
"Permisi Bu apa Saina nya ada?"tanya pemuda yang masih berseragam sekolah yang kini berdiri didepan pintu rumahnya itu.
"Ada,sebentar saya panggilkan"Bu Nilam pun kembali masuk untuk memanggil Saina bertemu dengan tamunya.
"Nak sepertinya itu teman kamu deh,dia cari kamu"ucap Bu Nilam melongokan kepalanya dibalik pintu kamar karena Saina rupanya sudah kembali masuk kedalam kamar dan duduk ditepi ranjangnya.
"Teman?teman yang mana Bu?"tanya Saina bingung.
Pasalnya tidak ada murid disekolahan itu yang mau berteman apa lagi datang kerumahnya.
"Ya mana Ibu tahu Nak,tapi dia pake seragam sekolah yang sama dengan kamu.Sudah sana temuin dulu biar lebih jelas,nggak baik juga membuatnya menunggu terlalu lama"ujar Bu Nilam kemudian meninggalkan Saina yang masih kebingungan dengan siapa tamu nya itu.
Dan dengan langkah gontai Saina berjalan menuju ke arah teras dimana tamunya itu kini berada.Seketika langkahnya terhenti saat melihat punggung tegap seorang pria tengah membelakanginya.
Matanya kembali berkaca kaca penmuh dengan rasa takut,bahkan tubuhnya sampai bergetar karena rasa takut yang dia rasakan saat melihat punggung kekar itu.
Saina masih terpaku ditempat saat pria itu membalik tubuhnya dan memperlihatkan wajahnya.Perasaan lega pun bisa dirasakan oleh Saina saat melihat wajah pria yang kini menatapanya bukan lah pria yang sudah mengancurkan hidupnya.
__ADS_1
Saina pun menghela nafas sepenuh dada sebelum melanjutkan langkahnya menuju ke teras dan menghampiri Bayu yang sudah menunggu nya disana.
Sekilas dan kalau dari arah belakang Bayu memang begitu mirip dengan Zio,tidak jarang para teman nya pun terkecoh dengan keduanya sakingv miripnya.
Hanya saja Bayu memiliki kulit tubuh sedikit gelap sedangkan Zio berkulit putih.Saina pun mencoba tersenyum pada orang yang sudah menolongnya itu eskibitu sulit namun Saina sebisa mungkin menutupi luka hatinya saat ini.
"Hai,gimana sudah mendingan?"tanya Bayu saat Saina sudah berada didekatnya.
"Bohong sih kalau bilang baik baik saja,tapi harus berusaha agar baik baik sajakan Kak"jawab Saina sendu kala teringat kembali malam laknat itu.
"Oh iya ayo masuk Kak,sekarang ada Ibu didalam jadi aman"lanjut Saina mempersilahkan tamunya masuk.
"Boleh deh"
Keduanya pun berjalan beriringan menuju bangku kayu panjang yang didepan nya juga sebuah meja dengan panjang yang sama.
"Sebentar ya Kak aku ambilkan dulu minum"
__ADS_1
"Eh nggak usah repot Na,duduk saja kita ngobrol sebentar boleh ya"bayu pun tanpa sengaja menahan Saina dengan memegang pergelangan tangannya agar Saina tetap disana.
Namun reflek Saina menghempaskan tangan Bayu begitu saja dan tubuhnya langsung bergetar kala seseorang menyentuh tubuhnya.
"Ma_maaf Kak,aku tidak bermaksud____"ucap Saina menundukan kepalanya saat melihat betapa terekjutnya Bayu akan reaksi yang Saina tunjukan saat dirinya menyentuh tangan gadis itu.
"Tidak apa apa,aku yang minta maaf tidak bermaksud menyentuhmu"jawab Bayu sembari menetralkan kembali perasaan nya yang tadi begitu terkejut dengan reaksi yang Saina tunjukan.
Padahal sebelumnya gadis itu nampak biasa saja bahkan keduanya pernah berpegangan tangan saat saat Bayu membantu Saina bangun dari jatuhnya dan gadis itu nampak biasa saja.
Berbeda dengan saat ini yang begitu nampak begitu ketakutan saat kulit tubuhnya bersentuhan dengan kulit lawan jenisnya.
"Sebentar Kak aku ambilkan dulu minumnya"Saina pun segera berlari ke arah dapur lewat pintu samping rumahnya.
Bayu sendiri menatap nanar pada punggung gadis yang baru saja meninggalkan nya dan masuk kembali kedalam rumahnya.
"Kamu benar benar keterlaluan Zio,kamu sudah membuat anak sebaik Saina menjadi seperti itu"gumam Bayu dalam hatinya.
__ADS_1
Tidak berselang lama Saina pun kembali dengan nampan ditangan nya.Dua buah susu coklat dan juga goreng pisang hangat dia bawa dari arah dapur untuk menemani perbincangan dua anak muda itu.
"Ini Kak minumnya,maaf kami hanya memiliki ini"ujar Saina menyodorkan satu gelas susu coklat hangat dan satu piring pisang goreng yang baru saja selesai dibuat oleh Bu Nilam.