
...🌸 Arsain Maladewa 🌸...
...***...
Sepeninggalan Zio,Arsain nampak begitu sedih.Dia tidak menyangka jika sang ayah akan memisahkan nya dari keluarga demi menjadikan nya seorang pria yang memiliki pribadi yang jauh lebih baik.
Arsain tahu jika kenakalan nya sudah tidak bisa ditoleransi lagi,apa lagi kerusuhan yang dia lakukan bersama teman temannya melibatkan dua sekolahan.
Namun entah mengapa Arsain begitu sulit mengontrol diri jika sudah ada yang menantang dirinya untuk adu jotos.Apalagi pemicu adu jotos itu adalah hal yang sama sekali tidak dia lakukan alias fitnah.
Dengan wajah yang tertunduk Arsain mengikuti langkah Ustad Ilham menuju ke asrama bagian anak laki laki untuk menunjukan kamar yang akan digunakan Arsain selama mondok disana.
Ustad Ilham pun tidak banyak bicara lagi,beliau tahu bagaimana perasaan Arsain saat ini.Dia pasti masih shock karena tiba tiba dikirim ketempat asing ini.
"Nah Nak Arsain ini kamar yang akan kamu gunakan selama disini.Maaf jika membuat Nak Arsain kurang nyaman karena harus berbagi dengan santriawan lain"ujar Ustad Ilham membuka sebuah pintu dan menampilkan sebuab kamar yang lumayan kuas dengan berisikan tiga ranjang tingkat yang itu menandakan disana ada 6 orang yang menempati ruangan itu.
Ditambah dengan 6 lemari dengan ukuran sedang untuk menyimpan baju dan barang barang lain namun tidak untuk ponsel.Semua penghuni dilarang menggunakan ponsel.
__ADS_1
Dan hanya akan di ijinkan jika dalam ke adaan darurat untuk menghubungi keluarganya itu pun menggunakan ponsel salah satu pengajar disana.
Dan tentu hal itu menambah beban untuk Arsain sendiri berhubung selama ini dia tidak pernah lepas dari benda pipih itu.Namun dengan terpaksa harus membiasakan diri hidup tanpa benda ajaib itu.
"Tidak apa apa Ustad,saya akan belajar dan membiasakan diri dengan keadaan disini"jawab Arsain masih dengan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.
Arsain mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar.Nampak sepi hanya di isi oleh dirinya sendiri karena teman satu kamarnya tengah melakukan kegiatan wajib didalam gedung sekolah.
Merasa lelah dengan semua yang dia alami Arsain pun membaringkan tubuhnya dikasur yang hanya muat satu orang itu dan tidak butuh waktu lama dia pun tertidur.
*
*
Sebuah suara bariton yang cukup asing tiba tiba masuk kedalam indra pendengar Arsain saat tengah menikmati tidur sorenya.
Arsain pun mulai mengerjapkan matanya dan melihat sesosok pria yang memiliki fostur tubuh mirip dengan nya berdiri disamping dipan yang Arsain gunakan untuk tidur.
__ADS_1
"Ah,maaf kamu siapa?"tanya Arsain sembari bangkit dari tidurnya.
"Kenalin aku Zainal,teman sekamar Abang apa Mas nih manggilnya?"jawab Zainal yang balik bertanya sembar menduduka dirinya di samping Arsain.
"Arsain Maladewa,tapi panggil Arsa atau Ar juga cukup.Lagi pula kayanya kita seumuran jadi tidak perlu formal begitu"
"Ok deh kalau gitu.Ayo kita bersih bersih sebentar lagi magrib dan kita wajib jemaah dimasjid"
Kedua pemuda yang nampak seumuran itu keluar kamar secara bersamaan untuk menuju kekamar mandi umum yang diperuntukan untuk para santri.
Meski harus mengantri namun semua itu bisa dilalui dengan baik kala mendapatkan teman yang lumayan asih untuk diajak berbincang seperti Zainal.
Kedua pemuda yang mengalami hal yang sama langsung akrab dihari pertama mereka bertemu.Zainal yang juga dikirim kesana oleh kedua orang tuanya karena terlalu sering berkelahi dan tawuran membuat Arsa memiliki teman senasib.
Pertemanan keduanya pun mengalir begitu saja.Banyak hal yang Arsain pelajari dari Zainal yang lebih dulu masuk dan tinggal dipondok.
Dan itu menambah point untuk keduanya berteman bahkan bersahabat yang tidaj hanya bertukar cerita namun juga kadang bertukar barang tanpa dimint atau pun disuruh.
__ADS_1
...****************...