Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 21. Memberikan Pelayanan Terbaik.


__ADS_3

Rere terdiam saat mendengar apa yang Zanna katakan, kepalanya tertunduk karena tidak berani melihat ke arah wanita itu.


"Sekarang lebih baik kau pergi dari tempat ini sebelum aku marah, Rere." Zanna beranjak bangun dan menunjuk ke arah pintu.


Rere mendongakkan kepalanya dan menatap Zanna dengan sendu. "Aku tidak bermaksud-"


"Pergi!"


Tubuh Rere tersengak kaget mendengar bentakan Zanna, sontak dia bergegas keluar dari apartemen sebelum dihajar oleh wanita itu.


Brak.


Zanna menutup pintu apartemen itu dengan kasar, dia lalu kembali menghempaskan tubuhnya ke atas sofa sambil menghela napas frustasi. "Aku ingin segera pergi dari tempat ini sebelum menjadi gila karena mereka. Tapi, bagaimana dengan berlian itu?"


Tidak ada satu petunjuk pun yang bisa di dapat oleh Zanna, dia bahkan tidak tau kepada siapa harus bertanya tentang semuanya kecuali Calvin.


"Baiklah. Selesaikan semuanya satu-satu, Zanna. Jangan sampai gara-gara berlian itu kau jadi mengemis di pada Calvin." Ya, dia tidak mau laki-laki itu tahu kalau dia sudah menemukan berlian itu.


Mungkin ada sesuatu yang tersembunyi di balik sepasang berlian itu, apalagi dengan keberadaan surat di dalamnya membuat Zanna yakin kalau berlian itu berkaitan erat dengan kehidupannya.


Namun, semua itu tidak boleh membuat dia lupa akan perbuatan yang sudah Calvin lakukan. Tidak akan pernah bisa dilupakan walau dia berusaha untuk melupakannya sekalipun.


"Besok aku harus mendatangi gedung yang sudah disewa oleh Calvin untuk pernikahan si*alan mereka itu. Dan aku akan membuat pertunjukan di sana."


Zanna lalu segera beranjak ke dapur untuk melanjutakan acara masak memasaknya yang sempat tertunda. Dia ingin menyiapkan makanan yang lezat untuk Calvin supaya laki-laki itu tidak akan bisa melupakannya.


Beberapa saat kemudian, semua menu makanan sudah siap dengan sempurna. Zanna lalu beranjak dari dapur menuju ruang tengah untuk menunggu kepulangan Calvin.


Tit, tit.

__ADS_1


Zanna yang sedang bermain ponsel tersentak kaget saat mendengar suara pintu apartemen itu dibuka oleh seseorang, sontak dia langsung menyimpan benda pipih itu dan beranjak ke pintu seolah-olah ingin menyambut kedatangan Calvin.


"Calvin!"


Calvin terkejut saat tiba-tiba mendengar suara Zanna. "Sayang, Kau membuatku terkejut."


Zanna langsung tersenyum lebar penuh kepalsuan saat mendengar apa yang Calvin katakan. "Seharusnya aku lebih mengejutkanmu lagi supaya kau terkena serangan jantung dan mati sekalian." Dia tetap tersenyum dengan manis.


"Ayo, kita masuk. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu."


Calvin menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Zanna ke dapur. Dia duduk di kursi sambil menyanggah kepalanya dengan tangan. Matanya bergerak ke sana-kemari memperhatikan Zanna yang sedang menyiapkan makanan untuknya.


"Terima kasih, Sayang," ucap Calvin saat makanan sudah terhidang di hadapannya. Perutnya langsung keroncongan saat melihat menu makanan yang sudah tersaji, dan langsung menikmatinya dengan lahap.


"Pelan-pelan saja, Calvin. Nanti kau bisa tersedak." Zanna menuangkan air ke dalam gelas Calvin yang sudah tinggal setengah.


