
“Ibu, beberapa bulan lalu ibu juga mengatakan itu, saat aku menikah dengan Farel, tetapi saat ini ibu juga melakukan hal yang sama pada pria lain,” ujar Alisa menatap ibu dengan raut wajah kecewa.
“Jangan paksa aku menikah dengannya Bu, aku tidak akan mau menikah dengan pria sombong itu,” ujar Alisa.
“Alisa, jangan lupakan kalau ia yang membantu kakakmu selama ini,” ujar ibu Alisa.
“Ibu cukup iya, saat ini aku masih status istri Farel”
“Tetapi lelaki itu sudah menalakmu, itu artinya sudah menceraikan mu secara agama.”
“Dia belum mengucapkan tiga kali Bu.”
“Apa kamu ingin kembali padanya Nak, setelah apa yang sudah ia lakukan padamu?”
“Ibu, biarkan Alisa berpikir,’ ujar ayah Alisa, ia membujuk suaminya.
“Sa, Ibu hanya tidak ingin kamu menderita dan tidak ingin kamu menderita lagi,” ujar Ibu Alisa.
Wanita itu mendukung putrinya menikah dengan Faisal. Tetapi Alisa bersikap tenang, ia tidak ingin melihat orang tuanya cemas.
Alisa tidak menjawab hanya diam, ia tidak memungkiri selama bersama ia memang menderita, tetapi bukan berarti Faisal pilihan yang pertama.
‘Lelaki itu tidak ada dalam daftar ku ibu, masih ada Dimas lelaki yang aku cintai’ ucap Alisa dalam hati.
*
Saat semua keluarga meminta mendukung Alisa untuk bercerai, tetapi Alisa justru punya pemikiran lain, saat pagi tiba, Alisa datang ke kantor polisi.
Farel kaget saat ia kedatangan tamu istrinya, tidak seperti tahanan lain yang dikasih waktu bertamu di ruang khusus. Tetapi kali ini, Alisa bahkan bisa masuk ke kamar yang di tempati Farel.
“Alisa …?” Farel kaget saat melihat Alisa.
Dengan sikap buru-buru ia membersihkan kamar dan merapikan buku-buku yang ia baca, ruangan yang di tempati Farel sangat istimewa.
Namanya saja masuk penjara, nyatanya ia menghuni satu kamar yang mendapat fasilitas televisi, pendingin ruangan, tempat memasak nasi dan memasak air, ranjang dan sebuah meja.
‘Syukurlah, dia tidak sengsara seperti yang aku pikirkan’ ucap Alisa dalam hati.
“Bagaimana kabarmu Mas?” tanya Alisa meletakkan rantang di atas meja.
“Iya baik.”
“Kenapa kamu datang ke tempat seperti ini?”
“Aku hanya ingin menjenguk mu,” ujar Alisa, hubungan keduanya sangat canggung.
Farel yang irit bicara, dan Alisa yang selalu menjaga sikap setiap kali bicara dengan orang membuat suasananya jadi saling sungkan.
__ADS_1
“Bagaimana kabar mereka?” tanya Farel dengan wajah menunduk, ia bertanya tetapi wajahnya tidak berani menatap Alisa. Namun, ia tidak berani menatap wajah istrinya.
Siapa?” tanya Alisa ingin memperjelas pertanyaan suaminya.
“Si kembar?’
“Oh, mereka baik, apa Mas sudah makan?”
“Sudah.”
“Padahal aku memasak dari rumah, agar kita makan bersama,” ujar Alisa, tetapi, bola mata Farel memutar kaget mendengar Alisa memasak untuknya.
“Mari kita makan lagi kalau kamu membawa dari rumah.” Farel mengeluarkan piring bersih dari laci meja.
Menarik beberapa tisu lalu mengusapnya sampai bersih, seakan-akan ia ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya.
Alisa mengeluarkan makanan dari bag lalu ia membuka rak rantang itu satu persatu, menyiapkan di atas meja, Alisa juga membawa nasi yang masih panas, semua makanan kesukaan Farel, ikan yang dimasak asam pedas dan lalapan mentah dan sambal terasi.
Farel makan dengan lahap, seakan-akan ia sudah satu minggu tidak makan.
