Menikah Dengan Abang Ipar

Menikah Dengan Abang Ipar
Dipaksa menikah


__ADS_3

Alisa tidak pernah menyangka dihari lamaran kekasihnya ia harus menikah dengan kakak iparnya. Ia akan menikah  menggantikan kakaknya yang meninggal  setelah melahirkan bayi kembar. Ia akan menjadi  ibu  sambung untuk anak kakaknya.


                   


Lantunan ayat alquran yang di baca untuk mengiringi kepergian Ratna pada Sang Khalid, di satu kamar tangisan pilu  terdengar mengisi kamar. Tangisan yang menyayat hati, sepasang bayi kembar lelaki perempuan yang di beri nama Akmal dan Aminah.


Mereka berdua tidak berhenti menangis walau dua orang ibu pengganti memberikan asi mereka dengan suka rela demi mendiamkan kedua bayi malang tersebut. Namun, tangisan mereka berdua semakin keras, seolah-olah memberi ucapan perpisahan pada ibu yang melahirkan mereka ke dunia ini.


Lantunan  doa dan ayat-ayat suci masih berkumandang di rumah besar berlantai dua itu, iringan tangisan mengiring kepergian wanita itu ke tempat terakhirnya.


Seorang Ibu paru baya tampak pingsan beberapa kali melihat putrinya terbujur kaku, seakan-akan tidak percaya dengan kenyataan, ia beberapa kali mencium kening dan mengusap wajah  dingin putri pertamanya sebelum dibungkus kain berwarna putih itu.


Jumintun  berpikir ia berada dalam mimpi yang menyedihkan, karena  baru kemarin  putrinya memeluknya dan meminta doa padanya agar persalinannya di mudahkan, putrinya tampak sangat bahagia karena ia akan melahirkan anak kembarnya ke dunia ini, anak yang sudah lama ia nanti-nantikan.


Ia sangat bahagia karena  sudah sekian lama menunggu,  sekali dapat langsung diberi diberi dua. Namun, belum sempat melihat anak-anak yang ia lahirkan, ia sudah di panggil yang maha kuasa ke kebiaraannya.


Sebelum matahari terbenam, wanita yang dimuliakan itu akhirnya di makamkan.


Beberapa lama kemudian hari-hari menyedihkan itu berlalu.                                             **


Dalam satu kamar Alisa tampak  telaten mengurus ke dua keponakan nya, bergantian ia gendong dan ia tidur kan, profesinya sebagai bidan membuatnya  terlihat berpengalaman mengurus  kedua keponakannya.


Satu bulan sudah kepergian kakaknya pada sang pencipta, meninggalkan banyak air mata dan meninggalkan banyak pertanyaan pada benak keluarganya, belum lagi desas-desus yang beredar ke telinga keluarga Alisa tentang kematian kakaknya.


Ibunya sungguh terpukul dan sakit mendengar kabar buruk tentang penyebab kematian anak  pertamanya.


“Ibu sudahlah, itu sudah takdir jangan dengarkan kata orang-orang,” ujar Pak Bayu menenangkan Juminten istrinya.


“Tapi Pak, bagaimana kalau hal itu benar adanya ? kasihan putri kita Pak, ibu sedih mendengarnya,” ujar wanita kembali terisak-isak.


Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam hati Jumintan’


‘Kemana Farel, saat Ratna  bertarung nyawa  demi melahirkan buah hati mereka di dunia ini?’


Satu bulan itu juga ke dua keponakan nya di titipkan ke rumah Alisa. Namun, satu bulan itu juga Farel tidak pernah sekalipun menjenguk, jangankan menjenguk, menelepon juga tidak,  walau hanya sekedar bertanya apakah anak-anak malang itu apa masih hidup atau ikut menyusul ibu mereka.

__ADS_1


Hingga pernyataan itu keluar dari bibir Jumintan.


“Alisa kamu harus menjaga kedua keponakanku, Nak.”


“Itu harus ibu, biar bagaimanapun  mereka berdua keponakanku,” ujar Alisa mengganti popok Aminah.


“Bukan seperti itu, Nak, kamu harus menikah dengan Farel demi anak-anak malang ini.”


Dug ...!


Jantung Alisa berdetup kaget mendengar permintaan ibundanya.


“Ibu …!?” Mata Alisa membelalak karena kaget.


“Ibu jangan bercanda?”


“Nak, ibu tidak bercanda, ibu sudah memikirkannya  beberapa minggu ini.”


