Mengejar Maaf Saina

Mengejar Maaf Saina
Bab.32


__ADS_3

"Maafkan aku,aku mohon maafkan aku Saina"lirih Zio saat memeluk tubuh lemah Saina.


Mendengar permintaan maaf Zio yang begitu tulus Saina pun ikut menangis dan membalas pelukan dari Zio.


Kini keduanya pun sama sama menangis menumpahkan rasa sesak dan semua beban yang selama ini begitu menghantui keduanya.


Ditengah rasa sesak itu pun terselip rasa rindu yang begitu menggebu dan kini terbayar sudah dengan pertemuan keduanya meski dengan kondisi Saina tengah sakit keras dan dirawat dirumah sakit.


Merasa cukup lama menangis dan memeluk Saina,Zio pun mulai mengurai pelukan nya pada tubuh gadis itu dan menatap nanar wajah pucat Saina.


"Maafkan aku Na,sungguh aku menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan padamu"lirih Zio lagi saat keduanya tengah bertatapan.


"Aku sudah memaafkan mu Kak,terima kasih sudah datang dan menemuiku.Apa Kakak sudah bertemu dengan Arsain?"tanya Saina dengan nada lirihnya.


"Kami sudah bertemu,dia tampan sekali dan begitu mirip denganku"jawab Zio penuh dengan semangat saat bercerita tentang putranya.


"Saina titip Arsain ya Kak,Saina tidak bisa lagi menjaga dan merawatnya.Kini giliran Kakak yang harus menjaga dan merawatnya"


"Tidak Na,kita akan berjuang bersama untuk kesembuhanmu.Aku akan melakukan segala cara untuk membuatmu sembuh kembali"jawab Zio yang kembali mengeluarkan air mata saat Saina menitipkan sang anak padanya.

__ADS_1


Melihat semangat Zio,Saina pun hanya bisa mengangguk lemah dan kembali tertidur karena memang kondisinya sangatlah lemah.


*


*


Paginya nampak semua sudah berkumpul kembali diruangan rawat inap itu.Setelah mendapat kabar dari Zio kalau Saina sudah sadarkan diri semuanya pun kompak datang kerumah sakit.


Nampak juga si kecil Arsa yang datang bersama dengan Kakek dan Neneknya.Karena kebetulan hari libur maka Arsa pun bisa datang untuk menemui sang Bunda yang sudah siuman.


"Assalamualaikum Bunda"ucap Arsa saat mendekati ranjang tempat Saina terbaring.


"Assalamualakum Nak,apa kabar?ini Papah sayang"ucap Ardana yang mendekati Saina dan meraih tangan lemah sang anak dan membawanya kedalam genggaman.


"Wa'alaikumsalam Papah,terima kasih sudah datang"jawab Saina lirih.


"Terima kasih karena semuanya sudah berkumpul disini,dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang"lanjut Saina yang membuat semua yang ada disana tercengan mendengar ucapan Saina terutama Zio dan juga Ardana yang baru saja bertemu dengan nya.


"Apa yang kamu bicarakan sayang,Papah akan berusaha untuk kesembuhanmu Nak"ucap Ardana yang semakin mengeratkan genggaman tangan nya pada tangan Saina.

__ADS_1


"Tidak Pah,terima kasih tapi Saina sudah lelah Pah.Saina ingin beristirahat dengan tenang,kini Arsa sudah bertemu dengan Ayahnya dan itu sudah membuat aku lega dan siap pergi dengan tenang,Ibu maafkan Saina ya,jika selama ini Saina selalu membuat Ibu susah,Papah maafkan Saina juga karena tidak bisa menegnal Papah dengan baik,Kak Bayu terima kasih karena selalu membantu Saina selama ini dan Kak Zio,aku titip Arsa Kak,jaga dia dan rawatlah dengan penuh kasih sayang agar dia tidak kesepian meski aku tidak ada bersama dengan nya.Arsa kamu harus nurut dan berbakti kepada ayah ya Nak,jangan biarkan ayah kesusahan menjagamu Nak"lirih Saina pada semua orang yang berkumpul disana.


Isak tangis pun tidak terelakan lagi saat dengan perlahan Saina menutup matanya dan melepas genggaman tangan Ardana yang menandakan jika Saina telah berpulang kembali kepada sang maha penciptanya.


"Sa_Saina"


"Aaaaaarrrrrrr,brengsek"


"Aaaaaarrrrrr,bajingan"


"Kenapa harus dia?kenapa harus dia yang kau ambil?aku,akulah yang berdosa kenapa kau tidak mengambilku saja?kenapa?"


Zio meracau,menangis bahkan berteriak histeris dan frustasi didepan tubuh Sain yang kini terbujur kaku tak bernyawa.


"Aku tahu aku salah,aku tahu aku berdosa tapi kenapa kamu menghukumku seperti Na,Saina katakan ini bohongkan?bangun Saina,aku mohon bangunlah"


Teriak Zio lagi disela isak tangisnya.Rasa lega dan bahagia karena telah menemukan yang dia cari selama 10 tahun ini berganti menjadi rasa sesak yang begitu mencekik.Hingga Zio pun tidak bisa lagi membendung tangisnya yang memilukan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2