandangannya dengan wajah kian memerah.


"Tidak. Untuk apa aku menemuinya?" Ella menggelengkan kepalanya.


"Lalu, untuk apa kau berkata seperti itu?"


Venzo mulai geram. Apalagi sejak tadi ucapan mereka terus saja berputar-putar tidak ada habisnya.


"Yah, karena itu kenyataannya,"


"Ella!"


"Apa?"


Mereka berdua saling tatap dengan sama-sama geram. Venzo geram karena Ella seolah-olah mengatakan jika dia sama sekali tidak berhubungan dengannya, sementara Ella sendiri geram karena sampai detik ini Venzo belum membahas masalah pernikahan.


"Sekarang mau mu apa, Ella?" tanya Venzo dengan suara yang mulai melemah, tentu saja hatinya luluh karena tatapan mata Ella yang memabukkan.


Ella terdiam sesaat sambil mengalihkan pandangan lurus ke depan. "Aku hanya mengatakan jika kau bukan ayah dari anakku, tapi kau bisa menjadi ayahnya jika melakukan suatu hal."

__ADS_1


Venzo mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Apa maksudnya?" Dia benar-benar tidak mengerti.


"Lupakan saja."


Venzo semakin tidak mengerti. Apalagi saat melihat wajah datar Ella yang seolah-olah mengatakan jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja.


Tidak mau semakin bingung, Venzo kembali melajukan mobilnya dengan pikiran tetap fokus dengan apa yang Ella katakan. Namun, tiba-tiba dia kembali menginjak rem saat baru menyadari ucapan wanita itu.


"Dasar gila! Sekali lagi kau melakukan ini, maka aku bisa melahirkan saat ini juga ,Venzo!"


Ella benar-benar kesal. Untung saja jalanan sedang sunyi, jika tidak sudah habis mereka di cium oleh mobil lain dari belakang.


"Aku akan menikahimu tepat di saat putri kecil itu lahir, Ella."


Deg.


Ella langsung mematung saat mendengar apa yang Venzo katakan. Matanya melirik ke arah laki-laki itu, tetapi anggota tubuhnya yang lain terasa kaku dan tidak bisa digerakkan.


"Maaf, aku tidak mengerti apa yang kau maksud tadi."


Venzo menggenggam kedua tangan Ella membuat wanita itu mengedipkan matanya beberapa kali. Dia benar-benar merasa bersalah karena sudah salah paham dengan maksud ucapan Ella, padahal wanita itu hanya ingin kepastian darinya saja.


Venzo tersenyum. Dia lalu membuka dashbor dan mengambil sesuatu dari tempat itu.


"Aku sudah lama menyimpan benda ini, bahkan sejak pertama kali kita berjanji untuk menikah."


Venzo mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sangat indah dan berkilauan, tentu saja membuat Ella membulatkan matanya.


"Aku sempat akan membuang cincin ini saat sudah sekian lama tidak menemukanmu, atau bahkan mendengar kabarmu. Namun, hati kecilku menyakinkan jika kau baik-baik saja dan akan kembali padaku."


Venzo lalu menangkat tangan Ella dan memasangkan cincin itu dijari manisnya membuat mata Ella berkaca-kaca.


"Ternyata ukurannya pas sekali, aku kira akan kekecilan." Venzo lalu mengecup tangan Ella dengan lembut.


"Kau, kau benar-benar sudah menyiapkannya untukku?" tanya Ella dengan lirih.


Venzo mengangguk. "Tentu saja, aku bahkan hampir putus asa karenanya."

__ADS_1


Lebih dari 10 tahun Venzo mencari dan menunggu kedatangan Ella, tentu saja ada rasa putus asa dalam dirinya jika wanita itu tidak akan kembali dan ternyata sudah tiada.


Namun, penantiannya berbuah manis. Orang yang selama ini dia tunggu-tunggu ternyata kembali dalam pelukannya.


Tangis Ella pecah saat mendengar ungkapan Venzo. Dia merasa bahagia sekaligus sedih secara bersamaan. Dia bahagia karena cinta Venzo sangat besar untuknya, tetapi dia juga sedih karena laki-laki itu sudah sangat lama menunggunya. Bahkan Venzo harus menerimanya yang sudah berstatus janda dan sedang mengandung.


"Maaf, maafkan aku."


Ella menundukkan kepalanya dengan terisak. Andai saja keluarganya baik-baik saja, pasti dia dan Venzo tidak akan terpisah seperti ini.


"Kenapa minta maaf, hem?" Venzo menarik tubuh Ella dan memeluknya dengan erat. "Kau merasa bersalah karena sudah membuatku menunggu?" Tebakannya tepat sasaran membuat Ella semakin menangis.


"Maaf sudah membuatmu menunggu,"


"Kau tidak perlu minta maaf, Sayang. Semua yang sudah terjadi telah berlalu, dan tidak perlu diingat lagi. Cukup ingat apa yang terjadi sekarang, dan apa yang akan terjadi di masa depan."


Ella menganggukkan kepalanya sambil mengusap air mata yang membekas di wajah. Dia lalu merenggangkan pelukannya, dan menarik tangan Venzo untuk diletakkan di perutnya.


"Ini putrimu, sebentar lagi dia akan menemui kita. Jadi tolong siapkan nama yang bagus dan indah untuknya."


Kali ini mata Venzo yang berkaca-kaca. Dia merasa terharu sekaligus bahagia. "Tentu saja, aku pasti akan menyiapkan nama untuknya."


Mereka berdua lalu tertawa dan saling berciuman dengan mesra. Kemudian Venzo kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.


Pada saat yang sama, Zavier dan Rosa yang sudah pulang dari rumah sakit terpaksa berangkat kembali ke sana karena salah satu polisi memberi kabar jika Zaydan sudah sadar.


"Papa!"


Zavier langsung menghamburkan diri ke tubuh sang papa yang sudah duduk bersandar di ranjang. Dia benar-benar merasa bahagia saat melihat papanya sudah sadar dan tampak baik-baik saja.


"Kau tidak ingin menumpahkan kekesalanmu lagi, Zavier?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2