“Ibu, aku  tetap akan menjaga mereka  tidak perlu harus menikah dengan Mas Farel.”


“Masalahnya, dia  seolah-olah tidak menginginkan anak-anak malang ini.”


“Nak, kamu harus mempertahankan apa yang sudah dibangun kakakmu dengan susah payah.”


“Ibu, bagaimana mungkin ibu memintaku menikah dengan Mas Farel setelah ibu tahu apa yang dialami kakak Ratna selama ini ? jika  ibu memaksaku menikah dengannya,  bukankah ibu melihat penderitaan kedua kalinya pada putri ibu?”


“Sayang … ini demi kakakmu dan kedua keponakanmu, kamu harus buktikan pada keluarga itu kalau Mbakmu bukan seperti  mereka pikirkan.”


“Lalu bagaimana dengan kehidupan ku ibu, haruskah aku mengorbankan hidupku demi mereka?”


“Bukan hanya mereka Nak, tetapi demi Ibu dan ayahmu dan adikmu.”


“Ibu, bukankah ini keterlaluan dan egois? Kenapa aku harus menikah dengan Mas Farel yang jelas-jelas kita tahu kalau ia kejam?


Lalu bagaimana kalau dia memperlakukan ku seperti ia memperlakukan mbak juga?”

__ADS_1


“Tidak akan, dia tidak akan melakukan itu percaya sama ibu,” ujar wanita dengan tangan memegang punggung tangan Alisa dengan wajah tuanya memohon.


“IBu, aku tidak bisa ….! sebentar lagi Dimas dan keluarganya akan ke rumah kita untuk melamar ku, Bu” teriak Alisa.


“Batalkan saja Nak dan putuskan dia.”


“Apa?” Wanita berhijab itu seolah-olah kehabisan kata-kata, ia hanya menangis mendengar permintaan orang tuanya.


Ia anak yang sangat baik dan soleha, patuh pada orang tuanya, walau  hatinya sangat  menolak  menikah dengan Farel, suami mendiang kakaknya, tetapi ia tidak bisa menolak.


Ia tidak tahu bagaimana pembicaraan yang di lakukan orang tuanya dengan keluarga mertua kakaknya . Alisa bahkan tidak tahu siapa yang dilamar dan siapa yang melamar.


Tepat di hari di mana kekasihnya dan keluarganya akan melamarnya, ia menikah. Maka,  malam sebelumnya acara lamaran, ia akhirnya memberanikan diri menelepon Dimas sang kekasih.


“Jangan bercanda Lisa, bagaimana mungkin kamu menikah besok, saat kita sudah sepakat kalau aku datang  melamar mu?”


“Maafkan aku Mas, aku tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuaku, aku terpaksa harus menikah dengan kakak iparku, tolong lupakan aku, bencilah aku sepuas mu jika itu  bisa mengobati luka hatimu,” ujar Alisa dengan terisak-isak.


“Tunggu, tunggu bagaimana aku menjelaskan pada-“


Tut … tut …!


Lelaki  berbadan kekar itu bagai di sambar petir, ia  diam membantu,  semuanya begitu cepat, bahkan otak cerdas belum sepenuhnya bisa memahaminya.


Bagaimana tidak, saat keluarga besarnya sudah melakukan persiapan untuk melamar kekasih yang sudah bersamanya lima tahun, tetapi, dalam hitungan hari wanita itu meninggalkannya demi menikah dengan kakak iparnya. Ia harus bekerja keras pada keluarganya untuk menjelaskan semuanya.Dimas bolak balik menelepon Alisa untuk mendengarkan penjelasan darinya, tetapi telepon dimatikan.


“Kamu tega menghancurkan hidupku Alisa, apa salah ku padamu?” ucapnya dengan tangisan tanpa suara. Hidup lelaki yang profesi sebagai abdi negara itu benar-benar hancur.


Apakah ia bisa memaafkan  perbuatan Alisa?


Lalu bagaimana dengan kekasihnya yang ia tinggalkan?


Mampukah Alisa menjalankan  tugasnya untuk menjaga dan menjadi seorang ibu yang baik untuk keponakannya. Lalu apakah kakak iparnya dapat menerimanya sebagai istri?


                                                                                        Bersambung.

__ADS_1


Ikuti terus ceritaku ini ya kakak,mudah mudahan kakak pada suka.


Terima kasih


__ADS_2