
"Ayah?"suara seorang anak kecil yang memanggil ayah yang entah pada siapa mengalihkan perhatian Zio dan juga Ardana.
Keduanya pun kompak menoleh ke arah suara.Zio dan Ardana nampak terpaku saat melihat bocah laki laki yang begitu mirip dengan Zio sewaktu kecil.
Anak itu tersenyum manis disamping pria yang begitu Zio kenali yang datang bersama anak kecil itu.
"Arsain kamu dari mana Nak?"tanya Bu Nilam saat melihat cucunya baru saja datang bersama dengan Bayu.
"Aku habis makan siang Nek sama Om Bayu"jawab bocah kecil itu berjalan mendekat.
"Apa dia ayahku Nek?mukanya mirip sama foto yang disimpan Bunda?"tanya bocah kecil bernama Arsain itu melihat ke arah Zio.
Namun Bu Nilam tidak menjawab,Bu Nilam hanya menoleh kearah Zio untuk melihat bagaimana reaksi pemuda yang kini sudah tumbuh dewasa itu.
Dan tidak disangka,Zio langsung berhambur memeluk erat tubuh mungil jiplakan nya itu.Tangis Zio pun pecah didalam pelukan si kecil Arsain.
"Iya sayang ini ayah,ini ayah Nak"lirih Zio saat memeluk tubuh Arsain.
Zio kembali menangis histeris didalam pelukan tubuh mungil si kecil Arsain.Tidak ada kata kata lagi yang mampu terucap dari bibir Arzio saat ini dan hanya tangis pilu lah yang mampu mewakili apa yang dia rasakan saat ini.
__ADS_1
Bu Nilam pun mengusap ujung matanya yang basah saat menyaksikan pertemuan antara ayah dan anak yang cukup mengharukan itu.
"Bangunlah sayang,kamu lihat Arsain sudah bertemu dengan Ayahnya.Kamu juga harus lihat bagaimana menyesalnya pria ini atas apa yang pernah dia lakukan sama kamu Nak"gumam Bu Nilam dalam hati.
*
*
"Setidak pantaskah aku untuk menjadi ayah dari anak kita?sehingga kamu tidak pernah memberitahukan tentang keadaan nya padaku?"tanya Ardana lirih pada Nilam.
"Bukan kamu yang tidak pantas Mas,tapi aku dan Saina yang tidak layak bersanding denganmu"jawab Nilam tidak kalah lirih.
Kini keduanya sudah duduk disofa yang ada diruangan rawat inap tempat Saina di berada.Sedang Zio sendiri tidak mau beranjak sedikit pun dari samping Saina.
"Tapi kenapa tidak pernah menghubungiku disaat saat seperti ini?setidaknya kita bisa berjuang bersama untuk kesembuhan nya"lanjut Ardana lagi yang sudah tidak bisa menahan sesak saat melihat kondisi sang anak yang begitu mengkhawatirkan.
"Maaf jika hal ini membuat kamu kecewa,tapi aku tidak ingin Saina merasakan sakit oleh sebuah penolakan.Cukup satu kali dia hancur oleh penolakan pria yang sudah membuatnya hamil,aku tidak mau Saina kembali hancur saat mendapat penolakan kedua dari ayahnya"
"Apa aku sekejam itu Sari?aku bahkan terus berusaha menahan diri demi memenuhi permintaan mu untuk tidak mengusik kalian.Tapi aku juga harap kamu melibatkan aku dengan apapun yang terjadi pada anak kita"
__ADS_1
"Kamu memang tidak sekejam itu Mas,tapi keadaan dan situasi kitalah yang begitu kejam padaku dan juga Saina.Ikhlaskan dia,biarkan dia tenang ditempat keabadiannya"
Ardana pun hanya bisa menunduk lesu dengan derai air mata tidak berhenti keluar dari matanya.Ardana begitu kecewa dengan jalan takdirnya.
Kenapa takdir begitu kejam kepadanya?padalah dia hanya ingin mencintai dan dicintai namun kenapa begitu sulit meraih asa bahagia dengan atas nama cinta itu.
*
*
Sementara Zio sendiri masih duduk termenung didalam kamar yang sudah hampir satu tahun ini ditempati oleh Saina.
Meski sudah tiga tahun terkena kanker namun kondisi Saina masih bisa melakukan rawat jalan.Namun sudah satu tahun ini kondisinya selalu drop dan memgharuskan nya tinggal dirumah sakit.
Bu Nilam dan keluarga Mang Maman pun selalu bergiliran menjaga Saina dan si kecil Arsa pun tidak pernah melewatkan harinya dengan sang Bunda.
Meski harus kerepotan bulak balik kerumah dan rumah sakit untuk melanjutkan sekolahnya namun Arsa selalu melakukan itu dengan senang hati demi menemani sang Bunda yang harus dirawat.
Zio menatap nanar wajah cantik Saina yang masih terlelap dengan masker oksigen yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Bunda cantik ya?".
...****************...