
Zanna menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya, sementara Calvin melihatnya dengan wajah sendu.
"Kenapa, kenapa kau tidak memberitahuku soal kecelakaan itu?" tanya Zanna dengan bibir bergetar.
"Aku takut membuatmu kepikiran, Sayang. Aku tidak mau membebanimu, dan aku berpikir untuk menyelesaikan semuanya sendiri,"
"Ya, kau berhasil menyelesaikannya dengan cara seperti ini." Zanna memalingkan wajahnya penuh luka. Ternyata suaminya banya sekali menyimpan rahasia darinya. Lalu, apa gunanya dia selama ini?
"Tidak, Sayang. Aku mohon jangan berkata seperti itu, aku benar-benar tidak berniat untuk menyakitimu. Aku, aku juga tidak menyangka kalau semuanya jadi seperti ini,"
"Tapi kau bisa memberitahuku, Calvin. Kau bisa mengatakan semuanya padaku. Itu kan, gunanya sepasang suami istri?" Zanna menatap Calvin dengan berlinang air mata. "Kau juga tidak ada sedikitpun niat untuk memberitahuku, kau bahkan berniat untuk menikah lagi di belakangku." Dia terisak dengan pilu.
"Aku takut, Sayang. Aku takut kalau kau akan marah padaku, lalu kau akan meninggalkanku."
Sungguh alasan Calvin sangat tidak masuk akal sekali, membuat hati Zanna kian remuk redam. Selama mereka menikah, ternyata pernikahan itu tidak ada artinya sama sekali dimata sang suami.
"Mengertilah, Sayang. Aku hanya ingin memenuhi janji pada laki-laki itu, aku sama sekali tidak bermaksud untuk-"
"Lalu, bagaimana dengan janjimu padaku?" potong Zanna dengan tajam. "Kau juga berjanji padaku untuk selalu setia mencintai dan menyayangiku selamanya, kau bahkan mengucapkan janji itu di hadapan Tuhan. Apa kau melupakannya?"
Deg.
__ADS_1
Calvin terdiam dengan apa yang Zanna katakan. Lidahnya terasa keluh untuk berucap, tubuhnya bahkan menegang kaku saat ini.
"Kau berjanji tidak akan menyakitiku. Lalu, apa semua ini, hah?" tanya Zanna sambil memukul dada Calvin. "Apa yang sedang kau lakukan ini? Kau bukan hanya menyakitiku, tapi juga melanggar janji kesetiaan yang sudah kau ucapkan padaku." Dia terus memukul dada laki-laki itu membuat Calvin langsung menangkap tangannya.
"Kalau kau ingin menjaga wanita itu, aku tidak akan melarangnya, Calvin. Tapi kenapa, kenapa kau harus menikahinya?" Zanna terus meluapkan semua rasa sakit yang dia rasakan.
"Aku sudah berjanji-"
"Apa kau pikir, janji yang kau buat dengan laki-laki itu jauh lebih penting dari janji pernikahan kita?"
Calvin kembali diam dengan menghela napas kasar. Sepertinya dia benar-benar membuat kesalahan besar saat ini, hingga Zanna tidak bisa memahami apa yang sedang dia lakukan.
"Semua itu hanya alasanmu saja, Calvin. Kalau pun kau sudah berjanji, kau pasti akan mengatakannya padaku sebelum melakukan hal seperti ini. Janjimu itu hanya sebagai alasan saja, dan kenyataannya adalah kau benar-benar ingin menikahi wanita itu. Kau benar-benar ingin menikah dengannya," teriak Zanna membuat Calvin terkesiap.
"Heh, kau bahkan sampai menyiapkan semua kepindahanmu ini demi dia. Tapi kau masih bisa mengatakan kalau kau terpaksa akan menikahinya?" Zanna benar-benar ingin menangis darah saja rasanya. Selama ini dia ternyata tidak mengenal suaminya sendiri, dan bahkan tidak tau kalau suaminya itu ternyata mencintai wanita lain.
"Baiklah. Lakukan saja apa yang kau inginkan, karena aku tidak akan pernah menghalangi jalanmu." Zanna mengusap air mata yang masih membekas diwajahnya. "Semoga kau bahagia dengan apa yang kau lakukan ini, dan biarkan aku menjalani hidupku tanpa dirimu lagi."
Calvin menggelengkan kepala tidak setuju, dia lalu kembali memeluk tubuh Zanna dengan erat. "Tidak, Sayang. Aku tidak mau. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku berjanji tidak akan lagi menyakitimu, tolong maafkan aku."
Zanna hanya diam sambil memejamkan kedua matanya. Inilah terakhir kali laki-laki itu memeluk tubuhnya, karena esok mungkin semua akan jauh berbeda. "Aku tidak menyangka kalau semua ini akan terjadi, Calvin. Aku tidak tau sejak kapan kau mencintai wanita lain, aku bahkan tidak sadar kalau ada wanita lain di dalam hidupmu. Mungkinkah rasa cintaku membuat mataku buta, sehingga tidak bisa melihat semua kebenaran ini? Atau memang aku hanya hidup dalam khayalan cintamu saja, sehingga tidak bisa melihat cintamu yang sesungguhnya."
__ADS_1
Calvin terus mengucapkan kata maaf agar Zanna tidak meninggalkannya. Dia sangat mencintai wanita itu, tetapi apa yang Zanna katakan tadi juga mengusik relung hatinya.
"Aku, aku tidak akan menikahinya, Zanna. Aku akan membatalkan semuanya, dan aku juga akan kembali tinggal bersamamu."
Zanna langsung membuka kedua matanya saat mendengar ucapan Calvin, dengan cepat dia mendorong tubuh laki-laki itu sampai pelukannya terlepas. "Kau, kau bilang apa?"
"Aku tidak bisa kehilanganmu, Zanna. Aku akan membatalkan semuanya, aku tidak akan menikahi Rere."
Deg.
Zanna terdiam untuk beberapa saat, sampai akhirnya dia tersenyum sinis. "Cepat sekali kau berubah pikiran, Calvin. Aku tau kalau kau adalah orang yang plin plan, tapi aku tidak menyangka kalau kau juga sangat egois. Bertahun-tahun aku mengenalmu, ternyata tidak cukup untuk mengatahui sifat aslimu ini." Dia menggelengkan kepalanya penuh kecewa.
Calvin terdiam di tempatnya. Dia sedang memikirkan semua kata-kata yang terucap dari mulut Zanna. "Tidak, itu tidak benar. Aku sangat mencintai Zanna, dan aku tidak punya perasaan apapun untuk wanita itu. Tapi, kenapa aku merasa tidak nyaman?"
"Sekarang katakan padaku, Calvin. Apakah kau benar-benar mencintaiku?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.