Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 68. Kembali Berdegup Kencang.


__ADS_3

Nolan langsung melesatkan tembakan ke arah Leo, tetapi untung saja Leo bisa menghindar hingga peluru itu tidak mengenai kepalanya.


"Kau masih harus banyak belajar jika ingin membunuhku, Nolan."


Leo langsung menyerang Nolan dengan membabi buta. Persetan jika laki-laki itu sampai mati ditangannya, yang jelas dia sudah membawa Nolan pergi dari jangkauan Zaydan.


Sementara itu, Ella dan yang lainnya sudah sampai di bandara. Mereka bahkan sudah dalam perjalanan pulang karena Ella ingin cepat-cepat sampai di rumah.


"Ada apa, Ella? Kenapa kau sangat gelisah?" tanya Venzo sambil menggenggam kedua tangan Ella.


"Entahlah, Venzo. Aku seperti merasa akan terjadi sesuatu," jawab Ella.


Entah kenapa perasaannya menjadi tidak nyaman dan juga was-was. Dia merasa seperti akan terjadi sesuatu pada mereka, tetapi tidak tahu sesuatu apa yang akan terjadi.


"Tenanglah. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi."


"Semoga saja, Venzo."


Ella memejamkan kedua matanya sambil mencoba untuk menenangkan diri. Kepalanya bersandar di dada bidang Venzo, dengan tangan terulur mengelus perut.


"Ya Tuhan, aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Tapi aku mohon lindungi semua orang yang aku sayangi, aku mohon."


Ella berdo'a dalam hati agar semuanya baik-baik saja, dan tidak ada hal buruk yang terjadi pada keluarganya.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai juga di halaman rumah mewah keluarga Ella. Mereka segera turun dan berlalu masuk ke dalam rumah tersebut.


"Ella!"


Ella yang baru saja selangkah masuk ke dalam rumah langsung disambut oleh Rosa, mereka lalu berpelukan dengan sangat erat seperti sudah beberapa tahun tidak bertemu.


"Kau baik-baik saja 'kan, Ella?" tanya Rosa sambil memperhatikan tubuh Ella.


Ella menganggukkan kepalanya. "Aku baik-baik saja, Bibi. Baru juga beberapa jam kita tidak bertemu."


"Benar juga."

__ADS_1


Mereka berdua tergelak sambil berjalan ke ruang keluarga, begitu juga dengan Venzo dan juga Naomi yang mengikuti dari belakang.


Kemudian Rosa bertanya bagaimana perceraian Ella dengan mantan suaminya, dan Ella langsung menceritakannya karena tidak ada sesuatu yang harus ditutup-tutupi.


"Cih, dia pasti menyesal saat melihat kau sedang mengandung. Lihat saja, aku akan langsung menghajarnya jika berani datang ke rumah ini."


Rosa merasa geram dan juga kesal. Ingin sekali dia bertemu langsung dengan mantan suami Ella itu, agar bisa menghajar laki-laki tidak tahu diri dan pengecut sepertinya.


"Sebelum Bibi menghajarnya, aku akan mematahkan kakinya lebih dulu jika berani menemui Ella," ucap Venzo tidak mau kalah.


Sebenarnya tadi dia ingin sekali memberi pelajaran pada laki-laki itu, tetapi mereka sedang berada di pengadilan. Semua akan semakin rumit jika dia membuat masalah, dan Ella pasti tidak akan menyukainya.


"Ya ya ya, saya yakin kalau Anda pasti akan melakukan itu, Tuan."


Ella dan Naomi menggelengkan kepala mereka saat mendengar apa yang Rosa dan Venzo katakan, dan tidak berselang lama datanglah Zaydan dan juga kakek Zaron untuk bergabung bersama dengan mereka.


Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk berbincang dengan keluarga Ella, Venzo memutuskan untuk pamit pulang. Dengan cepat Ella mengikuti langkah Venzo untuk mengantarkannya ke depan rumah.


Zaydan menatap punggung Venzo dengan tajam. Kedua tangannya mengepal kuat membuat kakek Zaron mendekatinya dan menepuk bahunya dengan pelan.


Zaydan langsung beranjak bangun dan berlalu pergi ke ruang kerjanya dengan diikuti oleh kakek Zaron, sementara Rosa menatap suami dan juga papa mertuanya itu dengan heran.


"Apa yang terjadi? Kenapa mereka seperti sedang merencanakan sesuatu?"


Rosa merasa curiga, tetapi dia tidak bisa mendekati mereka atau akan terjadi hal buruk dengannya atau dengan sang putra.


Ella mengantar Venzo sampai masuk ke dalam mobil, tentu saja Venzo sangat bahagia dengan apa yang wanita itu lakukan.


"Masuk dan istirahatlah, Ella. Kau pasti sangat lelah karena perjalanan kita hari ini."


Ella menganggukkan kepalanya dengan senyum manis. "Aku akan istirahat setelah kau pulang, Venzo."


"Kenapa? Apa kau mengkhawatirkanku?"


Venzo menaik turunkan alisnya membuat Ella tergelak. Dia lalu kembali keluar dari mobil dan langsung mengecup bibir wanita itu.

__ADS_1


Cup.


Ella tersentak kaget dengan apa yang Venzo lakukan. Tubuhnya seperti terkena sengatan lisrik hingga membuatnya tegang dan kaku, juga wajah yang memerah bak kepiting rebus.


"Sudah lama aku ingin merasakannya, Ella. Kau tidak marah, 'kan?"


Venzo takut jika Ella tidak suka dengan ciuman yang dia lakukan, apalagi dengan cara tiba-tiba seperti ini.


"Ti-tidak. Ka-kalau gitu cepatlah pulang, aku, aku masuk ke dalam dulu."


Ella langsung berbalik dan berjalan cepat untuk masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban dari Venzo. Tentu laki-laki itu merasa bingung, apakah Ella marah atah tidak.


"Dasar bod*oh!"


Venzo mengusap wajahnya sendiri dengan kasar, dia geram dengan diriny a sendiri yang tidak bisa menahan diri dan langsung mengecup bibir Ella.


Ella sendiri bergegas naik ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamarnya. Dia merebahkan tubuh di atas ranjang sambil memandang langit-langit kamar.


Untuk pertama kalinya setelah dikecewakan oleh Calvin, dada Ella kembali berdegup kencang dengan apa yang Venzo katakan. Dia bahkan masih bisa merasakan lembabnya bibirnya laki-laki itu saat mendarat tepat di atas bibirnya.


"Dasar gila. Kenapa aku terus mengingat ciuman itu?"


Ella mengusap bibirnya sendiri dengan tangan. Dia lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan diri dan otak sekaligus.


Pada saat yang sama, terlihat Zaydan sedang menelepon seseorang di ruang kerjanya.


"Pastikan kalian membereskannya, dan bawa dia ke markas." Perintahnya pada sang anak buah untuk menyerang seseorang.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2