Mengejar Maaf Saina

Mengejar Maaf Saina
Bab.14


__ADS_3

"Ada apa sebenarnya dengan kalian?atau jangan bilang loe sudah melecehkan si cupu itu Zio?"tanya Raja yang kini sudah beralih menatap Zio yang masih meringis merasakan sakit bekas pukulan dari Bayu.


Namun bungkam nya Zio sudah menjawab semua pertanyaan dari kedua teman nya itu.


"Loe gila Zio,ya ampun apa loe ga mikir kalau apa yang loe lakukan bisa meruksak masa depan anak itu dan loe sendiri.Ingat Zi loe itu penerus perusahaan besar dan kalau loe kena skandal apalagi skandal pelecehan seksual tamat riwayat loe"ujar Angga yang sudah lebih dulu tahu dunia kerja dan dunia bisnis dari ketiga teman nya.


Pasalnya kini meski pun masih bersekolah Angga sudah masuk ke perusahaan sang ayah untuk mempelajari bagaiman dunia kerja dan dunia bisnis itu seperti apa.


Sehingga disaat waktunya mengambil alih perusahaan itu Angga sudah siap dengan segala resiko yang ada.


"Lagi pula jika loe ga bisa nahan hasrat kenapa harus meruksak anak orang sih Arzio?loe kan mampu beli sepuluh wanita sekaligus tanpa harus meruksak masa depan orang lain apalagi gadis itu yang ga punya koneksi apa apa seperti kita.Jujur gue kecewa sama loe"timpa Raja yang juga merasa kecewa dengan apa yang Zio lakukan pada Saina.


Keduanya pun meninggalkan Arzio yang masih terpaku ditempatnya,memikirkan apa yang dikatakan oleh para sahabatnya tentang apa yang sudah dia lakukan.


Arzio pun merutuki kebodohan nya yang entah kenapa begitu marah dan tidak bisa mengendalikan amarahnya saat melihat Saina tersenyum manis pada pria lain.

__ADS_1


Dan tanpa mereka sadari seseorang tengah berdiri dibalik jendela dan mendengar semua yang mereka bicarakan tentang seorang gadis bernama Saina.


"Jadi karena si cupu itu kamu mengabaikan aku Zio.Lihat saja aku tidak akan membiarkan kamu bersama nya karena yang pantas bersama denganmu bukan gadis miskin itu tapi aku Angel Marselia"gumam nya memyeringai licik saat melihat Zio masuk kedalam kamar mandi tanpa membawa ponselnya.


Didalam ruangan yang sudah dijadikan markas itu memang terdapat toilet yang khusus untuk ke empat cowok penghuni ruangan agar mereka tidak memakai toilet yang sama dengan siswa lainnya.


Dengan cepat Angel masuk kedalam dan mengambil ponsel itu.Meski dikunci dengan password namun bukan Angel namanya jika tidak tahu semua hal tentang Zio termasuk password ponsel pria itu.


Setelah menelusuri isi ponsel itu akhirnya Angel menemukam hal yang membuat nya berjingkrak senang.Meski awalnya begitu terkejut namun tidak lama dia bisa mengendalikan perasaan nya.


Angel pun berhasil keluar dari markas itu sebelum Zio keluar dari toilet dan kini Angel pun tengah merencanakan aksinya membuat sesuatu yang menghebohkan seluruh penghuni sekolahan.


*


*

__ADS_1


Satu bulan kemudian...


Tanpa terasa kini satu bulan berlalu dari kejadian itu dan Zio pun tidak lagi mengganggu Saina atau mendatangi gadis yang kini semakin tertutup dan pendiam.


Bahkan sudah satu bulan ini Zio juga tidak datang kesekolah dan juga markasnya padahal sebentar lagi akan dilakulan ujian akhir sekolah.


Entah kemana pemuda labil itu karena ketiga teman nya pun tidak mengetahui keberadaan Zio selama satu bulan ini.


Saina pun mulai merasa nyaman kembali saat bersekolah karena tidak lagi bertemu dengan Zio.Walaupun sempat merasa heran dengan kehilangan nya Zio dari lingkungan sekolah namun hal itu hanya sesaat selebihnya Saina merasa senang dan tenang dalam menjalani masa masa sekolahnya.


Meski masih mendapat rundungan namun itu masih dibatas normal dan Saina masih bisa melewatinya.Karena mereka paling hanya menyuruh Saina mengerjakan pr pr mereka atau nggak membelikan makanan untuk mereka.


Berbeda dengan Arzio yang membuat Saina trauma berat dan begitu ketakutan hanya dengan mendengar namanya saja.


"Saina"suara bariton yang sudah tidak asing itu kembali menyeruak ditelinga Saina saat jam pulang sekolah.

__ADS_1


Saina tersenyum manis menyambut kedatangan seorang pria yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah dan beralih ke sebuah kampus elite dan juga ternama.


__ADS_2