
Tap tap tap....
Derap langkah pun mulai terdengar yang membuat Zio semakin berdebar.Tidak sabar ingin melihat siapa wanita yang ada didalam rumah yang baru saja menjawab seruan nya.
Cklek...
"Iya,ca___"
Deg....
Wanita itu menjeda pertanyaannya saat kedua netra itu bertemu.Begitu pun dengan orang yang bertandang kerumahnya.
Tidak disangka setelah hampir 28 tahun akhirnya dipertemukan kembali dengan orang yang masih memenuhi hatinya.
"Ma_Mas Arda?"
"Sari?"
Ucap keduanya yang membuat Zio bingung sendiri dan menatap ke arah Bu Nilam dan Papah Ardana secara bergantian.
"Maaf apa Ibu,Ibunya Saina?"tanya Zio yang akhirnya membuyarkan lamunan Bu Nilam dan langsung menoleh ke arah Zio yang bertanya tentang Saina.
"Kamu Arzio?"tanya Bu Nilam balik pada pria muda yang berdiri lebih dekat dengan nya.
__ADS_1
"Iya Bu,saya Zio.Apa saya bisa bertemu dengan Saina?saya mohon Bu pertemukan saya dengan nya"jawab Zio dengan mata yang berkaca kaca.
"Iya tapi masuklah dulu,nanti Ibu bawa kamu padanya"ucap Bu Nilam lagi.
"Tidak Bu saya tidak bisa tenang sebelum saya bertemu dengannya.Sa_saya mohon pertemukan saya dengan Saina Bu"lirih Arzio yang tidak dapat lagi menahan air matanya karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Saina.
"Baiklah tunggu sebentar biar Ibu ambil kunci dulu kita kesana sama sama"jawab Bu Nilam akhirnya mengalah.
"Kesana?apa Saina tidak tinggal disini?"tanya Zio kebingungan.
"Tidak Nak,dia tinggal disini hanya saja saat ini dia sedang tidak dirumah."jawab Bu Nilam seraya mengambil kunci rumah dari balik pintu lalu keluar dan menutup pintunya.
"Mari ikut Ibu Nak,kamu bawa mobilkan?kita pergi menggunakan mobil kamu saja ya?"ajak Bu Nilam seraya bertanya pada Zio dan berjalan mendahulu Zio lalu melewati Ardana begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.
Lalu mobil pun mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah dan juga kampung itu menuju kearah kota dimana kini Saina berada.
"Kita ke arah mana ya Bu?"tanya Zio yang masih asing dengan kota itu.
"Ikuti arahan Ibu saja Nak"jawab Bu Nilam singkat.
Zio pun tidak banyak bicara lagi dan hanya menuruti setiap petunjuk dari Bu Nilam.Selang setengaj jam kemudian mobil yang Zio bawa pun memasuki sebuah rumah sakit yang cukup lumayan besar untuk ukuran kota kecil itu.
Zio dan juga Ardana sama sama menyatukan kedua alis mereka saat memasuki halaman rumah sakit itu dan berjalan menelusuri lorong rumah sakit menuju kesebuah kamar rawat inap.
__ADS_1
Zio berulang kali menggelengkan kepalanya saat praduga buruk berseliweran didalam benak nya ketika menelusuri jalan menuju ketempat Saina.Namun nampak nya apa yang dia coba usir dan hilangkan dalam pikirnya bukan hanya pikiranya saja.
Praduga itu ternyata nyata adanya saat Bu Nilam menghentikan langkahnya dan membuka pintu ruang rawat inap itu.
Tubuh Zio lemas selemas lemasnya,dadanya sesak,bahkan kakinya sudah tidak bisa lagi menopak tubuhnya hingga Zio hampir terjatuh jika saja Papah Ardana tidak sigap menahan tubuh kekar Zio.
"Sa_Saina"
Zio pun berjalan perlahan mendekati tubuh Saina yang terbaring lemah dengan selang infus tertancap ditangan nya dan juga masker oksigen menutupi wajah cantìknya yang nampak lebih pucat.
"A_apa yang terjadi padanya Bu?ke_kenapa Sa_Saina ada disini dengan keadaan seperti ini?"tanya Zio lirih saat melihat tubuh Saina terbaring lemah diranjang rumah sakit.
"Saina sakit Nak dan sudah tiga tahun ini dia melawan penyakitnya"jawab Bu Nilam sendu.
"Dia sakit apa Bu?"tanya Zio lagi semakin mendekatkan diri pada Saina.
"Kanker Nak"lirih Bu Nilam.
Sementara Ardana sendiri hanya diam terpaku melihat tubuh sang anak.Lidahnya terasa kelu untuk berucap.
Ardana masih tidak menyangka kalau pertemuan pertama mereka akan di isi oleh sebuah pertemuan yang membuat hatinya bagaikan disayat sembilu.
"Ayah?".
__ADS_1
...****************...