
Tepat pukul 7 malam, Ella keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu. Terlihat Rosa dan juga kakek Zaron sedang duduk di ruang keluarga sambil menceritakan tentang Zavier.
"Dia ngotot ingin melanjutkan S2 di luar negeri, Pa. Entah apa yang terjadi padanya," ucap Rosa saat mengatakan tentang apa yang Zavier inginkan.
"Biarkan saja selagi dia masih mau bersekolah," balas kakek Zaron sambil melihat ke arah tangga di mana Ella sedang berjalan ke arah mereka.
"Bagaimana keadaanmu, Ella? Apa sudah tidak pusing?" tanya Rosa sambil menepuk sofa yang ada di sampingnya membuat Ella duduk di sana.
"Sudah tidak kok, Bi. Malah sekarang aku sangat sehat,"
"Syukurlah," ucap Rosa dan kakek Zaron secara bersamaan.
"Ya sudah, ayo kita makan malam. Bibi akan panggil Zavier sebentar, kau dan papa duluan saja ke dapur,"
"Apa aku tidak di ajak makan malam?"
Semua orang langsung memalingkan wajah mereka ke arah sumber suara, dan terlihatlah Venzo dengan sebuket bunga di tangannya.
"Selamat datang, Tuan Venzo," sambut Rosa dengan senyum lebar membuat Ella menatap dengan heran.
"Kenapa reaksi Bibi lain dari pada yang lain? Padahal kakek dan Zavier tidak menyukai laki-laki itu, tapi dia tersenyum cerah saat melihatnya." Ella merasa bingung sendiri.
"Ini bunga untukmu, Ella. Kau masih suka bunga tulipkan?"
Ella tersenyum saat melihat bunga kesukaannya itu. "Benar, saya masih sangat menyukainya. Tapi, dari mana Anda tahu?" Dia beranjak dari sofa lalu menerima bunga pemberian dari Venzo.
"Sudah ku katakan kalau kita sangat dekat, Ella. Tidak mungkin aku tidak mengetahui bunga kesukaanmu."
Ella mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menghirup aroma dari bunga tersebut. Namun, tiba-tiba perutnya bergejolak membuat dia ingin muntah.
"Hemp." Ella menutup mulutnya dengan kedua tangan membuat semua orang menjadi panik.
"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Venzo dengan khawatir.
Rosa dan kakek Zaron juga bertanya apa yang terjadi dan akan segara menghubungi Dokter.
"Aku, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit tersedak karena aroma bunga ini,"
"Kalau begitu buang bunga yang tidak bagus ini." Venzo kembali mengambil bunga itu dan membawanya keluar rumah untuk membuangnya.
"Tunggu, apa yang ingin dia lakukan?" Ella memekik kaget dengan apa yang laki-laki itu lakukan.
"Apa lagi, dia pasti akan membuang bunga itu,"
"Apa?" Ella segera menyusul langkah Venzo yang sudah berada di luar rumah.
__ADS_1
Bruk.
Venzo membuang bunga itu ke dalam tempat sampah. "Beraninya mereka memberikan bunga seperti ini!" Dia merasa kesal dan bersiap untuk menelepon sekretarisnya.
"Di mana, di mana bunga itu?"
Venzo lalu mngurungkan niatnya saat mendengar suara Ella. "Ada apa, kenapa kau keluar?"
"Mana, di mana bunga tadi?" tanya Ella sambil mengulurkan tangannya untuk meminta bunga tersebut.
"Sudah aku buang, bunga itu tidak bagus." Venzo menggelengkan kepalanya.
"Apa, kenapa dibuang?" Ella segera mengambil bunga yang ada di dalam tempat sampah membuat Venzo menahan tangannya.
"Itu sudah kotor, buanglah,"
"Tidak mau!" Ella menepis tangan Venzo membuat laki-laki itu terdiam. "Sekarang katakan, kenapa Anda membuang bunganya?"
"Bunga itu tidak bagus, karena sudah membuatmu tersedak,"
"Apa? Saya tersedakkan karena saya sendiri, kenapa jadi menyalahkan bunga?" Ella merasa bingung.
"Kau tersedak karena bunga itu,"
"Tapi, karena bunga itu kau tersedak,"
"Baiklah, sudahi kegilaan ini." Ella memijat pelipisnya yang terasa sakit. Tidak disangka ternyata laki-laki itu sangat pandai sekali berdebat.
"Ada apa, apa kepalamu sakit?" tanya Venzo dengan sangat khawatir sekali, begitu juga dengan semua orang yang ternyata memperhatikan dari dalam rumah.
"Tidak. Sudahlah, lupakan tentang bunga ini." Ella meletakkan bunga itu di atas meja yang ada di teras. "Ayo kita masuk, orang-orang sudah menunggu untuk makan malam."
Venzo tersenyum saat mendengar ajakan Ella, sementara wanita itu merasa tidak sadar dan sudah masuk ke dalam rumah.
Akhirnya mereka semua berkumpul di meja makan untuk menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja, dan entah kenapa suasana menjadi kaku karena keberadaan Venzo.
"Anda mau makan yang mana?" tanya Ella yang bersiap untuk melayani Venzo, bagaimana pun seorang tamu adalah raja.
Venzo tentu merasa senang dengan apa yang Ella lakukan, jantungnya sejak tadi terus berdebar-debar. Dia lalu menunjuk makanan apa saja yang ingin dia makan.
"Terima kasih," ucap Venzo dengan lemah lembut membuat semua orang menegang kaku.
"Sama-sama." Ella tersenyum lalu beralih mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Mereka semua lalu makan dalam diam, hanya helaan napas dan suara sendok yang beradu dengan piring saja yang terdengar.
__ADS_1
"Duuh aku kenyang sekali," ucap Ella sambil mengusap perutnya yang mulai tempak membuncit, membuat Venzo tersenyum.
"Supnya belum kau habiskan, El. Ayo, makan lagi!"
Ella langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bibi. Aku sudah sangat kenyang. Lihat, perutku juga sudah buncit."
"Buncitkan karena ada sih kecil, kak,"
"Iya bener, bayiku ini ternyata sudah mulai membesar."
Klenting.
Suara sendok yang terjatuh ke atas lantai menggema di tempat itu membuat semua orang tersentak kaget.
"Bayi? Kau, kau, kau sedang hamil?"
Deg.
Semua orang langsung tersentak karena baru sadar dengan keberadaan Venzo. Tubuh mereka langsung kaku saat mendengar apa yang laki-laki itu tanyakan.
Berbeda dengan mereka, Ella tampak bahagia dengan senyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.
"Ya, saya sedang hamil. Minggu ini usia kandungan saya genap 4 bulan. Tapi perutnya belum terlalu kelihatan ya. Apa Bibi dulu juga seperti ini?" Ella melihat ke arah sang bibi yang mencoba untuk tersenyum.
"Bibi, apa kau mendengarku?" tanya Ella kembali yang tidak sadar jika mereka saat ini mengkhawatirkan Venzo. Apalagi saat ini laki-laki itu hanya diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun.
"I-iya, Ella. Bibi dulu juga seperti itu. Tapi, setelah memasuki bulan ke lima, janinnya cepat berkembang."
Ella mengangguk-angukkan kepalanya saat mendengar ucapan sang bibi, sementara Venzo mengepalkan tangannya dengan erat.
"Kenapa, kenapa kau harus hamil sekarang, Ella?"
Ella mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Venzo, begitu juga dengan yang lain.
"Nyawamu masih terancam, dan sekarang kau malah menambah daftar nyawa yang terancam."
"Apa?"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1