"Masakanmu memang sangat lezat, Sayang. Tidak ada yang bisa memasak makanan seenak ini,"


"Tentu saja."


Entah karena makanan itu yang terlalu lezat atau apa, yang pasti Calvin tidak sadar dengan apa yang barusan saja dia ucapkan.


Zanna hanya tersenyum simpul saja saat mendengar jawaban Calvin. "Baguslah kalau seperti itu, kau jadi bisa lebih mengingat rasa masakanku dari pada wanita itu. Aku yakin sekali, Calvin. Dari hal-hal kecil seperti ini, malah akan lebih ampuh untuk membuatmu selalu mengingat diriku ini."


Zanna lalu ikut menikmati makanan itu karena memang sejak tadi dia belum makan, dan dia bangga bisa memasak masakan selezat ini walaupun suaminya tidak bersyukur punya istri sepertinya.


Selesai makan, Calvin memutuskan untuk membersihkan diri sementara Zanna juga ikut masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan pakaian laki-laki itu.


"Ya Tuhan. Apa Calvin sama sekali tidak berniat untuk membuang barang-barang wanita itu?" Zanna benar-benar ingin sekali membakar pakaian Rere yang masih berada di dalam lemari. "Tapi baiklah, semua itu juga tidak penting untukku." Dia lalu mengambilkan pakaian untuk Calvin dan menutup lemari itu dengan rapat.

__ADS_1


Calvin tampak segar saat keluar dari kamar mandi. Dia menyugar rambutnya yang masih basah membuat air dirambut itu menetes membasahi bahu.


"Kau sedang apa, Sayang?" tanya Calvin yang melihat Zanna memandanginya di atas ranjang.


"Tidak ada. Aku hanya sedang mengagumi ketampanan suamiku."


Wajah Calvin bersemu merah saat mendengar apa yang Zanna ucapkan. "Kau pintar sekali menggombal ya, Sayang." Calvin menggelengkan kepalanya sambil memakai pakaian yang sudah disiapkan Zanna untuknya.


Zanna hanya tersenyum saja sambil terus menatap wajah Calvin. Hatinya menangis dengan apa yang terjadi saat ini, bahkan sekuat tenaga dia menahan air mata yang sudah akan jatuh berderai membasahi wajah. "Ya Tuhan, aku mohon kuatkan aku. Hatiku sangat sakit sekali."


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau melamun?"


Zanna tersentak kaget saat tiba-tiba Calvin sudah berada di sampingnya. "Tidak ada, Sayang. Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan." Dia mengusap lengan Calvin.


"Jadi, kapan kau akan kembali, Sayang? Bagaimana kalau besok kita pulang, aku akan mengatakan pada perusahaan pusat." Calvin merasa senang karena Zanna mengatakan tentang pekerjaan, padahal sejak tadi dia bingung harus mulai dari mana dulu untuk mengajak wanita itu pulang.


"Aku bisa pulang sendiri, Calvin. Kau tidak perlu mengantarku." Zanna memijat kepala Calvin yang saat ini sudah berbaring dipangkuannya.


"Kenapa seperti itu? Tentu saja aku harus mengantarmu, Sayang. Aku juga akan segera mengurus kepindahanku, agar kita bisa kembali bersama," ucap Calvin dengam bohong. Padahal dia harus mengurus masalah berlian, sekaligus tentang pernikahannya dengan Rere yang entah akan dilanjutkan atau tidak.


"Terserah kau saja, Calvin. Tapi, besok aku ingin mencari ole-ole dulu sebelum pulang. Mungkin lusa kita baru bisa kembali," ucap Zanna.


Calvin menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Besok aku akan menghubungi kantor pusat dulu, sorenya kita baru mencari ole-ole sekaligus keliling kota ini."


Zanna menyetujui apa yang Calvin katakan. "Tentu saja, Calvin. Mungkin itu akan menjadi terakhir kalinya kita bersama."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2