Saat melihatnya makan dengan sangat lahap ada bagian di dalam hati Alisa yang terasa sakit, saat melihat suaminya makan seperti orang yang kelaparan.
“Apa mas membutuhkan sesuatu di sini?” tanya Alisa, tiba-tiba rasa marah pada Farel sirna begitu saja, saat melihat wajah Farel yang terlihat pucat.
Ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam otak Alisa tentang keadaan Farel.
Ia malah bertanya tentang ha yang lain
Farel, diam, ia menghentikan tangannya dan berkata;
“Jangan hiraukan aku di sini, urus saja mereka dengan baik.”
“Apa kamu tidak ingin aku melakukan sesuatu untukmu?”
“Tidak.”
“Apa perlengkapan mu masih ada?”
“Ada.”
Padahal saat Alisa melihat kondisi kamar itu, Farel sepertinya tidak mempedulikan dirinya, ia bahkan memakan jatah makan yang di berikan dari penjara, padahal atasannya sudah menawarkan agar Farel memesan makanan dari luar penjara.
Tetapi pria bertubuh tegap itu seakan-akan putus asa, ia tidak mau.
Alisa masuk ke kamar mandi, kondisinya sangat memprihatinkan, perlengkapan mandi di kamar mandi sudah habis.
‘Kenapa Farel tidak melengkapi semuanya, bagaimana dengan makanannya, bagaimana dengan kesehatannya?’ Alisa merasa kasihan pada Farel.
__ADS_1
Di sisi lain Farel tidak justru tidak ingin ia dianggap lemah apalagi dikasihani.
“Apa kamu membutuhkan perlengkapan mandi?” tanya Alisa membereskan rantang setelah Farel selesai makan.
“Tidak usah.”
“Kenapa, bagaimana kamu mandi?” ia bertanya dengan tangan terarah menyodorkan gelas ke bawah pancuran dispenser, tetapi airnya kosong.
“Loh … ini kosong? Bagaimana kamu minum?” tanya wanita itu panik.
“Itu ada air di kamar mandi.”
“Haaa …? Mas yang ada nanti kamu sakit? Kenapa tidak meminta pada petugas!”
“Alisa, pulanglah, tempatmu bukan di sini, tempat kamu di rumah, ini penjara tempat orang penjahat seperti aku,” ujar Farel.
“Mas, aku istrimu, katakan apa yang perlu aku lakukan?”
“Alah ... tidak usah berpura-pura baik denganku Lisa, kamu datang ke sini sengaja melihat kondisi ku kan, lalu kamu akan tertawa puas setelah melihat ku, lalu kamu akan memberitahukannya pada Faisal, kan”
Wajah Farel terlihat sangat terluka saat mengatakan seperti itu, Alisa baru ingat kalau Farel punya musuh di kantor polisi, ada banyak rekan kerja yang tidak menyukai Farel sengaja membuat Farel sengsara.
“Tidak boleh seperti ini, aku harus bertemu dengan kepala sipirnya.”
Alisa meminta pada petugas lapas untuk membawanya keluar.
“Kamu mau apa Sa?”
“Mas tidak boleh seperti ini.”
“Apa maksudnya? Jangan ikut campur Sa, ini urusan saya.”
“Urusan Mas, jadi urusan saya karena aku istrimu.”
“Jangan macam-macam Sa, kamu akan membuatku malu jika meminta bantuan rekan polisi. Mereka akan meledekku nanti.”
“Mas, aku tidak akan membiarkan kamu menderita di sini, hanya karena rekan kerja yang tidak menyukaimu.”
“Sa … tolong hentikan,” ujar Farel.
Tetapi Alisa tidak mau, ia menemui mantan atasan Farel, pura-pura atau jujur, lelaki itu juga kaget saat tahu apa yang dialami Farel.
Ia diperlakukan buruk, kamar Farel tidak ada air minum remote Ace dan remote televisi tidak ada.
Bersambung ...
Bantu like dan komen di setiap babnya ya kakak,minta kritikan dan masukannya
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca karya saya,semoga kakak suka dan terhibur dengan karya saya,baca juga karya saya yang lain ya kak.