
Dimas dan Alisa sama-sama dua insan yang belum berpengalaman tentang cara dan gaya ranjang, Dimas lelaki yang punya prinsip akan memberikan ke perkasaannya pada wanita yang tepat. Alisa juga ini untuk pertama kali untuknya.
“Apa benar-benar sakit?” bisik Alisa saat Dimas menuntunnya untuk berbaring diatas ranjang yang bertabur kelopak bung berwarna merah tersebut.
Kamar dekorasi hasil kerjaan Farida adik dan bundanya, walau Dimas menentang dan menyebutnya norak, tetapi tidak untuk Alisa ia justru memuji, bahkan ia merasa sangat senang dapat pengantin yang di taburi bunga dan di nyalakan lilin aroma terapi.
“Kita akan melakukannya dengan pelan-pelan sayang,” ujar Dimas menahan bagian intinya yang sudah mulai mengeras, ia tidak mau Alisa terkejut saat melihat ukurannya.
Badan Dimas tinggi besar dan badannya juga kekar, karena sebelumnya Farida sudah menakut-nakuti Alisa dengan menyebut senjata milik abangnya sebesar dan sepanjang lengannya.
wWlau itu hanya bercandaan Farida. Namun, Alisa jadi takut dan matanya selalu menatap ke bagian senjata sang suami.
‘Apa benar senjata milik Dimas sebesar lengan? Ah bisa teriak ketakutan kalau benar sebesar itu’ Ucap Alisa dalam hati.
Dimas dengan hati-hati melepaskan piyama milik Alisa hingga matanya terkagum dengan keindahan tubuh milik istrinya, walau tertutup di balik kain transparan itu tetapi tidak mengurangi keindahan bukit sintal tersebut.
“Mas … aku belum pernah melakukannya,” ujar Alisa memberi pengakuan, berharap Dimas melakukan dengan hati-hati.
Dimas terdiam. Ia tidak mau salah menjawab kalau dia jawab sudah tau’ takut Alisa salah paham dan tau kalau Farel sudah cerita.
“Lalu bagaimana ?”
“Ini malam pertamaku … baru dengan kamu”
“Baiklah, aku akan melakukannya dengan ….”
“Apa kamu punya baby oil?” tanya Alisa.
“Tunggu aku akan ambil di laci depan, ia memakai pakaiannya dan berjalan ke depan televisi.
Ia terkejut ternyata ayah dan Bundanya belum tidur.
‘Oh, astaga bunda sama ayah masih nonton”
“Cari apa Dim?” tanya Bu Yani.
“Itu Bun, obat …”
“Obat nyamuk …? memang lagi banyak nyamuk, pakai cream nyamuk saja”
“Bukan minyak …”
“Gosok? Ini nih, lagi di pakai ayah, tadi kakinya juga pegal,” ujar bundanya.
Ayah dan bunda Dimas tidak tahu kalau itu malam pertama untuk pertama mereka, kedua orang tua itu berpikir kalau keduanya sudah menikah beberapa bulan lalu dan sudah pasti melakukannya di rumah mereka.
“Tidak usah, ini saja,” ujar Dimas membawa minyak urut.
Mendengar ada suara ribut-ribut Farida juga turun dari lantai atas.
“kenapa Bun?”
“Tidak tau si Dimas, tadi katanya ia mencari minyak, tapi di kasih minyak gosok malah-”
“Bun dia cari pelumas,” bisik Farida.
__ADS_1
“Memang motor siapa yang rusak harus pakai pelumas?”
“Astaga Buuun! Masa tidak tau”
“Ya, Bunda tidak tau, bunda taunya pelumas untuk motor dan mesin mobil, yah tau gak pelumas untuk apa?’
“Astaga.” Farida langsung menepuk jidatnya.
“Pelumas untuk mobil tapi ….” Ayah Dimas menatap mereka berdua bergantian, akhirnya ia paham apa yang dimaksud Farida.
“Uda itu nyari ini Bun, baby oil untuk pelumas”
“Apa maksudmu mereka berdua-”
“Ya. Mbak Alisa bilang padaku dia belum pernah melakukannya sama suaminya yang pertama”
“Masa sih”
Bu Yani berjalan pelan ke pintu kamar Dimas dan Alisa dan akhirnya mereka bertiga menguping
malam pertama anak dan menantunya, dari dalam kamar Alisa terdengar kesal karena Dimas membawa minyak gosok untuk pelumas bukannya babyoil.
“Ya aku tidak tau …”
“Mas yang kamu bawa itu minyak gosok, itu panas, kalau kamu olesin nanti yang ada kamu menjerit kepanasan,” ujar Alisa .
“Ada bunda sama ayah sayang di ruang depan, sudah, kita lakukan pelan-pelan, sini aku akan meletakkan bantal di bawah panggul kamu,” ujar Dimas, suara mereka terdengar keluar.
“Pelan-pelan itu sakit …,” rintih Alisa lagi.
“Ini sudah pelan sayang diamlah, aku butuh konsentrasi.” Dimas menyeka keringat yang membanjiri dahinya.
“Alisa aku belum berpengalaman sama seperti kamu juga , jadi, cobalah untuk tenang,’ ujar Dimas.
Saat Bu Yani dan Farida mengupiung di belakang pintu, ayah Dimas datang dari belakang.
“Bunda lagi ngapain menguping”
“Sttt … aku tu greget sama anakmu, masa melakukan itu juga tidak bisa, harusnya ayah tuh ngajarin,” ujar Bu Yani menarik tangan suami menjauh dari pintu kamar Dimas.
“Bunda ada-ada saja, biarkan saja menyelesaikan sendiri, masa masalah urusan ranjang juga harus diajarin,” rutuk suaminya ia masuk ke kamar mereka.
Saat Farida dan Bu Yani masih berdiri di sana.
“AAA Sakit, lakukan pelan-pelan.”Alisa setengah berteriak
“Tenanglah sayang itu saja hanya sebentar”
“Aaah … sakit sekali Mas, perih!”
“Berhenti berteriak Alisa nanti Bunda bangun,” ujar Dimas mengingatkan istrinya.
Setelah perjuangan keras akhirnya Dimas berhasil menembus benteng pertahanan istrinya.
Setelah Dimas berhasil Farida dan Bu Yani tersenyum, lalu mereka masuk ke kamar masing-masing.
__ADS_1
*
Saat bangun pagi Alisa masih merasakan bagian sensitifnya sakit dan perih, bahkan ia merasa tubuhnya panas dingin karena menahan rasa perih saat pertama kalinya ia ke kamar mandi, ia sampai meringis menahan sakit.
“Kenapa Sa? Apa masih sakit?”
“Sakit”
Saat keluar dari kamar mandi suara notip pesan dari ponsel Alisa.
Ia mengusap layarnya dan pesan masuk tersebut membuatnya melongo.
[Mbak Alisa … suara teriakan mba, membangunkan kami semua] Isi pesan Farida.
“Astagfillahajim. Apa benar begitu Mas?”
“Apa?” Tanya Dimas menatap wajah merona istrinya.
“Apa tadi malam aku berteriak keras?”
“Sepertinya sih begitu,” sahut Dimas.
“Astaga itu memalukan, aku tidak mau keluar kamar”
Dimas terkekeh melihat wajah Alisa merah karena menahan malu.
“Tidak apa-apa sayang, bunda pasti mengerti”
“Aduh, mengerti bagaimana sih Mas. Kamu keluar saja duluan kalau bunda tanya, bilang saja aku kurang enak badan,” ujar Alisa.
“Baiklah, kalau istriku maunya seperti itu,” ucap Dimas menahan tawa.
Tetapi apa yang dirasakan Alisa kedua orang tua Dimas mengerti, mereka bertiga sengaja pergi jalan-jalan agar Alisa mau keluar dari kamar.
“Da, aku sama Bunda, sama ayah mau pergi dulu ya,”ujar Farida menahan tawa.
“Baiklah,” sahut Dimas dari kamar.
Setelah keluarganya keluar barulah Alisa keluar dari kamar mereka.
“Kok, jalannya ngangkang begitu?” Tanya Dimas.
“Masih sakit”
“Apa perlu kita ke dokter?”
“Masa, karena malam pertama ke dokter sih mas yang ada diketawain sama dokternya”
“Lalu bagaimana?”
“Kita pulang ke rumah kita, di sana aku bisa bebas mau istirahat mau tiduran bisa, di sini, ku malu karena tadi malam,” ujar Alisa.
“Ya sudah, kamu serapan dulu, aku bereskan barang-barang kita ke dalam mobil”
Setelah mengadakan resepsi pernikahan, Dimas dan Alisa hanya menginap satu hari di rumah keluarga Dimas, besok pagi Alisa sudah mengajak pulang.
__ADS_1
Kini Alisa sudah saha jadi milik Dimas wanita cantik itu sudah menerima Dimas sebagai suaminya dan berusaha melupakan masa lalu.
Bersambung